Membaca Taktik Narasi Pasif Media Barat untuk “Mendukung” Agresi AS-Israel ke Iran
- calendar_month Sel, 17 Mar 2026
- visibility 116
- comment 0 komentar

Animasi
Cerita Alan Macleod rupanya masih bersambung. Setelah serangan 7 Oktober yang dilancarkan oleh Israel, CEO perusahaan, Mark Thompson, mengirimkan memo kepada seluruh staf yang menginstruksikan mereka untuk memastikan bahwa Hamas (dan bukan Israel) yang dianggap bertanggung jawab atas kekerasan tersebut.
Oleh : Hendrajit, pengkaji geopolitik, Global Future Institute.
JAKARTA.-DEMAL : Apa kabar Indonesia? Sekarang mari kita telaah liputan-liputan media Barat sehubungan dengan Serangan yang dilancarkan AS-Israel ke Iran sejak akhir Februari lalu.
Ada ciri umum yang menarik, kalau saya cermati dari gaya pemberiaan hingga bagaimana narasinya disampaikan. Tampaknya selalu menggunakan kalimat pasif alih-alih aktif.
Di seluruh Barat, media korporat telah menggunakan taktik yang sama, yaitu menggunakan kalimat pasif dan tidak menyebutkan pelaku ketika menggambarkan agresi AS/Israel. Contoh sempurna dari hal ini adalah judul berita BBC, “Setidaknya 153 tewas setelah dilaporkan terjadi serangan di sekolah, kata Iran.
“Iran memilih kekacauan” demikian judul buletin New York Times, yang menggambarkan Republik Islam sebagai aktor utama.
Surat kabar Free Press malah menggunakan kalimat-kalimat yang lebih agresif lagi, seolah-olah sebuah pamflet untuk menggerakkan aksi massa. “Perang adalah kesempatan terbaik rakyat Iran untuk meraih perdamaian,” menggambarkan kejahatan AS/Israel sebagai tindakan belas kasihan terhadap penduduknya yang telah lama menderita.
Dalam mewartakan para korban perang pun beberapa media Barat cenderung bias. Misalnya saja Washington Post, menulis (penekanan ditambahkan): “Israel mendesak evakuasi pinggiran kota Beirut selatan; Iran mengancam akan membalas dendam kepada AS atas kapal perangnya.” Sehingga muncul kesan di benak pembaca kalau Israel merupakan pihak yang berupaya dengan itikad baik untuk mengurangi korban sipil, sementara respons Iran terhadap serangan dan penenggelaman kapal mereka di perairan internasional digambarkan sebagai ancaman.
Taktik umum lain yang digunakan media untuk mendelegitimasi adalah dengan menyebut Iran sebagai “rezim” (misalnya, Bloomberg , Washington Post , Wall Street Journal , Financial Times , CNN , NBC News ).
Kata “rezim” mencerminkan politik keredaksian media-media korporat arus utama di Amerika untuk secara sengaja atau bisa juga mewakili alam bawah sadar pemihakah Barat kepada negara-negara non-Eropa untuk memojokkan pemerintah, dan mendorong pembaca untuk menentangnya. Frasa “rezim Israel” hampir tidak pernah digunakan, kecuali dalam kutipan dari pejabat Iran.
Stasiun televesi Amerika yang berhaluan liberal dan cenderung pro partai demokrat alih-alih partai republik, CNN, ternyata kalau urusan liputan perang, tetap saja ngepro AS dan sekutu-sekutunya.
Coba simak penarasiannya. Ketika sejumlah besar pasukan Israel menginvasi Lebanon selatan, beberapa media Barat berupaya mencari cara untuk menampilkan operasi tersebut sebagai sah, termasuk menggunakan frasa “menyeberang ke Lebanon” secara halus untuk menggambarkan invasi tersebut, atau bahkan menyalahkan Hizbullah atas kekerasan tersebut.
CNN, misalnya, menulis bahwa, “Hizbullah menyeret Lebanon ke dalam perang melawan Iran.” Dalam bagian lain CNN menulis, “Hizbullah baru saja memulai kembali pertempuran yang ditunggu Israel untuk diakhiri.” Sehingga berita tersebut sengaja atau tak sengaja memutar-balikkan kenyataan siapa yang menyerang siapa.

Saat ini belum ada komentar