Minggu, 4 Okt 2026
light_mode

Curhat Salah Orang: Ketika Self-Disclosure Membuka Jalan Perselingkuhan

  • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
  • visibility 893
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Penulis: Kelly Ayu Anggraeni
Program Studi Magister Ilmu Komunikasi-Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta

 

Perselingkuhan saat ini sudah tidak lagi dimulai dari niat jahat atau sesuatu pertemuan yang direncanakan. Perselingkuhan tetap senyap, perlahan, nyaris tak terasa, mulai dari percakapan yang pada awalnya tampak biasa dan sah, dari curhat yang dibenarkan oleh kelelahan hidup. Dari pesan singkat yang dibalas karena “sekadar sopan”. Dari direct message yang berlanjut karena ada yang mau mendengar. Tidak ada “kamar hotel”, tidak ada “janji temu”. Yang ada hanya layar, kata-kata, dan rasa aman karena tak ada saksi.

Di ruang privat digital itu, batas relasi tidak runtuh sekaligus, namun perlahan bergeser, Setiap pesan malam hari terasa wajar. Setiap cerita pribadi terasa perlu. Hingga suatu hari, keintiman sudah berpindah tangan, sementara pengkhianatan belum pernah diucapkan. Perselingkuhan pun terjadi bukan sebagai pelanggaran yang disadari, melainkan sebagai kebiasaan emosional yang dibiarkan terus tumbuh,tanpa niat awal, tanpa kesadaran penuh, tanpa keberanian untuk berhenti.

Di ruang digital, keterbukaan tidak lagi menuntut keberanian untuk saling menatap, cukup hadir lewat layar, melalui kata-kata yang dibagikan perlahan, ada berupa luka yang diceritakan setengah sadar, dan penuh emosional yang akhirnya menemukan telinga baru, Di ruang digital, tidak mengharuskan ada sentuhan, tidak ada janji. Hanya percakapan yang terus berulang, sampai kejujuran terasa lebih nyaman diberikan di luar relasi yang seharusnya dijaga.

Perselingkuhan emosional kerap berangkat bukan dari hasrat, melainkan dari rasa dimengerti. Bukan lagi dari rencana, tetapi dari kelelahan yang diceritakan kepada orang yang salah. Dari curhat yang berpindah tangan, lalu menetap di ruang yang seharusnya bukan miliknya. Di titik inilah keterbukaan diri yang selama ini dipuja sebagai tanda kedewasaan emosional, perlahan berubah menjadi celah pengkhianatan yang nyaris tak pernah disadari sebagai pengkhianatan.

Fenomena ini sejatinya bukan semata soal moral yang runtuh atau komitmen yang melemah, melainkan persoalan komunikasi, dimana keterbukaan bekerja, ke mana sebuah percakapan diarahkan, dan bagaimana emosi perlahan berpindah tanpa pernah diumumkan. Dalam kajian komunikasi kontemporer, keterbukaan diri tidak pernah dipahami sebagai tindakan netral, namun selalu membawa konsekuensi relasional, yakni: mendekatkan, mengikat, dan dalam situasi tertentu, menggeser loyalitas emosional dari satu relasi ke relasi lain.

Dalam literatur mutakhir, self-disclosure dipahami sebagai proses ketika individu membagikan informasi personal, baik itu melalui pikiran, perasaan, hingga pengalaman emosional, hal tersebut dimaksudkan untuk membangun kedekatan dan memperoleh pemahaman dari pihak lain, keterbukaan, dengan demikian, bukan sekadar kejujuran spontan, melainkan praktik sosial yang membentuk struktur hubungan, dimana setiap cerita pribadi yang dibagikan tidak hanya membuka diri, tetapi juga sedang menanamkan posisi emosional dalam relasi tersebut (Greene & Burleson, 2023).

Penelitian terbaru dalam komunikasi interpersonal menegaskan bahwa keintiman tumbuh seiring meningkatnya kedalaman self-disclosure, terutama ketika keterbukaan menyentuh ranah emosi, luka personal, dan konflik relasional, dalam hal ini semakin personal isi keterbukaan, maka semakin kuat ikatan emosional yang terbentuk, bahkan ketika relasi itu tidak memiliki status resmi atau legitimasi sosial, daalam logika komunikasi, keintiman tidak setia pada label hubungan, melainkan pada intensitas keterbukaan (Ledbetter & Wright, 2024).

Masalah muncul ketika keterbukaan emosional yang seharusnya memperdalam relasi utama justru dialihkan ke pihak lain., paada titik ini, keintiman tidak berpindah karena niat mengganti pasangan, melainkan karena emosi mengikuti alur komunikasi yang paling sering dan paling dalam dibuka, hal demikian telah dibuktikan riset yang menunjukkan bahwa self-disclosure yang berulang kepada orang yang sama secara signifikan meningkatkan kedekatan emosional, terlepas dari apakah hubungan tersebut dimaksudkan sebagai relasi romantis atau tidak (Vaterlaus, Beckert, & Jones, 2023).

