Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Nasib Petani Pala Banda di Tengah Krisis Iklim: Harga Melambung Saat Panen Seret

  • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
  • visibility 450
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Mayoritas petani Bala Banda mengeluh cuaca berubah tak menentu. Anomali cuaca dampak dari krisis iklim, mempengaruhi hasil panen dan kualitas buah pala sejak tiga tahun terakhir.  

Penulis : Jaya Barends-Dekrit Maluku

Ringkasan:

  • Hujan tanpa henti disertai angin kencang mengakibatkan Pala Banda mudah rusak.
  • Biji pala berkerut, bobot ringan dan bentuknya cacat dan tidak lonjong.
  • Anomali iklim berbarengan dengan fenomena Ombong Mei turut merusak tanaman pala.
  • Krisis iklim dapat memperkuat Ombon Mei karena peningkatan suhu laut.
  • Saatnya petani menghidupkan kembali pertanian intensif.

 

KERUTAN usia tampak jelas di wajah Halid Bugal. Napasnya tak beraturan ketika bercerita, hasil panen yang seret. Pria 75 tahun itu, sedih karena Pala Banda di kebunnya kini mudah busuk dan rontok.

“Hujan sering turun bikin pala gampang rusak,” ujar Halid, pertengahan Desember 2025.

Pohon pala di kebunnya berusia di atas 25 hingga 40 tahun, peninggalan masa kolonial. Sebagian lagi berumur 10 tahun, batangnya menjulang tinggi dan harusnya pada fase produktif.

Namun hujan tanpa henti disertai angin kencang menerpa Negeri Selamon, Pulau Banda Besar, Maluku Tengah, merusak buah pala dan gugur bunga. Bahkan buah Myristica fragrans berukuran besar, kondisinya kempes.

“Buah pala tar (tidak) bulat, kualitasnya juga turun karena kempes,” ungkapanya.

Halid bilang kondisi biji pala berkerut, bobot ringan dan bentuknya cacat serta tidak lonjong. Usai dikeringkan, jika digoyang terdengar gemerincing.

“Kondisi biji sekarang begitu, kini bisa dibilang temui pala super sudah sulit.”

Halid Bugal, petani Pala Banda Negeri Selamun.(dekritmaluku/Jaya Barends)

Tak heran, harga biji pala di pasaran juga mengikuti kualitas panen, berkisar antara Rp161 ribu-Rp 300 ribu per kilogram (Kg). Sedangkan, fuli atau bunga pala Rp 250 ribu per Kg.

Sudianto Bugal, kerabat Halid, mengeluhkan hal serupa. Ia menyebut sejak 2024, curah hujan dominan menyebabkan hasil panen seret saat harga pala melambung.

Herman Rehatta, pakar budidaya pertanian turut membenarkan uraian Sudianto. Di 2024 pula, ia meneliti pala di Pulau Banda Besar, Ay dan Naira.

Mayoritas petani pala, mengeluhkan pergantian musim panas dan hujan makin tidak jelas. Keadaaan tersebut, dampak dari krisis iklim yang turut merubah siklus alami iklim dan pola curah hujan.

Dampak lain, suhu permukaan laut meningkat—mempengaruhi pola angin dan pembentukan awan. Pada gilirannya, mengubah pola curah hujan.

“Kondisi itu jadi tantangan serius terutama pertanian karena mempengaruhi panen,” jelas dosen pensiunan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon tersebut.

Pada 2025,  Sudianto kembali mengalami penurunan hasil panen akibat hujan tanpa jeda sejak Januari hingga Agustus. Kondisi ini tidak sesuai pola iklim unimodal di Kepulauan Banda hanya satu puncak musim hujan.

Umumnya, musim hujan terjadi pada Desember hingga Februari. Sementara musim kemarau berlangsung Juni hingga Agustus.

