Kamis, 23 Apr 2026
light_mode

Nasib Petani Pala Banda di Tengah Krisis Iklim: Harga Melambung Saat Panen Seret

  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 18
  • comment 0 komentar

Mayoritas petani Bala Banda mengeluh cuaca berubah tak menentu. Anomali cuaca dampak dari krisis iklim, mempengaruhi hasil panen dan kualitas buah pala sejak tiga tahun terakhir.  

Penulis : Jaya Barends-Dekrit Maluku

Ringkasan:

  • Hujan tanpa henti disertai angin kencang mengakibatkan Pala Banda mudah rusak.
  • Biji pala berkerut, bobot ringan dan bentuknya cacat dan tidak lonjong.
  • Anomali iklim berbarengan dengan fenomena Ombong Mei turut merusak tanaman pala.
  • Krisis iklim dapat memperkuat Ombon Mei karena peningkatan suhu laut.
  • Saatnya petani menghidupkan kembali pertanian intensif.

 

KERUTAN usia tampak jelas di wajah Halid Bugal. Napasnya tak beraturan ketika bercerita, hasil panen yang seret. Pria 75 tahun itu, sedih karena Pala Banda di kebunnya kini mudah busuk dan rontok.

“Hujan sering turun bikin pala gampang rusak,” ujar Halid, pertengahan Desember 2025.

Pohon pala di kebunnya berusia di atas 25 hingga 40 tahun, peninggalan masa kolonial. Sebagian lagi berumur 10 tahun, batangnya menjulang tinggi dan harusnya pada fase produktif.

Namun hujan tanpa henti disertai angin kencang menerpa Negeri Selamon, Pulau Banda Besar, Maluku Tengah, merusak buah pala dan gugur bunga. Bahkan buah Myristica fragrans berukuran besar, kondisinya kempes.

Buah pala tar (tidak) bulat, kualitasnya juga turun karena kempes,” ungkapanya.

Halid bilang kondisi biji pala berkerut, bobot ringan dan bentuknya cacat serta tidak lonjong. Usai dikeringkan, jika digoyang terdengar gemerincing.

“Kondisi biji sekarang begitu, kini bisa dibilang temui pala super sudah sulit.”

Halid Bugal, petani Pala Banda Negeri Selamun.(dekritmaluku/Jaya Barends)

Tak heran, harga biji pala di pasaran juga mengikuti kualitas panen, berkisar antara Rp161 ribu-Rp 300 ribu per kilogram (Kg). Sedangkan, fuli atau bunga pala Rp 250 ribu per Kg.

Sudianto Bugal, kerabat Halid, mengeluhkan hal serupa. Ia menyebut sejak 2024, curah hujan dominan menyebabkan hasil panen seret saat harga pala melambung.

Herman Rehatta, pakar budidaya pertanian turut membenarkan uraian Sudianto. Di 2024 pula, ia meneliti pala di Pulau Banda Besar, Ay dan Naira.

Mayoritas petani pala, mengeluhkan pergantian musim panas dan hujan makin tidak jelas. Keadaaan tersebut, dampak dari krisis iklim yang turut merubah siklus alami iklim dan pola curah hujan.

Dampak lain, suhu permukaan laut meningkat—mempengaruhi pola angin dan pembentukan awan. Pada gilirannya, mengubah pola curah hujan.

“Kondisi itu jadi tantangan serius terutama pertanian karena mempengaruhi panen,” jelas dosen pensiunan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon tersebut.

Pada 2025,  Sudianto kembali mengalami penurunan hasil panen akibat hujan tanpa jeda sejak Januari hingga Agustus. Kondisi ini tidak sesuai pola iklim unimodal di Kepulauan Banda hanya satu puncak musim hujan.

Umumnya, musim hujan terjadi pada Desember hingga Februari. Sementara musim kemarau berlangsung Juni hingga Agustus.

