Ketika Lampu Larvul Ngabal Padam: Piala Boleh Berpindah, Katong Punya Persaudaraan Jangan Pernah Usai
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 43
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Catatan Usai Bupati Cup 2026
Oleh : Adolof Labetubun, Laki-laki topi merah
Gemuruh itu akhirnya melumat habis dirinya sendiri. Sorak-sorai yang berminggu-minggu bersemayam di langit-langit Gedung Serbaguna Larvul Ngabal mendadak surut, menyisakan kesunyian yang merayap di sela-sela kursi penonton. Turnamen Bola Voli Bupati Cup Maluku Tenggara 2026 resmi mengetuk palu penutupnya.
Di atas lapangan yang kini tak lagi berdebu, papan skor mengunci takdir: tim Kei Kecil Timur Selatan (KKTS) Putra dan tim Kei Kecil Putri sah berdiri di podium tertinggi sebagai jawara. Namun, di bawah temaram lampu gedung yang bersiap dipadamkan, malam itu bukan hanya milik mereka yang mengalungkan medali.
Malam itu, predikat “jawara” meluas tanpa batas. Ia melekat pada gemuruh penonton yang tak lelah bersuara, pada peluit wasit yang setia menjaga adil, pada peluh panitia yang merajut acara, hingga pada ketegapan aparat keamanan yang memastikan malam-malam kompetisi berjalan sejuk, aman, dan tertib. Di atas segalanya, Kamtibmas terjaga, membuktikan bahwa tidak ada kemenangan yang lebih mulia daripada pulang membawa piala tanpa harus kehilangan saudara.

Prosesi serimonial penutupan Turnamen Bola Volli Bupati Cup 2026.
Malam Minggu itu menjelma menjadi sebuah altar nostalgia. Ada binar bangga yang memancar dari mata para pemenang, namun ada pula rinai kesedihan yang menggelayut di sudut hati. Gedung Serbaguna Larvul Ngabal, yang puluhan tahun lalu menjadi saksi bisu laga legendaris Tim Kalwedo vs Lusdoan, kini terasa makin menua. Dinding-dindingnya yang dulu terasa megah, kini seolah menyempit, tak lagi cukup kokoh untuk menampung ledakan semangat dan bakat luar biasa generasi masa kini sekelas Cendana Dumatubundan kawan-kawan.
Larvul Ngabal bukan lagi sekadar beton dan atap seng. Tempat ini, selama beberapa pekan terakhir, telah bertransformasi menjadi rumah besar bagi orang-orang basodara. Di sinilah katong tertawa bersama, berteriak lantang, mengecap pahitnya kekecewaan, merayakan kebanggaan, hingga akhirnya kembali baku gandeng tangan.

Bupati Maluku Tenggara M.Thaher Hanubun saat memeberikan sambutan di acara penutupan turnamen Bola Volli Bupati Cup 2026.
Di tempat ini pula, mimpi-mimpi ditenun. Setiap atlet datang memeluk harapan untuk menjadi yang terbaik, sekaligus mengintip peluang dalam proses seleksi Pekan Olahraga Provinsi Maluku (POPMAL). Namun, lapangan ini juga mengajarkan etika yang keras: tidak ada yang boleh memotong kompas. Olahraga dengan sinis mengingatkan manusia bahwa prestasi murni hanya lahir dari rahim proses, disiplin, kerja keras, dan keadilan.
Ketika peluit akhir ditiup, ruang evaluasi pun dibuka. Atlet menatap cermin dirinya, pelatih merombak strategi, manajer menghitung catatan, dan orang tua menyaring kembali doa serta dukungannya. Tentu, tidak ada turnamen yang luput dari cela. Namun seperti guratan pena malam itu: kesempurnaan hanyalah milik Tuhan Yang Maha Esa. Kekurangan kecil di sudut lapangan tak boleh menghapus samudera kebaikan yang telah tercipta.

Ribuan penonton padati final Turnamen Bola Volli Bupati Cup 2026.
Turnamen ini telah menunaikan tugas tertingginya: membuat katong baku kenal, katong baku sayang, dan katong baku hormat sebagai sesama ciptaan Allah. Katong datang dipisahkan oleh warna jersi untuk bertanding, tetapi pulang disatukan oleh rasa persaudaraan.
Kini, riuh sepatu yang berdecit di atas lantai semen telah senyap. Dentum bola yang menghantam net tak lagi terdengar. Sebagian atlet bersiap melangkah kembali ke kampung halaman, sementara sebagian lainnya menetap, memeras keringat di tanah Kei demi POPMAL yang menanti di cakrawala.
Bupati Cup 2026 telah usai, namun ia meninggalkan sebuah refleksi mendalam. Maluku Tenggara kini sedang mengetuk pintu masa depan, berbisik tentang sebuah mimpi yang lebih besar: sebuah rumah olahraga baru. Sebuah arena megah yang laik menampung bakat-bakat emas yang terus bertumbuh di tanah ini.
Piala mungkin akan berpindah tangan. Lampu-lampu gedung akan mati satu per satu. Sorak-sorai akan dilupakan waktu. Namun, di tanah Maluku Tenggara, persaudaraan tidak mengenal kata akhir. Karena pada titik paling karib, katong semua adalah satu.
Ain ni Ain.
Salam olahraga, salam persaudaraan, dari untaian kisah yang ditulis oleh seorang laki-laki yang memakai topi merah.(*)
- Penulis: Editor

Saat ini belum ada komentar