Petani mengambil Pala Banda yang gugur ke tanah di Perkebunan Pala, Pulau Ay.(dekritmaluku/Jaya Barends)

Sudianto menjelaskan bahwa anomali iklim berbarengan dengan fenomena Ombong Mei turut merusak tanaman pala. Ombong Mei, kata dia, sebutan khas Kepulauan Banda untuk angin kencang dan uap udara dingin ekstrem.

Fenomena itu berlangsung Mei hingga Agustus, bertetapatan musim panen pala pertama Mei-April. Namun panen kedua September-Oktober, tidak terdampak.

“Tetapi Ombong Mei disertai hujan mengguyur sepanjang tahun, berujung panen merosot,” keluhnya.

Tentu, ekonomi keluarga Sudianto terganggu akibat panennya seret. Ia terpaksa hanya melaut untuk bertahan hidup, namun beban pikiran akan kegagalan panen terus menghantui.

Wajah Sudianto kala itu kuyuh, tatapannya datar sambil bersandar di dinding ruang tamu. Tak berselang lama, ia mengatakan kerusakan buah pala tidak masif bila pohon pelindung dipertahankan.

“Pala yang rusak jauh lebih kecil jika ada pohon pelindung,” ungkapnya.

“Tapi kan hari ini lahan semakin sempit, makanya ditebang untuk membuka lahan baru,” tambahnya.

Praktik Lokal Hadapi Perubahan 

Herman Rehatta menegaskan penebangan pohon pelindung (barrier) justru memperparah dampak Ombong Mei. Sejak dahulu, petani mengandalkan barrier untuk mengurangi dampak angin dan cuaca ekstrem.

Ia menjelaskan pada Mei terjadi masa pancaroba, secara lokal disebut Ombong Mei. Fenomena ini dipicu oleh penguapan Laut Banda. Melalui angin, massa air mengandung garam terbawa angin ke daratan.

Peralihan antara musim hujan dan kemarau itu mengakinatkan ketersedian air tidak seimbang. Ia menjelaskan, kelebihan air dari hujan mendadak atau kekeringan sementara, mempengaruhi penyerapan nutrisi tanaman.

“Suhu udara pun mengalami fluktuasi ekstrem antara siang dan malam mengakibatkan tanaman strees dan mempengaruhi metabolisme dan fisiologi sehingga proses penuaan pada bunga dan buah muda,” jelasnya.

Akibatnya bunga pala, daun, dan buah muda gugur. Meski demikian, tidak semua pohon terdampak dan akan kembali pulih seiring waktu.

Namun Herman mengingatkan krisis iklim dapat memperkuat Ombon Mei karena peningkatan suhu laut memperbesar penguapan dan curah hujan.

Buah pala tampak mengerut—permukaannya dipenuhi bercak cokelat dan mengering.(dekritmaluku/Jaya Barends)

Sebagai solusi, ia menyarankan habilitasi pohon pelindung  seperti kenari, durian, sengon dan lengguna.

“Yang paling baik adalah pohon kenari karena ukurannya besar,” jelasnya.

Selain itu, petani juga disarankan mengamati tanda-tanda alam atau nanaku sebagai langkah mitigasi.

“Tidak ada cara menghentikan Ombong Mei, yang bisa dilakukan hanya mengurangi dampaknya. Petani biasanya mengenali tanda-tandanya melalui nanaku.”

La Musara Ode Ungu, petani pala asal Pulau Ay menjelaskan bahwa nanaku ditandai udara dingin disertai kabut.

Sebagai langkah antisipisi, ia membakar kayu di kebun untuk menghasilkan asap yang dipercaya mengusir kabut mengendap di ranting.

Kondisnya makin runyam, sebutnya kala hujan mengguyur tanpa jeda sepanjang Mei. Namun Asti, istri dari Subuh Sidek punya solusi berbeda. Ia bercerita almarhum ayahnya membuat ‘rumah api’ sederhan di kebun.

