Kisah Pius Janwarin: Anak Namlea yang Tak Pernah Menyerah Menembus Proliga
- calendar_month 16 jam yang lalu
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pius Andreas Stephanus Janwarin salah satu atlit folly bersama timnya dalam satu kesempatan pertandingan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LANGGUR.-DEMAL ; Setiap mimpi memiliki titik awal. Bagi Pius Andreas Stephanus Janwarin, mimpi itu lahir dari sebuah kampung di Namlea, Maluku, dari sebuah bola voli dan keinginan sederhana untuk menjadi pemain yang membanggakan daerahnya.
Kini, perjalanan itu telah membawanya jauh. Dari lapangan sekolah di Namlea, ia melangkah ke Ambon, kemudian Jakarta, memperkuat sejumlah klub, meraih gelar juara Livoli, tampil di Proliga hingga mengikuti seleksi Pelatnas.
Di tengah perjalanan panjang tersebut, ia juga mengabdikan diri sebagai anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Pius lahir di Namlea pada 28 Januari 1974, putra pasangan Servasius Janwarin dan Petronela Welafubun. Sejak duduk di bangku SMP, olahraga voli telah mencuri perhatiannya.
Ia bermimpi memperkuat tim voli SMP Negeri Namlea. Namun, kesempatan itu belum datang. Namanya belum masuk dalam tim sekolah.
Alih-alih menyerah, Pius justru menjadikan kegagalan itu sebagai bahan bakar untuk terus berlatih.

Pius Andreas Stephanus Janwarin menggunakan nomor punggung 2.
Kesempatan Pertama di SMA
Setelah lulus SMP, Pius melanjutkan pendidikan di SMA Pertiwi Namlea. Di sekolah inilah pintu yang selama ini dinantikannya mulai terbuka. Seorang guru olahraga sekaligus guru IPS, yang biasa dipanggil Pak Rahanra, memberikan kesempatan kepada siswa yang memiliki minat terhadap voli untuk berlatih. Latihan dilakukan tidak hanya pada jam olahraga, tetapi juga pada waktu istirahat.
Pius memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sungguh-sungguh. Ketekunan itu mulai membuahkan hasil. Saat duduk di kelas satu SMA, ia dipercaya mewakili SMA Pertiwi Namlea dalam pertandingan voli tingkat Kecamatan Namlea.
Menjelang kenaikan kelas tiga, kepercayaan kembali diberikan kepadanya. Bersama rekan-rekannya, Pius memperkuat tim Kecamatan Namlea dalam kompetisi tingkat kabupaten. Hasilnya membanggakan. Tim yang mereka bela berhasil meraih juara pertama. Namun, bagi Pius, trofi tersebut bukanlah garis akhir. Justru dari sanalah perjalanan yang lebih besar dimulai.

