Rabu, 29 Apr 2026
light_mode

Curhat Salah Orang: Ketika Self-Disclosure Membuka Jalan Perselingkuhan

  • calendar_month Jum, 9 Jan 2026
  • visibility 378
  • comment 0 komentar

Penulis: Kelly Ayu Anggraeni
Program Studi Magister Ilmu Komunikasi-Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta

 

Perselingkuhan saat ini sudah tidak lagi dimulai dari niat jahat atau sesuatu pertemuan yang direncanakan. Perselingkuhan tetap senyap, perlahan, nyaris tak terasa, mulai dari percakapan yang pada awalnya tampak biasa dan sah, dari curhat yang dibenarkan oleh kelelahan hidup. Dari pesan singkat yang dibalas karena “sekadar sopan”. Dari direct message yang berlanjut karena ada yang mau mendengar. Tidak ada “kamar hotel”, tidak ada “janji temu”. Yang ada hanya layar, kata-kata, dan rasa aman karena tak ada saksi.

Di ruang privat digital itu, batas relasi tidak runtuh sekaligus, namun perlahan bergeser, Setiap pesan malam hari terasa wajar. Setiap cerita pribadi terasa perlu. Hingga suatu hari, keintiman sudah berpindah tangan, sementara pengkhianatan belum pernah diucapkan. Perselingkuhan pun terjadi bukan sebagai pelanggaran yang disadari, melainkan sebagai kebiasaan emosional yang dibiarkan terus tumbuh,tanpa niat awal, tanpa kesadaran penuh, tanpa keberanian untuk berhenti.

Di ruang digital, keterbukaan tidak lagi menuntut keberanian untuk saling menatap, cukup hadir lewat layar, melalui kata-kata yang dibagikan perlahan, ada berupa luka yang diceritakan setengah sadar, dan penuh emosional yang akhirnya menemukan telinga baru, Di ruang digital, tidak mengharuskan ada sentuhan, tidak ada janji. Hanya percakapan yang terus berulang, sampai kejujuran terasa lebih nyaman diberikan di luar relasi yang seharusnya dijaga.

Perselingkuhan emosional kerap berangkat bukan dari hasrat, melainkan dari rasa dimengerti. Bukan lagi dari rencana, tetapi dari kelelahan yang diceritakan kepada orang yang salah. Dari curhat yang berpindah tangan, lalu menetap di ruang yang seharusnya bukan miliknya. Di titik inilah keterbukaan diri yang selama ini dipuja sebagai tanda kedewasaan emosional, perlahan berubah menjadi celah pengkhianatan yang nyaris tak pernah disadari sebagai pengkhianatan.

Fenomena ini sejatinya bukan semata soal moral yang runtuh atau komitmen yang melemah, melainkan persoalan komunikasi, dimana keterbukaan bekerja, ke mana sebuah percakapan diarahkan, dan bagaimana emosi perlahan berpindah tanpa pernah diumumkan. Dalam kajian komunikasi kontemporer, keterbukaan diri tidak pernah dipahami sebagai tindakan netral, namun selalu membawa konsekuensi relasional, yakni: mendekatkan, mengikat, dan dalam situasi tertentu, menggeser loyalitas emosional dari satu relasi ke relasi lain.

Dalam literatur mutakhir, self-disclosure dipahami sebagai proses ketika individu membagikan informasi personal, baik itu melalui pikiran, perasaan, hingga pengalaman emosional, hal tersebut dimaksudkan untuk membangun kedekatan dan memperoleh pemahaman dari pihak lain, keterbukaan, dengan demikian, bukan sekadar kejujuran spontan, melainkan praktik sosial yang membentuk struktur hubungan, dimana setiap cerita pribadi yang dibagikan tidak hanya membuka diri, tetapi juga sedang menanamkan posisi emosional dalam relasi tersebut (Greene & Burleson, 2023).

Penelitian terbaru dalam komunikasi interpersonal menegaskan bahwa keintiman tumbuh seiring meningkatnya kedalaman self-disclosure, terutama ketika keterbukaan menyentuh ranah emosi, luka personal, dan konflik relasional, dalam hal ini semakin personal isi keterbukaan, maka semakin kuat ikatan emosional yang terbentuk, bahkan ketika relasi itu tidak memiliki status resmi atau legitimasi sosial, daalam logika komunikasi, keintiman tidak setia pada label hubungan, melainkan pada intensitas keterbukaan (Ledbetter & Wright, 2024).

Masalah muncul ketika keterbukaan emosional yang seharusnya memperdalam relasi utama justru dialihkan ke pihak lain., paada titik ini, keintiman tidak berpindah karena niat mengganti pasangan, melainkan karena emosi mengikuti alur komunikasi yang paling sering dan paling dalam dibuka, hal demikian telah dibuktikan riset yang menunjukkan bahwa self-disclosure yang berulang kepada orang yang sama secara signifikan meningkatkan kedekatan emosional, terlepas dari apakah hubungan tersebut dimaksudkan sebagai relasi romantis atau tidak (Vaterlaus, Beckert, & Jones, 2023).