Bangunan kecil itu, terbuat dari empat tiang kayu dengan atap seng untuk melindungi api dari hujan. Asap dari hasil pembakaran, dipercaya mengurangi kelembapan.

Selain itu, didukung pohon kenari yang rimbun sebagai pelindung alami. “Alhamdulillah, pala yang rusak tidak terlalu parah,” jelasnya sembari berujar, suaminya juga turut mempraktikkan.

Strategi Panen dan Pertanian Intensif

Beda dengan petani lain, misal Musara tidak lagi menunggu buah pala matang sempurna. Namun keputusan panen lebih awal, ia biasanya nanaku hujan selama tiga hari berturut-turut, awal Mei.

“Kalau hujan, berarti curah hujan lebih dominan dan tahu Ombong datang dari situ. Jadi pala segera dipanen,” katanya.

Panen pun tidak serampangan, ia hanya memilah buah pala tua untuk dipetik. Menyisakan buah muda di pohon lain.

Kini, pola panen tidak lagi seragam seperti dulu—dua kali setahun. Pohon pala tua, bercampur dengan tanaman baru, menciptakan panen skala kecil dua hingga tiga kali di luar kalender panen.

“Buah pala yang dipanen lalu dibelah, fuli dan biji diletakan di atas para-para. Berjarak 2-5 meter di atas perapian.”

Jika tidak hujan, pala dibiarkan matang di pohon hingga kulitnya kuning kecoklatan. Lantas merekah di dahan, mengikuti alurnya. Petani kerap menyebut, biji pala super.

Meski berada di tengah krisis iklim, Musara meyakini bahwa nanaku dianggap cukup akurat sebagai pedoman.

Mantan Kepala Negeri Administrasi Pulau Ay,  Jusuf Madja mengatakan nanaku cara lama membaca gejala alam—diwariskan turun termurun. Selain untuk pertanian, metode ini juga digunakan memprediksi ketersedian air.

Pulau Ay sendiri mengalami krisis air berkepanjangan akibat struktur tanah karang dan minim mata air. Warga pun sangat bergantung pada air hujan.

“Kalau tidak ada hujan, pemakaian air harus lebih hemat,” kata Jusuf.

Disampingnya, Bahar Harun mengangguk pelan. Tubuhnya tegap, kulit sawo matang. Ia yang mendampingi perjalanan saya hari itu—Rabu, 17 Desember 2025—menyusuri kebun-kebun pala.

Bahar berjalan di depan, menuntun langkah, menapaki jalan setapak yang membelah rimbunnya pohon pala. Di sisi kiri, buah pala tampak mengerut—permukaannya dipenuhi bercak cokelat dan mengering. Kabut tipis, mengantung di antara dahannya.

Sisi kanan, hamaparan pohon pala berusia 10-15 tahun berdiri rapat, sarat buah. Sekitar lima meter dari situ, pohon kenari menjulang tinggi, seolah menjadi pelindung alami di tengah kebun.

“Sebagian pohon kenari ditanam petani dan ada juga peninggalan kolonial,” kata Bahar, membuka pembicaraan. Ia lantas menunjukan kebun pala miliknya, sebagian dahannya tampak tanpa buah pala.

“Sebagian baru belajar berbuah,” katanya. Pohon pala itu diperkirakan berumur 4-7 tahun.

Perjalan dilanjutkan ke kebun sayur yang berdekatan dengan kebun pala. Dari jauh, dua pria terlihat menusuk tanah dengan kayu, mengisi bibit terong lalu menutup kembali lubang tersebut.

Kedua pria itu juga memiliki kebun pala. Mereka memanfaatkan jedah panen pala untuk  menanam kacang panjang, cabe, tomat dan berbagai sayuran lain.

Pertanian model agroforestri itu juga dijalankan Harun Astar di kebunnya. Lahan miliknya, berada pada benteng alam perbukitan Negeri Administrasi Lautang—menghadap ke laut dengan pemadangan Pulau Hatta.