Petani mengambil Pala Banda yang gugur ke tanah di Perkebunan Pala, Pulau Ay.(dekritmaluku/Jaya Barends)

Sudianto menjelaskan bahwa anomali iklim berbarengan dengan fenomena Ombong Mei turut merusak tanaman pala. Ombong Mei, kata dia, sebutan khas Kepulauan Banda untuk angin kencang dan uap udara dingin ekstrem.

Fenomena itu berlangsung Mei hingga Agustus, bertetapatan musim panen pala pertama Mei-April. Namun panen kedua September-Oktober, tidak terdampak.

“Tetapi Ombong Mei disertai hujan mengguyur sepanjang tahun, berujung panen merosot,” keluhnya.

Tentu, ekonomi keluarga Sudianto terganggu akibat panennya seret. Ia terpaksa hanya melaut untuk bertahan hidup, namun beban pikiran akan kegagalan panen terus menghantui.

Wajah Sudianto kala itu kuyuh, tatapannya datar sambil bersandar di dinding ruang tamu. Tak berselang lama, ia mengatakan kerusakan buah pala tidak masif bila pohon pelindung dipertahankan.

“Pala yang rusak jauh lebih kecil jika ada pohon pelindung,” ungkapnya.

“Tapi kan hari ini lahan semakin sempit, makanya ditebang untuk membuka lahan baru,” tambahnya.

Praktik Lokal Hadapi Perubahan 

Herman Rehatta menegaskan penebangan pohon pelindung (barrier) justru memperparah dampak Ombong Mei. Sejak dahulu, petani mengandalkan barrier untuk mengurangi dampak angin dan cuaca ekstrem.

Ia menjelaskan pada Mei terjadi masa pancaroba, secara lokal disebut Ombong Mei. Fenomena ini dipicu oleh penguapan Laut Banda. Melalui angin, massa air mengandung garam terbawa angin ke daratan.

Peralihan antara musim hujan dan kemarau itu mengakinatkan ketersedian air tidak seimbang. Ia menjelaskan, kelebihan air dari hujan mendadak atau kekeringan sementara, mempengaruhi penyerapan nutrisi tanaman.

“Suhu udara pun mengalami fluktuasi ekstrem antara siang dan malam mengakibatkan tanaman strees dan mempengaruhi metabolisme dan fisiologi sehingga proses penuaan pada bunga dan buah muda,” jelasnya.

Akibatnya bunga pala, daun, dan buah muda gugur. Meski demikian, tidak semua pohon terdampak dan akan kembali pulih seiring waktu.

Namun Herman mengingatkan krisis iklim dapat memperkuat Ombon Mei karena peningkatan suhu laut memperbesar penguapan dan curah hujan.

Buah pala tampak mengerut—permukaannya dipenuhi bercak cokelat dan mengering.(dekritmaluku/Jaya Barends)

Sebagai solusi, ia menyarankan habilitasi pohon pelindung  seperti kenari, durian, sengon dan lengguna.

“Yang paling baik adalah pohon kenari karena ukurannya besar,” jelasnya.

Selain itu, petani juga disarankan mengamati tanda-tanda alam atau nanaku sebagai langkah mitigasi.

“Tidak ada cara menghentikan Ombong Mei, yang bisa dilakukan hanya mengurangi dampaknya. Petani biasanya mengenali tanda-tandanya melalui nanaku.”

La Musara Ode Ungu, petani pala asal Pulau Ay menjelaskan bahwa nanaku ditandai udara dingin disertai kabut.

Sebagai langkah antisipisi, ia membakar kayu di kebun untuk menghasilkan asap yang dipercaya mengusir kabut mengendap di ranting.

Kondisnya makin runyam, sebutnya kala hujan mengguyur tanpa jeda sepanjang Mei. Namun Asti, istri dari Subuh Sidek punya solusi berbeda. Ia bercerita almarhum ayahnya membuat ‘rumah api’ sederhan di kebun.