Lebih jauh, keterbukaan diri bekerja secara resiprokal, di mana self-disclosure hampir selalu mengundang balasan keterbukaan, menciptakan siklus kedekatan emosional yang semakin cepat dan semakin intens sehingga muncul rasa “saling memahami” yang kerap disalahartikan sebagai koneksi istimewa, padahal ia adalah konsekuensi alamiah dari pertukaran emosi yang terus berulang (Zhang & Dailey, 2024).

Dalam ruang digital, proses ini berlangsung jauh lebih cepat dan minim hambatan. Penelitian komunikasi digital menunjukkan bahwa interaksi berbasis pesan instan mendorong individu membuka emosi lebih dalam dibandingkan komunikasi tatap muka, karena layar memberi rasa aman, kendali, dan jarak semu, namun keintiman yang tumbuh di ruang ini sering kali tidak disertai kesadaran batas, karena komunikasi kemudian berkembang dalam percakapan privat yang nyaris tanpa saksi (Kircaburun,et,al, 2024).

Di titik inilah self-disclosure berubah dari jembatan keintiman menjadi lorong sunyi pengkhianatan, bukan karena keterbukaan itu keliru, tetapi karena komunikasi sudah ditempatkan pada ruang yang salah, sehingga menimbulkan perselingkuhan yang penuh emosional, yang ditimbulkan akibat hasil dari keterbukaan emosional yang dibiarkan mengalir tanpa kendali, hingga suatu hari, keintiman telah berpindah, sementara komitmen tak pernah diajak bicara (McDaniel & Drouin, 2023).

Dalam hubungan romantis, pasangan seharusnya menjadi ruang utama self-disclosure, ruang yang paling sah untuk bercerita tanpa takut dihakimi, emosi dibagi, konflik dibicarakan, dan kelelahan mental dipulihkan, namun pada kenyataannya, dalam hubungan dengan pasangan tidak selalu seideal teori. Dalam hal ini ada pasangan yang sibuk, ada pula yang defensive, ada yang lelah lebih dulu sebelum sempat mendengar, ada pula yang hadir secara fisik, tetapi absen secara emosional, akbibat hal tersebut, menimbulkan celah dimana keterbukaan mulai mencari jalan lain.

Ketika seseorang merasa tidak didengar, maka sesorang tersebut mulai memendekkan ceritanya. Ketika merasa tidak dipahami, maka akan berhenti menjelaskan. Dan ketika konflik yang sama terus berulang tanpa penyelesaian, curhat berubah menjadi kelelahan. Pada titik ini, seseorang tidak sedang mencari selingkuhan, melainkan berusaha mencari tempat bernapas.

Awalnya nyaris tak terasa, berawal dari keluhan ringan pada rekan kerja setelah jam kantor, berisi chat percakapan singkat dengan teman lama yang “kebetulan” menanyakan kabar. Atau obrolan daring dengan orang asing yang tidak punya sejarah konflik. Tidak ada rahasia besar, hanya cerita kecil yang dibiarkan mengalir.

Namun dari situlah arah mulai bergeser, awalnya hanya berupa pesan singkat, perlahan menjadi lebih panjang, waktu bercerita menjadi lebih larut, masalah yang seharusnya dibicarakan di rumah justru lebih dulu diketik di layar ponsel, semua menjadi bukan sekadar cerita, melainkan fungsi emosional pasangan yang telah menemukan tempat untuk didengar, dimengerti, dan merasa aman.

Sehingga pada titik inilah “curhat” berhenti menjadi “aktivitas netral”. Seseorang mulai menunggu balasan dari orang lain, bukan dari pasangannya. Mulai merasa lebih tenang setelah berbicara dengan “teman curhat”, bukan setelah berdiskusi di rumah. Bahkan mulai menyaring cerita, diman cerita ringan diberikan untuk pasangan, sedangkan yang emosional untuk orang lain. Tanpa disadari, keintiman telah berpindah tangan.

Kondisi inilah yang dalam kajian relasi disebut sebagai emotional infidelity, yaitu: keterlibatan emosional di luar hubungan utama yang melanggar eksklusivitas hubungan, meskipun tidak melibatkan sentuhan fisik, tidak memiliki tanda-tanda dramatis seperti perselingkuhan klasik, bahkan Tidak ada hotel, tidak ada janji temu, yang ada hanyalah percakapan yang intens. Justru karena itu, perselingkuhan emosional kerap dianggap “tidak apa-apa”. Tidak terlihat. Tidak disaksikan. Tidak bisa ditunjuk sebagai kesalahan yang kasat mata. Keberlangsungan yang sunyi, rapi, dan sering kali dibungkus dengan justifikasi: “sekadar curhat”, “cuma teman”, “tidak ada apa-apa”. Padahal yang sering luput disadari adalah hubungan tidak rusak karena tubuh yang berpindah, melainkan karena emosi yang lebih dulu pergi, ketika curhat telah berpindah arah, hubungan mungkin masih utuh secara status. tetapi sesungguhnya sudah retak secara keintiman.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ciptakan Lingkungan Ramah Anak,  Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel,  Raih Penghargaan Nasional