Lebih jauh, keterbukaan diri bekerja secara resiprokal, di mana self-disclosure hampir selalu mengundang balasan keterbukaan, menciptakan siklus kedekatan emosional yang semakin cepat dan semakin intens sehingga muncul rasa “saling memahami” yang kerap disalahartikan sebagai koneksi istimewa, padahal ia adalah konsekuensi alamiah dari pertukaran emosi yang terus berulang (Zhang & Dailey, 2024).

Dalam ruang digital, proses ini berlangsung jauh lebih cepat dan minim hambatan. Penelitian komunikasi digital menunjukkan bahwa interaksi berbasis pesan instan mendorong individu membuka emosi lebih dalam dibandingkan komunikasi tatap muka, karena layar memberi rasa aman, kendali, dan jarak semu, namun keintiman yang tumbuh di ruang ini sering kali tidak disertai kesadaran batas, karena komunikasi kemudian berkembang dalam percakapan privat yang nyaris tanpa saksi (Kircaburun,et,al, 2024).

Di titik inilah self-disclosure berubah dari jembatan keintiman menjadi lorong sunyi pengkhianatan, bukan karena keterbukaan itu keliru, tetapi karena komunikasi sudah ditempatkan pada ruang yang salah, sehingga menimbulkan perselingkuhan yang penuh emosional, yang ditimbulkan akibat hasil dari keterbukaan emosional yang dibiarkan mengalir tanpa kendali, hingga suatu hari, keintiman telah berpindah, sementara komitmen tak pernah diajak bicara (McDaniel & Drouin, 2023).

Dalam hubungan romantis, pasangan seharusnya menjadi ruang utama self-disclosure, ruang yang paling sah untuk bercerita tanpa takut dihakimi, emosi dibagi, konflik dibicarakan, dan kelelahan mental dipulihkan, namun pada kenyataannya, dalam hubungan dengan pasangan tidak selalu seideal teori. Dalam hal ini ada pasangan yang sibuk, ada pula yang defensive, ada yang lelah lebih dulu sebelum sempat mendengar, ada pula yang hadir secara fisik, tetapi absen secara emosional, akbibat hal tersebut, menimbulkan celah dimana keterbukaan mulai mencari jalan lain.

Ketika seseorang merasa tidak didengar, maka sesorang tersebut mulai memendekkan ceritanya. Ketika merasa tidak dipahami, maka akan berhenti menjelaskan. Dan ketika konflik yang sama terus berulang tanpa penyelesaian, curhat berubah menjadi kelelahan. Pada titik ini, seseorang tidak sedang mencari selingkuhan, melainkan berusaha mencari tempat bernapas.

Awalnya nyaris tak terasa, berawal dari keluhan ringan pada rekan kerja setelah jam kantor, berisi chat percakapan singkat dengan teman lama yang “kebetulan” menanyakan kabar. Atau obrolan daring dengan orang asing yang tidak punya sejarah konflik. Tidak ada rahasia besar, hanya cerita kecil yang dibiarkan mengalir.

Namun dari situlah arah mulai bergeser, awalnya hanya berupa pesan singkat, perlahan menjadi lebih panjang, waktu bercerita menjadi lebih larut, masalah yang seharusnya dibicarakan di rumah justru lebih dulu diketik di layar ponsel, semua menjadi bukan sekadar cerita, melainkan fungsi emosional pasangan yang telah menemukan tempat untuk didengar, dimengerti, dan merasa aman.

Sehingga pada titik inilah “curhat” berhenti menjadi “aktivitas netral”. Seseorang mulai menunggu balasan dari orang lain, bukan dari pasangannya. Mulai merasa lebih tenang setelah berbicara dengan “teman curhat”, bukan setelah berdiskusi di rumah. Bahkan mulai menyaring cerita, diman cerita ringan diberikan untuk pasangan, sedangkan yang emosional untuk orang lain. Tanpa disadari, keintiman telah berpindah tangan.

Kondisi inilah yang dalam kajian relasi disebut sebagai emotional infidelity, yaitu: keterlibatan emosional di luar hubungan utama yang melanggar eksklusivitas hubungan, meskipun tidak melibatkan sentuhan fisik, tidak memiliki tanda-tanda dramatis seperti perselingkuhan klasik, bahkan Tidak ada hotel, tidak ada janji temu, yang ada hanyalah percakapan yang intens. Justru karena itu, perselingkuhan emosional kerap dianggap “tidak apa-apa”. Tidak terlihat. Tidak disaksikan. Tidak bisa ditunjuk sebagai kesalahan yang kasat mata. Keberlangsungan yang sunyi, rapi, dan sering kali dibungkus dengan justifikasi: “sekadar curhat”, “cuma teman”, “tidak ada apa-apa”. Padahal yang sering luput disadari adalah hubungan tidak rusak karena tubuh yang berpindah, melainkan karena emosi yang lebih dulu pergi, ketika curhat telah berpindah arah, hubungan mungkin masih utuh secara status. tetapi sesungguhnya sudah retak secara keintiman.

