Mafindo Latih Anak dan Remaja Gereja Lawan Hoaks
- calendar_month Rab, 9 Jul 2025
- visibility 390
- comment 0 komentar

AMBON-DM : Di tengah gelombang deras informasi digital yang kian sulit dibendung, upaya membangun benteng literasi bagi generasi muda menjadi sangat mendesak. Menyadari hal ini, Jemaat GPM Kusu-kusu Sereh menggelar kegiatan “Bakudapa Anak dan Remaja” pada Selasa (8/7/2025) di Gedung Gereja Bethfage, yang diwarnai dengan sesi edukatif dan pelatihan periksa fakta dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Wilayah Maluku.
Kegiatan ini bukan sekadar temu edukatif biasa, melainkan sebuah langkah nyata membekali anak-anak dan remaja dengan keterampilan dasar untuk menyaring informasi serta menangkal hoaks yang menyebar luas di media sosial.

Tiga narasumber dari Mafindo Maluku hadir dan berbagi pengetahuan serta pengalaman mereka. Mereka menyasar dua aspek utama, kesadaran akan bahaya hoaks, dan keterampilan teknis untuk melakukan fact-checking secara mandiri.
Wellsy Bakarbessy, Sekretaris Wilayah Mafindo Maluku, dalam pemaparannya menekankan pentingnya memahami konteks zaman yang sarat dengan informasi palsu dan manipulatif. Ia juga menyinggung tantangan baru dalam dunia digital, seperti penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) untuk menyebarkan hoaks yang lebih canggih dan meyakinkan.
“Anak-anak kita hari ini hidup dalam dunia yang tidak hanya digital, tapi juga penuh manipulasi informasi. Maka tugas kita adalah membekali mereka dengan alat berpikir kritis dan keterampilan digital agar mereka tidak mudah tertipu,” ungkap Wellsy.
Cheriwil Sameaputty, salah satu relawan Mafindo Maluku, turut memberikan materi yang bersifat praktis dan mudah dipahami. Ia mengajak peserta untuk mengenali ciri-ciri hoaks, termasuk dari gaya penulisan, sumber informasi, dan emosi yang biasanya dimainkan dalam berita palsu.
“Kenapa hoaks terus beredar? Karena kita sering mempercayai tanpa memverifikasi. Literasi digital itu bukan cuma tahu cara pakai gadget, tapi juga tahu cara kerja informasi,” terang Cheriwil dalam sesi tanya jawab.
Ia juga memberi penekanan pada pentingnya tidak langsung membagikan pesan yang provokatif atau belum jelas kebenarannya kebiasaan yang kerap terjadi di kalangan pengguna media sosial, bahkan di lingkup keluarga dan komunitas.
Bagian paling menarik dari kegiatan ini adalah sesi pelatihan langsung periksa fakta yang dipandu oleh Abubakar Difinubun, selaku PIC OPSDM Mafindo Maluku. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk membongkar berita-berita viral, menganalisis gambar, mengecek situs, hingga menggunakan alat bantu daring seperti Google Reverse Image Search dan situs pengecek fakta terpercaya.

“Anak-anak ternyata bisa cepat belajar cara verifikasi berita. Mereka antusias, dan itu menunjukkan bahwa pendidikan literasi digital sangat mungkin dilakukan sejak dini,” ujar Abubakar usai sesi pelatihan.
Melalui metode simulasi dan studi kasus nyata, para peserta tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga langsung mempraktikkan keterampilan yang relevan dengan kehidupan digital mereka sehari-hari.
Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa gereja, sebagai pusat spiritual dan komunitas, dapat memainkan peran penting dalam melindungi generasi muda dari ancaman informasi palsu. Bakudapa Anak dan Remaja bukan hanya ruang tumbuh dalam iman, tapi juga medan latihan berpikir kritis dan bertanggung jawab di era digital.
Hoaks tidak hanya merusak individu, tetapi juga mencederai relasi sosial, merusak reputasi, bahkan memicu konflik horizontal. Karena itu, edukasi yang dimulai dari lingkup kecil seperti jemaat ini punya dampak besar jika terus dikembangkan.
Panitia berharap agar kegiatan serupa bisa menjadi agenda rutin dan menjangkau lebih banyak anak-anak dan remaja di wilayah lain. Kegiatan ini juga menegaskan bahwa perang melawan hoaks bukan hanya tanggung jawab media dan pemerintah, tapi juga lembaga keagamaan, komunitas, dan keluarga.(*)
Editor : Abd Karim

Saat ini belum ada komentar