Menuju Musda Demokrat Maluku: Mengapa Harus Hanubun?
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MUSYAWARAH Daerah Partai Demokrat Maluku yang segera digelar bukan sekadar agenda rutin organisasi. Di balik forum lima tahunan itu, ada pertanyaan penting yang sedang menunggu jawaban: siapa figur yang mampu membawa Demokrat Maluku memasuki babak baru dengan energi politik yang lebih kuat, solid, dan berorientasi pada kepentingan rakyat?
Dari sejumlah nama yang mulai disebut-sebut dalam bursa calon Ketua DPD Demokrat Maluku, Muhamad Thaher Hanubun patut ditempatkan sebagai salah satu figur yang paling serius diperhitungkan. Hanubun bukan nama yang lahir kemarin sore dalam panggung politik Maluku.
Ia telah melewati pengalaman panjang sebagai pemimpin daerah dan telah dipercaya masyarakat Maluku Tenggara untuk memimpin selama dua periode. Pengalaman tersebut merupakan modal politik sekaligus modal kepemimpinan yang tidak semua kandidat memiliki.
Seorang ketua partai di tingkat provinsi membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengelola organisasi. Ia harus mampu membaca peta politik, memahami karakter masyarakat Maluku yang beragam, membangun komunikasi dengan kader, merawat hubungan antardaerah, sekaligus memiliki keberanian mengambil keputusan ketika partai menghadapi persoalan. Di titik inilah Hanubun memiliki keunggulan.

Dua periode memimpin Maluku Tenggara telah memberikan pengalaman langsung bagaimana sebuah pemerintahan bekerja, bagaimana aspirasi masyarakat harus dijawab, dan bagaimana membangun komunikasi dengan berbagai kelompok.
Pengalaman tersebut tentu dapat menjadi bekal berharga untuk memimpin sebuah partai politik sebesar Demokrat di tingkat provinsi. Lebih dari itu, Maluku membutuhkan kepemimpinan partai yang tidak terjebak pada kepentingan satu wilayah. Maluku adalah kepulauan. Setiap kabupaten memiliki karakter, persoalan dan kekuatan politik yang berbeda.
Karena itu, Ketua DPD Demokrat Maluku ke depan harus mampu menjadi jembatan yang menyatukan seluruh kader, dari Buru sampai Maluku Tenggara, dari Maluku Barat Daya sampai Kepulauan Aru, dari Seram hingga Kota Ambon dan Tual.
Hanubun, dengan pengalaman sebagai kepala daerah di wilayah kepulauan, memiliki pengalaman sosial-politik yang relevan untuk tugas tersebut. Karena itu, apabila dalam Musda nanti muncul banyak nama, hal itu harus dipandang sebagai sesuatu yang sehat.

Bupati Maluku Tenggara M.Thaher Hanubun saat menyampaikan pidato di HUT ke 73 Kabupaten Maluku Tenggara. (dok.ist)
Kompetisi adalah bagian dari demokrasi internal partai. Namun, pada akhirnya, Demokrat membutuhkan figur yang bukan hanya populer, melainkan teruji. Figur yang bukan hanya mampu berbicara tentang kemenangan politik, tetapi memahami bagaimana kemenangan itu dibangun dari bawah.
Figur yang mampu merangkul kader, bukan memecah kader. Figur yang dapat berdiri di tengah ketika terjadi perbedaan. Dan yang paling penting, figur yang mampu mengembalikan partai politik kepada hakikatnya: memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Dalam konteks itu, Hanubun memiliki alasan kuat untuk diperhitungkan. Apalagi, Demokrat Maluku membutuhkan energi baru setelah Elwen Roy Pattiasina menyatakan tidak lagi mencalonkan diri sebagai Ketua DPD. Roy pernah menyebut bahwa pada 2026 dirinya tidak lagi maju dan berharap muncul kader yang mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan Demokrat Maluku.
Maka Musda kali ini sesungguhnya adalah momentum regenerasi. Dan regenerasi tidak selalu berarti mencari wajah yang paling muda. Regenerasi dapat berarti menghadirkan pengalaman baru, perspektif baru, cara komunikasi baru dan energi baru untuk membesarkan partai.
Hanubun dapat menjadi bagian dari jawaban itu. Bukan karena ia seorang bupati semata. Bukan pula semata karena dua periode memimpin Maluku Tenggara. Tetapi karena pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ia telah melewati proses politik yang panjang dan memiliki pengalaman mengelola pemerintahan serta berhadapan langsung dengan dinamika masyarakat. Tentu keputusan akhir tetap berada dalam mekanisme dan aturan organisasi Partai Demokrat. Dukungan DPC, proses penjaringan, mekanisme Musda hingga keputusan DPP adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan seorang kandidat menuju kursi Ketua DPD.
Namun dari perspektif kebutuhan Demokrat Maluku hari ini, Hanubun layak diberi ruang untuk tampil. Demokrat tidak boleh sekadar mencari siapa yang paling kuat dalam Musda. Demokrat harus mencari siapa yang paling mampu membuat partai menjadi kuat setelah Musda selesai. Itulah ukuran kepemimpinan yang sesungguhnya.
Sebab kemenangan dalam Musda hanya berlangsung satu hari. Tetapi tanggung jawab memimpin partai berlangsung bertahun-tahun.
Maluku membutuhkan Demokrat yang lebih solid. Demokrat yang hadir di tengah masyarakat. Demokrat yang mampu melahirkan kader-kader baru. Demokrat yang tidak hanya sibuk menghitung suara menjelang pemilu, tetapi bekerja sepanjang waktu untuk memperjuangkan aspirasi rakyat. Dan untuk pekerjaan besar itu, Muhamad Thaher Hanubun pantas dipertimbangkan secara serius.
Jika para pemilik suara Demokrat Maluku mencari sosok yang telah teruji dalam kepemimpinan, memahami karakter masyarakat kepulauan, memiliki pengalaman politik dan pemerintahan, serta mempunyai kapasitas untuk membawa partai memasuki babak baru, maka nama Hanubun sulit untuk diabaikan.
Musda bukan sekadar memilih seorang ketua. Musda adalah memilih arah perjalanan Demokrat Maluku. Dan mungkin, di antara sejumlah nama yang akan menghiasi bursa pertarungan, Hanubun adalah salah satu sosok yang paling layak diberi kesempatan untuk memegang kemudi Demokrat Maluku menuju masa depan.(*)

- Penulis: Editor

Saat ini belum ada komentar