Petaka Senja di Ujung Aspal Taeno
- calendar_month Sabtu, 31 Okt 2026
- visibility 48
- comment 0 komentar
- print Cetak

Mobil Tangki Air yang ambruk
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AMBON,-DEMAL ; Senja di Tanjakan Taeono mendadak beku ketika deru mesin sebuah mobil tangki merah mendadak kehilangan taji, Jumat sore itu.
Lelaki di balik kemudi mencengkeram kemudi erat-erat. Keringat dinginnya menetes, berkejaran dengan jarum jam yang menunjuk angka lima.
Di bawah roda-roda besar yang kelelahan, aspal curam Desa Rumah Tiga seolah menjelma menjadi musuh yang tak kasat mata. Mobil yang sarat akan beban air dari Batukoneng itu terengah-engah, tertahan di ambang batas kemampuannya, lalu menyerah pada gravitasi.
“Ganjal! Cari batu!” teriakan itu pecah menembus deru mesin yang sekarat.
Sang kondektur melompat turun, menyisir pinggiran jalan dengan panik. Matanya liar mencari bongkahan batu atau apa saja yang bisa menahan takdir.
Namun, bumi Taeno sore itu seolah menyembunyikan batu-batunya. Tangan kosong sang kondektur tak mampu menahan raksasa merah yang mulai tergelincir mundur, merayap pasrah menuju jurang marabahaya.
Dalam hitungan detik yang mencekam, sang sopir dihadapkan pada pilihan hidup mati. Dengan sisa keberaniannya, ia membanting setir ke kanan—sebuah ikhtiar terakhir untuk menghentikan kemunduran yang fatal.
Braaakkk!
Raksasa merah itu kehilangan keseimbangan. Tubuh besarnya terhempas, terbalik pasrah di tengah jalan, melintang memotong urat nadi lalu lintas Ambon. Sunyi sejenak pecah oleh dentingan kaca yang hancur. Kaca depan terlepas, menyisakan kekosongan.
Tangki atasnya penyok, meratapi air yang mungkin tumpah sia-sia. Kaca samping kiri dan kanan hancur berkeping-keping, menjadi saksi bisu rasa sakit yang diderita sang sopir, yang kini terduduk menahan linu akibat tulang lengan kirinya yang patah.
Jalanan pun lumpuh. Deretan kendaraan mengular panjang, terjebak dalam kemacetan yang melelahkan.
Namun, potret Taeno bukan hanya tentang musibah. Di balik pecahan kaca dan besi yang penyok, nurani warga Ambon bergerak. Menjelang pukul enam lewat, ketika langit mulai temaram, tangan-tangan kekar masyarakat dan pengendara yang melintas menyatu. Tanpa dikomando, mereka mengepung tubuh mobil tangki yang melintang.
Dengan peluh dan sorak gotong royong, mereka mendorong bayang-bayang petaka itu ke tepian. Sedikit demi sedikit, jalan yang tersumbat kembali bernapas. Arus lalu lintas yang tadinya mati, bertahap mengalir normal kembali seiring malam yang pelan-pelan turun menyelimuti bumi Rumah Tiga.(*)
- Penulis: Editor

Saat ini belum ada komentar