Bangunan kecil itu, terbuat dari empat tiang kayu dengan atap seng untuk melindungi api dari hujan. Asap dari hasil pembakaran, dipercaya mengurangi kelembapan.

Selain itu, didukung pohon kenari yang rimbun sebagai pelindung alami. “Alhamdulillah, pala yang rusak tidak terlalu parah,” jelasnya sembari berujar, suaminya juga turut mempraktikkan.

Strategi Panen dan Pertanian Intensif

Beda dengan petani lain, misal Musara tidak lagi menunggu buah pala matang sempurna. Namun keputusan panen lebih awal, ia biasanya nanaku hujan selama tiga hari berturut-turut, awal Mei.

“Kalau hujan, berarti curah hujan lebih dominan dan tahu Ombong datang dari situ. Jadi pala segera dipanen,” katanya.

Panen pun tidak serampangan, ia hanya memilah buah pala tua untuk dipetik. Menyisakan buah muda di pohon lain.

Kini, pola panen tidak lagi seragam seperti dulu—dua kali setahun. Pohon pala tua, bercampur dengan tanaman baru, menciptakan panen skala kecil dua hingga tiga kali di luar kalender panen.

“Buah pala yang dipanen lalu dibelah, fuli dan biji diletakan di atas para-para. Berjarak 2-5 meter di atas perapian.”

Jika tidak hujan, pala dibiarkan matang di pohon hingga kulitnya kuning kecoklatan. Lantas merekah di dahan, mengikuti alurnya. Petani kerap menyebut, biji pala super.

Meski berada di tengah krisis iklim, Musara meyakini bahwa nanaku dianggap cukup akurat sebagai pedoman.

Mantan Kepala Negeri Administrasi Pulau Ay,  Jusuf Madja mengatakan nanaku cara lama membaca gejala alam—diwariskan turun termurun. Selain untuk pertanian, metode ini juga digunakan memprediksi ketersedian air.

Pulau Ay sendiri mengalami krisis air berkepanjangan akibat struktur tanah karang dan minim mata air. Warga pun sangat bergantung pada air hujan.

“Kalau tidak ada hujan, pemakaian air harus lebih hemat,” kata Jusuf.

Disampingnya, Bahar Harun mengangguk pelan. Tubuhnya tegap, kulit sawo matang. Ia yang mendampingi perjalanan saya hari itu—Rabu, 17 Desember 2025—menyusuri kebun-kebun pala.

Bahar berjalan di depan, menuntun langkah, menapaki jalan setapak yang membelah rimbunnya pohon pala. Di sisi kiri, buah pala tampak mengerut—permukaannya dipenuhi bercak cokelat dan mengering. Kabut tipis, mengantung di antara dahannya.

Sisi kanan, hamaparan pohon pala berusia 10-15 tahun berdiri rapat, sarat buah. Sekitar lima meter dari situ, pohon kenari menjulang tinggi, seolah menjadi pelindung alami di tengah kebun.

“Sebagian pohon kenari ditanam petani dan ada juga peninggalan kolonial,” kata Bahar, membuka pembicaraan. Ia lantas menunjukan kebun pala miliknya, sebagian dahannya tampak tanpa buah pala.

“Sebagian baru belajar berbuah,” katanya. Pohon pala itu diperkirakan berumur 4-7 tahun.

Perjalan dilanjutkan ke kebun sayur yang berdekatan dengan kebun pala. Dari jauh, dua pria terlihat menusuk tanah dengan kayu, mengisi bibit terong lalu menutup kembali lubang tersebut.

Kedua pria itu juga memiliki kebun pala. Mereka memanfaatkan jedah panen pala untuk  menanam kacang panjang, cabe, tomat dan berbagai sayuran lain.

Pertanian model agroforestri itu juga dijalankan Harun Astar di kebunnya. Lahan miliknya, berada pada benteng alam perbukitan Negeri Administrasi Lautang—menghadap ke laut dengan pemadangan Pulau Hatta.