  • Penulis: Kelly Ayu Anggraeni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Optimis Peroleh Laba, Kailola : Panca Karya Bukan Lagi Beban Tapi Anugerah

    Optimis Peroleh Laba, Kailola : Panca Karya Bukan Lagi Beban Tapi Anugerah

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • visibility 558
    • 0Komentar

    AMBON.-DEMAL ; PD Panca Karya kini memasuki era baru di bawah kepemimpinan triumvirat strategis yang solid. Kombinasi antara Direktur Utama sebagai pemimpin yang bertangan dingin dan rendah hati Direktur Keuangan  Sang Penjaga Arus yang menjamin keberlanjutan finansial, serta Direktur Operasional sebagai Mesin Penggerak eksekusi lapangan, diyakini akan  membawa perusahaan pelat merah itu melampaui target pertumbuhan […]

  • Dihadapan Senator Bisri, DKP Keluh: Sekarang Kita Hanya Penonton

    Dihadapan Senator Bisri, DKP Keluh: Sekarang Kita Hanya Penonton

    • calendar_month Jumat, 17 Okt 2025
    • visibility 354
    • 0Komentar

    AMBON.-DM; Kewenangan Pemerintah Provinsi Maluku telah dibatasi untuk mengelolah laut, meski dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014, Pemerintah Provinsi punya kewenangan adalah sebesar 12 mil laut dari garis pantai. Hal ini disampaikan jajaran Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku kepada Anggota Komite I Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Bisri As Shiddiq Latuconsina dalam agenda […]

  • Wabup Tinjau Pembangunan Jembatan Darurat Dusun Marbali

    Wabup Tinjau Pembangunan Jembatan Darurat Dusun Marbali

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • visibility 268
    • 0Komentar

    DOBO.-DEMAL ; Wakil Bupati Kepulauan Aru, Mohamad Djumpa meninjau langsung pekerjaan jembatan darurat di Dusun Marbali, Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru, Selasa 20 Januari 2026. Wabup Aru ditemani Plt Kadis PU Gadafi Rumra. Keduanya melihat langsung progres pekerjaan, serta meninjau kerusakan pada tiang-tiang jembatan yang menggunakan batang kelapa lapuk. Wabup menyampaikan bahwa pembangunan jembatan […]

  • Emirates Resmikan Travel Store Berkonsep Terbaru di Indonesia

    Emirates Resmikan Travel Store Berkonsep Terbaru di Indonesia

    • calendar_month Jumat, 9 Mei 2025
    • visibility 394
    • 0Komentar

    JAKARTA-DM ; Emirates resmi membuka travel storepertamanya di Jakarta, Indonesia, menandai langkah strategis dalammemperkuat komitmen maskapai untuk menghadirkan pengalaman perjalanan kelas dunia bagi pelanggan di Tanah Air. Pembukaan ini menyusul kesuksesan peluncuran Emirates Travel Store di HongKong dan Manila, sebagai bagian dari ekspansi Emirates di kawasan Asia. Berlokasi di Sequis Tower, ruang ritel terbaru ini menempati […]

  • Tim Ekspedisi Tebing Wanadri Berhasil Taklukan Puncak Kaku Mahu – Pulau Buru

    Tim Ekspedisi Tebing Wanadri Berhasil Taklukan Puncak Kaku Mahu – Pulau Buru

    • calendar_month Kamis, 15 Mei 2025
    • visibility 433
    • 0Komentar

    AMBON-DM : Setelah melalui perjalan panjang selama belasan hari yang menguras waktu dan tenaga, tim Ekspedisi Wanadri 2025 bertajuk Rediscover Buru tiba di puncak Kaku Mahu. Pada 8 Mei 2025 Ketua Tim Pemanjatan Tebing Kaku Mahu, Jihan Syafira mengatakan pada tanggal 28 April 2025 lalu, Tim Ekspedisi Tebing Kaku Mahu yang merupakan bagian awal dari  Ekspedisi […]

  • Ekonomi RI di Bawah 5%, Istana: Belanja Pemerintah Belum Puncaknya!

    Ekonomi RI di Bawah 5%, Istana: Belanja Pemerintah Belum Puncaknya!

    • calendar_month Jumat, 9 Mei 2025
    • visibility 360
    • 0Komentar

    Melihatnya Jangan Dari Satu Sudut Pandang CNBC Indonesia – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi buka suara mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tak sampai 5% pada tiga bulan pertama tahun ini. Menurutnya, hal ini disebabkan dari berbagai faktor tidak hanya soal efisiensi belanja pemerintah. “Dari sisi angka, memang betul terjadi penurunan sedikit, tetapi kita mesti memahami bahwa […]

expand_less