Entitas Bisnis Raksasa Dibalik Keperkasaan Inpex : Garap Blok Masela
- calendar_month Sel, 26 Agu 2025
- visibility 446
- comment 0 komentar

AMBON-DM : Blok Masela kembali mencuri perhatian publik, setelah lama issu Blok Masela hanya bertengger dikalangan elit.
Bukan lagi soal Participasi Interest (PI) 10 persen hak masyarakat Maluku dalam pengelolaan bisnis Migas di Blok Masela, itu sudah selesai. Kini issu yang santer digandrungi anak-anak Maluku adalah soal peluang putra-putri terbaik daerah berada dalam jajaran manajerial perusahaan-perusahaan yang akan mengelolan industri Migas Blok Masela.
“Kami mendesak Kementrian ESDM memastikan keterwakilan putra-putri Tanimbar pada jabatan direktur atau komisaris dan posisi manajerial utama pada saat Blok Masela mulai berproduksi,”tegas kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung (HMI,PMII,GMKI,,KAMMI) SEMMI dan lain sebagainya. Dalam jumpa pers di depan Gong Perdaimaian Dunia (GPD) Senin,25 Agustus 2025.
Tanpa disadari, dalam konteks proyek LNG Abadi di Tanimbar, PT Adhi Karya telah ditetapkan sebagai pelaksana EPC itu berarti perusahaan BUMN ini akan menangani seluruh proses dari desain hingga pembangunan kilang LNG tersebut.
Tak hanya itu, setelah hengkangnya perusahaan asal Belanda, saham 35 persen milik Shell juga sudah diakuisisi entitas baru yakni PT. Pertamina Hulu Energi sebesar 20 persen, dan Petronas Masela Sdn,Bhd 15 persen. Dua perusahaan pengganti Shell itu sama sekali tak ada putra-putri Maluku dalam jajaran direksi.
Sementara INPEX tetap mendominasi kepemilikan saham Blok Masela dengan total 65 persen saham.
INPEX memang telah berinvestasi di Indonesia sejak awal pendiriannya, dengan ditandatangani kontrak pada tanggal 21 Februari 1966 dengan nama perusahaan North Sumatra Offshore Petroleum Exploration Co., Ltd.. Sejak itu INPEX terus mengembangkan investasinya di berbagai wilayah Indonesia melalui berbagai anak perusahaan, tak hanya Blok Masela, ada Blok Java, Mahaka dan beberapa lainnya.
Sesuai dengan laporan kepemilikan Saham yang diterbitkan tahun 2023, saham Inpex dimiliki enam kelompok bisnis, diantaranya milik Pemerintah Jepang dan saham terbanyak adalah publik Jepang, hal inilah yang membuat Inpex begitu kokoh hingga saat ini, berikut ulasan entitas saham gabungan Inpex.
1). Kementrian Ekonomi,Perdagangan, dan Industri Jepang (METI)
Pemerintah Jepang secara langsung terlibat dalam kepemilikan saham di Inpex,melalui Kementrian Ekonomi,Perdagangan, dan Industri pemerintah Jepang punya 23,12 persen saham di Inpex dengan jumlah kurang lebih 276,9 juta lembar saham. Angka tersebut menempatkan Pemerintah Jepang menempati posisi ke dua kepemilikan Saham Inpex.
Kementrian METI memang memiliki yurisdiksi atas bidang kebijakan yang luas, yang memuat kebijakan industri/perdagangan Jepang, keamanan energi, pengawasan ekspor senjata, dan sebagainya.
2). BlockRock,Inc
Nama perusahaan BlackRock (BlackRock, Inc.) sering “wara-wiri” di pemberitaan saham tanah air. Hal ini tak mengherankan, mengingat perusahaan multinasional yang berbasis di New York, Amerika Serikat ini merupakan pemegang saham emiten-emiten bluechip dari berbagai industri di dunia, termasuk Indonesia termasuk kepemilikan saham di Inpex sebesar 5,83 persen, dengan jumlah saham 69,8 juta lembar.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia dan Bloomberg Terminal, per Januari 2025, beberapa emiten besar Indonesia yang sahamnya dimiliki BlackRock di antaranya, PT Alamtri Resources Indonesia (ADRO) sebanyak 528,22 juta saham, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebanyak 808,78 juta saham, PT Barito Renewables Energi Tbk (BREN) sebanyak 130,41 juta saham, dan saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) sebanyak 228,03 juta saham per Desember 2024.
Selain emiten-emiten di atas, BlackRock juga memiliki saham perusahaan-perusahaan besar lain, seperti PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).
Di lingkup global, BlackRock juga tercatat sebagai pemilik saham perusahaan-perusahaan raksasa seperti Apple, Microsoft, Amazon, Google, hingga Tesla. (Bersambung)

Saat ini belum ada komentar