Di lahan itu pula ditanam padi gogo, ubi larantuka dan sayuran. Pohon pala hanya beberapa batang saja, tidak seperti di lokasi kebun lain miliknya.

“Bibit pala yang ditanam, harus menghitung ketinggian perbukitan. Tidak sekedar tanam saja,” katanya.

Ia mengeklaim lahannya berada pada areal aman untuk budidaya pala. Hal serupa juga juga ditemukan di perbukitan di bagian tengah, buah pala umumnya matang sempurna.

Kondisi berbeda terjadi di perbukitan atasnya lagi. Wilayah tersebut, buah pala gampang rusak. Saat Ombong Mei, bila tidak segera dipanen, buah masih muda cenderung cepat membusuk dan dan gugur. Kondisi ini lebih para di tengah krisis iklim saat ini.

“Buah pala banyak, tetapi saat Ombong Mei agak sulit mendapatkan buah yang benar-benar matang,” jelasnya.

Ia menambahkan wilayah tersebut memiliki suhu yang lebih dingin dan tingkat kelembapan tinggi. Sejak masa kolonial, area itupun tidak dimanfaatkan sebagai perkebunan pala.

Pohon pelindung seperti kenari memang tumbuh di sana. Namun berfungsi sebagai pelindung bagi perkebunan pala di bagian bawah perbukitan.

Herman Rehatta mengatakan idealnya budidaya tanaman pala pada lahan dengan kemiringan lereng 0-20 %. Lahan yang miring, mengurangi kemungkinan akar tergenang air.

Selain itu, pala dapat berproduksi baik pada ketinggian tempat 0 – 700 meter di atas permukaan laut (mdpl).“Namun, makin tinggi tempat maka produksi makin rendah,” jelasnya.

Khusus untuk syarat tumbuh, ia melanjutkan, iklim juga mempengaruhi penyebaran dan populasi hama dan penyakit tanaman (HPT). Namun, penilitiannya kala itu tidak menganalisis iklim mempengaruhi HPT lebih jauh.

“Saat penilitian, menemukan kerusakan pala akibat serangan hama dan penyakit tiga lokasi berbeda. Di Pulau Ay, misalnya terdapat serangan penggerek batang,” jelasnya.

“Selanjutnya rayap, busuk buah basah, busuk buah kering dan keriting pucuk daun,” tambahnya. Ia mengungkap berdampak terhadap penurunan produksi 10 – 25 persen.

Bagi Herman produktivitas pala pada dasarnya dipengaruhi banyak hal. Bukan saja faktor genetik, hama dan iklim tetapi tindakan budidaya yang tidak intensif.

Untuk itu, sudah saatnya petani menghidupkan kembali pertanian intensif. Di antaranya, menjaga jarak tanam. rutin membersihkan sanitasi di kebun dan benih serta bibit tersertifikasi.

“Sebab, rendahnya produksi dan produktivitas ini sebagai akibat pengaruh iklim dan teknik budidaya yang belum intensif,” ungkapnya.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ada “Hotel Berbintang” Dengan  Tiga Helipad di Lokasi Bendungan Way Apu 

    Ada “Hotel Berbintang” Dengan  Tiga Helipad di Lokasi Bendungan Way Apu 

    • calendar_month Jum, 27 Jun 2025
    • visibility 521
    • 0Komentar

    AMBON- DM : Pembangunan mega proyek strategis nasional (PSN) Bendungan Way Apu Kabupaten Buru, sampai saat ini belum juga rampung.  Proyek ini mulai dikebut pada tahun 2017, Pekerjaan konstruksinya terbagi menjadi 2 paket yaitu paket 1 berupa konstruksi bendungan utama oleh PT PP – Adhi Karya KSO dengan biaya Rp1,11 triliun dan paket 2 berupa […]