Di lahan itu pula ditanam padi gogo, ubi larantuka dan sayuran. Pohon pala hanya beberapa batang saja, tidak seperti di lokasi kebun lain miliknya.

“Bibit pala yang ditanam, harus menghitung ketinggian perbukitan. Tidak sekedar tanam saja,” katanya.

Ia mengeklaim lahannya berada pada areal aman untuk budidaya pala. Hal serupa juga juga ditemukan di perbukitan di bagian tengah, buah pala umumnya matang sempurna.

Kondisi berbeda terjadi di perbukitan atasnya lagi. Wilayah tersebut, buah pala gampang rusak. Saat Ombong Mei, bila tidak segera dipanen, buah masih muda cenderung cepat membusuk dan dan gugur. Kondisi ini lebih para di tengah krisis iklim saat ini.

“Buah pala banyak, tetapi saat Ombong Mei agak sulit mendapatkan buah yang benar-benar matang,” jelasnya.

Ia menambahkan wilayah tersebut memiliki suhu yang lebih dingin dan tingkat kelembapan tinggi. Sejak masa kolonial, area itupun tidak dimanfaatkan sebagai perkebunan pala.

Pohon pelindung seperti kenari memang tumbuh di sana. Namun berfungsi sebagai pelindung bagi perkebunan pala di bagian bawah perbukitan.

Herman Rehatta mengatakan idealnya budidaya tanaman pala pada lahan dengan kemiringan lereng 0-20 %. Lahan yang miring, mengurangi kemungkinan akar tergenang air.

Selain itu, pala dapat berproduksi baik pada ketinggian tempat 0 – 700 meter di atas permukaan laut (mdpl).“Namun, makin tinggi tempat maka produksi makin rendah,” jelasnya.

Khusus untuk syarat tumbuh, ia melanjutkan, iklim juga mempengaruhi penyebaran dan populasi hama dan penyakit tanaman (HPT). Namun, penilitiannya kala itu tidak menganalisis iklim mempengaruhi HPT lebih jauh.

“Saat penilitian, menemukan kerusakan pala akibat serangan hama dan penyakit tiga lokasi berbeda. Di Pulau Ay, misalnya terdapat serangan penggerek batang,” jelasnya.

“Selanjutnya rayap, busuk buah basah, busuk buah kering dan keriting pucuk daun,” tambahnya. Ia mengungkap berdampak terhadap penurunan produksi 10 – 25 persen.

Bagi Herman produktivitas pala pada dasarnya dipengaruhi banyak hal. Bukan saja faktor genetik, hama dan iklim tetapi tindakan budidaya yang tidak intensif.

Untuk itu, sudah saatnya petani menghidupkan kembali pertanian intensif. Di antaranya, menjaga jarak tanam. rutin membersihkan sanitasi di kebun dan benih serta bibit tersertifikasi.

“Sebab, rendahnya produksi dan produktivitas ini sebagai akibat pengaruh iklim dan teknik budidaya yang belum intensif,” ungkapnya.

  • Penulis: Editor

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jejak Tender Gagal T.2023, Irigasi Sariputih Rubuh Hingga Video APH di TKP

    Jejak Tender Gagal T.2023, Irigasi Sariputih Rubuh Hingga Video APH di TKP

    • calendar_month Senin, 8 Sep 2025
    • visibility 454
    • 0Komentar

    AMBON.-DM; Negeri Sariputih merupakan salah satu dari 12 Negeri yang ada di wilayah Seranm Utara Timur Kobi, berdasarkan pemuktahiran data keluarga tahu 2021, desa ini punya 18 RT dan 4 RW dengan jumlah kepala keluarga 415 terdiri dari 768 jiwa laki-laki dan 694 jiwa perempuan. Meski demikian di kawasan ini ada proyek senilai belasan miliar […]