Merantau Membawa Mimpi ke Ambon
Setelah menamatkan SMA, Pius memberanikan diri meninggalkan Namlea dan merantau ke Ambon.
Ia datang tanpa fasilitas mewah dan tanpa jaminan kesuksesan. Yang dibawanya hanya kemampuan, keberanian, kerja keras dan keyakinan bahwa mimpinya layak diperjuangkan.
Di Ambon, ia mulai mengikuti berbagai pertandingan antarklub. Ia kemudian bergabung dengan Klub Yarden di Ambon, Laha, di bawah pembinaan Pak Man. Melihat kemampuan dan potensi yang dimilikinya, Pius mendapat kesempatan untuk berlatih dan bergabung dengan klub tanpa biaya. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan.
Hari demi hari ia berlatih. Turnamen demi turnamen dijalani. Setiap pertandingan menjadi ruang untuk belajar dan meningkatkan kemampuan. Perlahan, namanya mulai dikenal di lingkungan voli Maluku.
Hingga akhirnya, Pius dipercaya memperkuat tim voli Provinsi Maluku dalam persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON).
Ia menjalani pemusatan latihan di Ambon sebelum kemudian mengikuti Pra-PON di Menado tahun 1992.
Di Menado, perjalanan kariernya kembali mengalami lompatan besar.
Dari Pra-PON Menado ke Jakarta
Penampilan Pius menarik perhatian pelatih Pelita Jaya Jakarta. Kesempatan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya sebagai atlet. Pada Oktober 1993, ia berangkat ke Jakarta.
Untuk pertama kalinya, anak Namlea itu meninggalkan tanah kelahirannya dan memasuki lingkungan olahraga dengan persaingan yang jauh lebih ketat.
Pius bergabung dengan Pelita Jaya selama kurang lebih enam bulan. Namun, perjalanan karier tidak selalu berjalan mulus. Ketika klub tersebut kemudian bubar, ia tidak berhenti.
Ia melanjutkan perjalanan bersama Popsivo.
Tidak lama kemudian, babak baru kembali hadir dalam kehidupannya. Pius mengikuti proses penerimaan anggota Polri dan berhasil menjadi anggota Kepolisian Republik Indonesia. Menjadi polisi ternyata tidak membuat kecintaannya terhadap voli berakhir. Sebaliknya, ia menjalankan dua peran sekaligus: mengabdi sebagai anggota Polri dan tetap menjaga kariernya sebagai atlet.
Dari Voli Indoor ke Voli Pantai
Pius tidak hanya menekuni voli indoor. Ia juga mencoba tantangan baru melalui voli pantai. Kerja kerasnya kembali menghasilkan kesempatan. Ia dipercaya mewakili DKI Jakarta dalam Pra-PON Voli Pantai di Yogyakarta tahun 1996.
Pius berhasil melewati Pra-PON dan memperoleh kesempatan untuk melangkah menuju PON. Namun, lagi-lagi, perjalanan memberinya pelajaran tentang arti kegagalan.
Dalam seleksi akhir, ia belum berhasil mendapatkan tempat untuk tampil di PON.
Kegagalan itu tentu tidak mudah. Tetapi Pius memilih tidak menjadikannya alasan untuk berhenti.
Baginya, olahraga mengajarkan satu hal penting: kemenangan dan kekalahan merupakan bagian dari perjalanan.
Kalah bukan berarti selesai.
Juara Livoli, Jalan Menuju Proliga
Setelah Popsivo bubar, Pius kembali mencari jalan untuk mempertahankan kariernya sebagai atlet.
Ia kemudian bergabung dengan Klub Mabes TNI dan mengikuti berbagai kompetisi voli di Jakarta. Salah satu pencapaian terbesar hadir ketika ia bersama Mabes TNI tampil di Livoli. Kerja keras, disiplin dan konsistensi akhirnya berbuah manis.
Mabes TNI berhasil meraih juara pertama Livoli.
Prestasi tersebut semakin membuka pintu bagi Pius menuju kompetisi yang lebih tinggi. Tidak lama kemudian, kesempatan bermain di Proliga, kompetisi voli tertinggi di Indonesia, datang kepadanya.
Untuk pertama kalinya, ia tampil di Proliga bersama Jakarta Patriot. Perjalanan panjang dari Namlea ke Ambon, kemudian Jakarta, akhirnya membawanya ke salah satu panggung terbesar bola voli Indonesia.
Langkahnya bahkan berlanjut hingga seleksi Pelatnas. Polisi, Atlet dan Ayah bagi Keluarga. Di balik perjalanan panjang sebagai atlet, Pius tetap menjalankan tugasnya sebagai anggota Polri sejak 1995.
Saat ini, ia bertugas di Polresta Tangerang, Banten, dengan jabatan sebagai Kanit Lantas. Di luar tugas dan olahraga, Pius juga menjalani kehidupan keluarga. Ia menikah dengan Ratna Prihatin dan dikaruniai seorang anak bernama Katarina Zein Angelica Janwarin.
Perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa profesi dan cita-cita tidak selalu harus dipertentangkan. Dengan disiplin dan manajemen waktu, pengabdian kepada negara dapat berjalan berdampingan dengan kecintaan terhadap olahraga.
Mimpi yang Berawal dari Lapangan Sederhana
Kisah Pius Andreas Stephanus Janwarin pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang seorang pemain voli.
Ini adalah cerita tentang keberanian untuk bermimpi, kesediaan untuk berjuang, keberanian menghadapi kegagalan dan ketekunan untuk bangkit kembali.
Ia pernah tidak mendapat tempat di tim SMP. Namun, ia tidak berhenti.
Ia pernah meninggalkan kampung halaman dengan modal seadanya. Namun, ia terus melangkah.
Ia pernah gagal dalam seleksi menuju PON. Namun, ia kembali berlatih.
Hingga akhirnya, anak Namlea itu mampu mencatatkan namanya di kompetisi voli tingkat nasional, meraih juara Livoli, tampil di Proliga dan mengikuti seleksi Pelatnas.
Perjalanan tersebut menjadi pesan kuat bagi generasi muda di Maluku dan Indonesia: besar kecilnya sebuah kampung bukan ukuran besar kecilnya sebuah mimpi.
Yang menentukan adalah seberapa kuat seseorang berjuang untuk mewujudkannya.
“Beranilah bermimpi setinggi mungkin. Berusahalah sekuat mungkin. Berdoalah sebanyak mungkin. Karena tidak pernah ada yang tahu sejauh mana sebuah mimpi dapat membawa seseorang, selama ia tidak pernah berhenti memperjuangkannya,” pungkas Pius.(*)
- Penulis: Editor

Saat ini belum ada komentar