  • Mengungkap Sosok Susana “Bayangan” Bos Kiat di Proyek Irigasi Sariputih

    Mengungkap Sosok Susana “Bayangan” Bos Kiat di Proyek Irigasi Sariputih

    • calendar_month Sel, 9 Sep 2025
    • visibility 313
    • 0Komentar

    AMBON.-DM ; Pasca jebolnya 31 meter saluran irigasi Sariputih, nama Ronny Rambitan ikut dibawa-bawa. Sejumlah media mainstrem menyebut taipan yang akrab di sapa Bos Kiat itu sebagai pihak yang harus bertanggungjawab dalam pekerjaan Irigasi Sariputih tahun 2024. PT. Ikinresi Bersama merupakan perusahaan lokal yang beralamat di Skip Karang Panjang Kota Ambon. Namun, Direkturnya bukan Ronny […]

  • Bupati Berupaya RSUD Karel Jadi RS Rujukan Dengan Layanan Berkualitas

    Bupati Berupaya RSUD Karel Jadi RS Rujukan Dengan Layanan Berkualitas

    • calendar_month Kam, 6 Nov 2025
    • visibility 184
    • 0Komentar

    LANGGUR.-DEMAL; Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, menegaskan Pemerataan layanan kesehatan menjadi komitmen serius Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara di tengah tantangan geografis wilayah kepulauan. “Kesehatan merupakan hak dasar setiap warga negara yang harus dijamin oleh negara,” kata Bupati saat membuka Pelayanan Kesehatan Bergerak (PKB) dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 di Ohoi Ohoira, […]

  • Kemkomdigi Gaungkan Literasi Digital di Ambon: Siapkan Generasi Garuda yang Cakap, Kreatif, dan Tangguh di Era Digital

    Kemkomdigi Gaungkan Literasi Digital di Ambon: Siapkan Generasi Garuda yang Cakap, Kreatif, dan Tangguh di Era Digital

    • calendar_month Kam, 9 Okt 2025
    • visibility 233
    • 0Komentar

    AMBON.-DM; Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) terus memperkuat komitmennya dalam mencetak generasi muda yang cakap digital melalui kegiatan Indonesia.go.id (IGID) Goes to Campus (IGtC) di Kota Ambon, Maluku.Rabu, 8 Oktober 2025. Kegiatan bertema “Sekolah Unggul Garuda: Suara Muda, Ruang Cerdas, Untuk Indonesia Kuat” ini menjadi langkah strategis pemerintah dalam mengintegrasikan literasi digital ke dunia pendidikan […]

  • Gubernur HL : Baku Sayang Labe Baik Dari Baku Lawan

    Gubernur HL : Baku Sayang Labe Baik Dari Baku Lawan

    • calendar_month Sel, 19 Agu 2025
    • visibility 269
    • 0Komentar

      AMBON-DM : Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa mengajak seluruh masyarakat Maluku untuk menjaga situasi tetap aman,damai,dan kondusif. Imbauan ini disampaikan menyusul insiden bentrok antar kelompok warga di Desa Hunuth, Selasa 19 Agustus 2025. “Saya mengajak seluruh masyarakat Maluku untuk menahan diri, tidak terpancing provokasi, serta memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada aparat keamanan dalam menangani kasus ini,” […]

  • Ternyata, Pegawai Bank Maluku Didominasi Lulusan SLTA

    Ternyata, Pegawai Bank Maluku Didominasi Lulusan SLTA

    • calendar_month Rab, 20 Agu 2025
    • visibility 355
    • 0Komentar

    AMBON-DM : Bank Maluku-Malut, merupakan nama panggilan dari PT. Bank Pembangunan Daerah Maluku dan Maluku Utara, Persoda. Perusahaan milik Pemerintah Provinsi Maluku-Maluku Utara dan Pemerintah Kabupaten/Kota Maluku-Maluku Utara sudah empat kali berganti nama perusahaan sejak didirikan pada 25 Oktober 1961. Hingga memasuki usia 64 tahun ini, Bank Maluku memiliki jumlah karyawan atau pegawai tak cukup […]

expand_less