  • Muh. Ulwan Talaohu dan Rekam Pengalaman di Maluku

    Muh. Ulwan Talaohu dan Rekam Pengalaman di Maluku

    • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
    • visibility 259
    • 0Komentar

    Empat Jembatan Piru–Taniwel Tuntas, Pelaksanaan Berpedoman pada Ketentuan dan Pengawasan   AMBON.-DEMAL ; Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Maluku memberikan penjelasan resmi terkait informasi mengenai pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan nasional yang berkembang di sejumlah media dan ruang publik. BPJN Maluku menegaskan bahwa setiap pelaksanaan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan nasional dilakukan melalui mekanisme perencanaan, […]

  • Pemrov Klaim, Pencairan GU Dikbud Maluku Tak Ada Masalah

    Pemrov Klaim, Pencairan GU Dikbud Maluku Tak Ada Masalah

    • calendar_month Kamis, 28 Agt 2025
    • visibility 361
    • 0Komentar

    AMBON-DM : Pemerintah Provinsi Maluku menegaskan, proses transaksi keuangan di lingkup Organisasi Perangkat Daerah (OPD) semuanya tercatat dan tertanggungjawab berbasis digital. Ketegasan ini menyusul adanya tudingan  terkait anggaran Dinas Pendidikan Provinsi Maluku senilai Rp9 miliar yang dipakai tanpa adanya SPJ bahkan sebagiannya disebut untuk membayar hutang. “ Dicek dulu kebenaran informasinya, itu sangat tidak mungkin […]

  • Nobar Pildun di Langgur tidak Sekadar Hiburan, UMKM Ikut Dilibatkan

    Nobar Pildun di Langgur tidak Sekadar Hiburan, UMKM Ikut Dilibatkan

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • visibility 167
    • 0Komentar

    LANGGUR.-DEMAL ; Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara memanfaatkan aktivitas nonton bareng Piala Dunia 2026 tak hanya sebagai hiburan masyarakat, tetapi juga dikelolah untuk penggerak ekonomi lokal mendorong pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus memperluas promosi produk lokal, serta memperkuat perputaran ekonomi masyarakat di daerah. Untuk memantapkan program ini, langkah persiapan dibahas secara serius dalam […]

  • Dukung Kebijakan Gubernur, Kadin Sebut Rencana Pinjaman Rp1,5 T,Percepat Pembangunan

    Dukung Kebijakan Gubernur, Kadin Sebut Rencana Pinjaman Rp1,5 T,Percepat Pembangunan

    • calendar_month Minggu, 23 Nov 2025
    • visibility 435
    • 0Komentar

    AMBON.-DEMAL; Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Maluku menyatakan dukungan penuh terhadap rencana Pemerintah Provinsi Maluku yang akan mengajukan pinjaman sebesar Rp1,5 triliun. Pinjaman tersebut dinilai sebagai langkah strategis untuk menstimulasi perekonomian daerah yang membutuhkan dorongan signifikan pada 2026 mendatang. Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Ekonomi Kadin Maluku, Temi Talaohu dalam rilisnya yang diterima media, menegaskan […]

  • Skandal “Mata Rumah Palsu” di Negeri Batu Merah (Bag-III)

    Skandal “Mata Rumah Palsu” di Negeri Batu Merah (Bag-III)

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • visibility 512
    • 0Komentar

    Pakar Bongkar Kebohongan Naskah Historiseh Negorij Batoemerah (Batu Merah)   Dalam dokumen yang menceritakan tentang sejarah Negeri Batu Merah dengan segel 1,5 Gulden berjudul Historiseh Negorij Batoemerah mengisahkan awal mula berdirinya negeri tersebut di Gunung Zoya (Soya). Sejarah ini juga menguraikan kedatangan Bangsa Portugis di tanah Ambon, perang-perang yang terjadi pada masa lalu,juga peristiwa kedatangan […]

expand_less