Perkokoh Persatuan di SBB, Bisri As Shddiq Sosialisasi Empat Pilar di GPM Elohim Piru
- calendar_month 18 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AMBON.-DEMAL ; Dalam upaya memperkokoh fondasi kebangsaan dan menjaga warisan nilai-nilai luhur bangsa, Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) daerah pemilihan Maluku, Bisri As Shddiq Latuconsina, menggelar kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan. Acara strategis ini dilaksanakan di hadapan ratusan jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Elohim Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Kegiatan yang berlangsung khidmat dan penuh antusiasme ini menghadirkan tokoh agama terkemuka, Pdt. H. Talarima, sebagai narasumber utama. Jalannya diskusi dan pemaparan materi dipandu secara dinamis oleh Yobes Souhaly, kader intelektual muda yang juga merupakan representasi dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Seram Bagian Barat.

Sebagai daerah yang kaya akan keberagaman suku, budaya, dan agama, Kabupaten Seram Bagian Barat menjadi salah satu pilar penting dalam potret kemajemukan Indonesia, khususnya di Provinsi Maluku. Kehadiran Bisri As Shddiq Latuconsina di tengah-tengah jemaat GPM Elohim Piru menegaskan bahwa komitmen menjaga persatuan tidak mengenal batas-batas sekat primordial.
Empat Pilar Kebangsaan yang terdiri dari Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika, bukan sekadar slogan politik.
Menurut Bisri, keempat elemen tersebut merupakan tameng utama sekaligus kompas kehidupan bermasyarakat di tengah arus modernisasi dan potensi polarisasi sosial.
“Kita hidup di era di mana informasi bergerak sangat cepat, namun di sisi lain, potensi gesekan sosial akibat perbedaan juga tetap ada jika kita melupakan akar sejarah kita. Jemaat GPM Elohim Piru adalah bagian integral dari benteng pertahanan toleransi di Seram Bagian Barat. Sosialisasi ini adalah ikhtiar kita bersama untuk merawat ingatan kolektif tersebut,” ujar Senator asal Maluku tersebut dalam sambutan pembukanya.

Pemaparan materi yang disampaikan oleh Pdt. H. Talarima menjadi daya tarik utama dalam forum ini. Sebagai pemuka agama, ia membedah bagaimana nilai-nilai teologis dan spiritualitas keagamaan berjalan beriringan secara harmonis dengan prinsip-prinsip bernegara yang terkandung dalam Pancasila.
Pdt. Talarima menekankan bahwa menjadi seorang religius yang taat secara otomatis menuntut seseorang untuk menjadi warga negara yang baik, yang menghormati hukum, mengasihi sesama tanpa memandang latar belakang, serta aktif berkontribusi dalam pembangunan daerah.
Beliau menggarisbawahi bahwa Pancasila, terutama sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa,” memberikan ruang seluas-luasnya bagi setiap warga negara untuk menjalankan keyakinannya sekaligus menjadi lem perekat yang menyatukan perbedaan tersebut dalam bingkai NKRI.
“Gereja tidak boleh menutup mata dari realitas kebangsaan. Kita memiliki tanggung jawab moral untuk mendidik jemaat agar tidak hanya tumbuh secara iman, tetapi juga matang secara kewarganegaraan. Empat pilar ini adalah rumah bersama kita. Ketika satu tiang rapuh, maka runtuhlah seluruh bangunan. Oleh karena itu, tugas jemaat hari ini adalah menjadi agen-agen perdamaian dan perekat persatuan,” tegas Pdt. Talarima di hadapan peserta.
Di sisi lain, jalannya acara yang dimoderatori oleh Yobes Souhaly dari GMKI SBB memberikan warna tersendiri. Keterlibatan aktif elemen pemuda seperti GMKI menunjukkan adanya estafet kepemimpinan dan kesadaran kritis dari generasi muda di Seram Bagian Barat dalam mengawal isu-isu kebangsaan.
Yobes berhasil menghidupkan suasana sosialisasi melalui sesi tanya jawab yang interaktif. Rangkaian pertanyaan dari jemaat—mulai dari isu keadilan sosial, tantangan ekonomi di daerah, hingga bagaimana membentengi generasi muda dari radikalisme dan degradasi moral—dijawab dengan lugas dan solutif oleh para narasumber.
“Pemuda hari ini adalah pemilik masa depan. Melalui ruang-ruang dialog seperti ini, kami dari kalangan mahasiswa dan pemuda gereja merasa dilibatkan dan diberikan tanggung jawab besar untuk terus mengumandangkan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika di kehidupan sehari-hari,” tutur Yobes di sela-sela acara.(*)
- Penulis: Editor

Saat ini belum ada komentar