    Ciptakan Lingkungan Ramah Anak, Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, Raih Penghargaan Nasional

    • calendar_month Sab, 24 Jan 2026
    • visibility 188
    • 0Komentar

      BALI.- DEMAL ; Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, terpilih sebagai penerima penghargaan Nasional di ajang “Indonesia Innovation Excellence Award 2026” dengan kategori penghargaan untuk Kabupaten yang berhasil menciptakan lingkungan ramah terhadap anak. Kegiatan pemberian penghargaan di ajang Indonesia Innovation Excellence Award 2026 dengan tema “Wujudkan Asta Cita, Menuju Indonesia EMAS 2045” yang dipersebahkan ONE […]

  • Belum Setahun Menjabat, Bupati Datangkan Investor Jepang ke Kepulauan Aru

    Belum Setahun Menjabat, Bupati Datangkan Investor Jepang ke Kepulauan Aru

    • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
    • visibility 35
    • 0Komentar

    DOBO.-DEMAL ; Belum genap satu tahun menjabat sebagai kepala daerah, Bupati Kepulauan Aru, Tomatius Kaidel langsung tancap gas, menunjukkan kinerja nyata melalui langkah strategis dengan mendatangkan investor asal Jepang ke wilayah tersebut, Sabtu 31 Januari 2026. Kehadiran investor asing ini dinilai sebagai bukti keseriusan kepemimpinan Tomatius dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta membuka peluang investasi […]

  • Ini Perusahaan “Penerima” Kelebihan Bayar Proyek BPJN Maluku

    Ini Perusahaan “Penerima” Kelebihan Bayar Proyek BPJN Maluku

    • calendar_month Rab, 8 Okt 2025
    • visibility 333
    • 0Komentar

    AMBON.-DM ;Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menemukan kelebihan bayar di 21 paket proyek pada lingkup Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Maluku merupakan hasil analisa atas belanja fisik tahun anggaran 2022 dan semester I tahun anggaran 2023. Dalam laporan tersebut, BPK membagi dua skema penilaian yakni lebih bayar dan kurang bayar dengan […]

  • Pengobatan Gratis Ramaikan HUT Hari Kesatuan Gerak PKK ke-54

    Pengobatan Gratis Ramaikan HUT Hari Kesatuan Gerak PKK ke-54

    • calendar_month Jum, 27 Feb 2026
    • visibility 32
    • 0Komentar

    DOBO.-DEMAL; Wakil Bupati Kepulauan Aru, Mohamad Djumpa, menghadiri kegiatan kesehatan gratis dalam rangka menyongsong Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54, yang dipusatkan di Puskesmas Kelurahan Siwalima, Jumat 27 Februari 2026. Kehadiran Wabup Sejumlah merupakan bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Kegiatan ini menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial tahunan Tim […]

  • Pemkab Malra Bakal Jadikan Landmark Magnet Ekonomi dan Ruang Publik Warga

    Pemkab Malra Bakal Jadikan Landmark Magnet Ekonomi dan Ruang Publik Warga

    • calendar_month Jum, 3 Okt 2025
    • visibility 137
    • 0Komentar

    LANGGUR.-DEMAL; Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara berkomitmen menjadikan Taman Landmark Langgur tak hanya difungsikan sebagai simbol kota, tapi kawasan itu juga dijadikan ruang publik strategis dan ikon kebanggaan daerah. Ke depan akan dirancang menjadi pusat kegiatan seremonial, hiburan, serta penggerak ekonomi lokal. “Landmark ini salah satu ikon Maluku Tenggara, tetapi kadang belum dimanfaatkan dengan baik oleh […]

  • Kadis Disperindag Akui Pemutusan Kerjasama Tanpa Evaluasi, Arahan Wagub 

    Kadis Disperindag Akui Pemutusan Kerjasama Tanpa Evaluasi, Arahan Wagub 

    • calendar_month Sen, 23 Jun 2025
    • visibility 443
    • 0Komentar

    AMBON-DM : Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath diduga mulai menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan Gubernur Maluku kepadanya. Ini terlihat dari upayanya dalam menangani pedagang Pasar Mardika.  Sebagaimana pernyataan yang disampaikan Wagub pada laman facebook milik pemerintah Provinsi Maluku. Pada 14 Juni 2025. Gubernur telah memandatkan tugas penataan pedagang kepada Wagub. Akan tetapi bukan pedagang yang diatur, […]

expand_less