Selasa, 4 Agu 2026
light_mode

Curhat Salah Orang: Ketika Self-Disclosure Membuka Jalan Perselingkuhan

  • calendar_month Jum, 9 Jan 2026
  • visibility 664
  • comment 0 komentar

Penulis: Kelly Ayu Anggraeni
Program Studi Magister Ilmu Komunikasi-Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta

 

Perselingkuhan saat ini sudah tidak lagi dimulai dari niat jahat atau sesuatu pertemuan yang direncanakan. Perselingkuhan tetap senyap, perlahan, nyaris tak terasa, mulai dari percakapan yang pada awalnya tampak biasa dan sah, dari curhat yang dibenarkan oleh kelelahan hidup. Dari pesan singkat yang dibalas karena “sekadar sopan”. Dari direct message yang berlanjut karena ada yang mau mendengar. Tidak ada “kamar hotel”, tidak ada “janji temu”. Yang ada hanya layar, kata-kata, dan rasa aman karena tak ada saksi.

Di ruang privat digital itu, batas relasi tidak runtuh sekaligus, namun perlahan bergeser, Setiap pesan malam hari terasa wajar. Setiap cerita pribadi terasa perlu. Hingga suatu hari, keintiman sudah berpindah tangan, sementara pengkhianatan belum pernah diucapkan. Perselingkuhan pun terjadi bukan sebagai pelanggaran yang disadari, melainkan sebagai kebiasaan emosional yang dibiarkan terus tumbuh,tanpa niat awal, tanpa kesadaran penuh, tanpa keberanian untuk berhenti.

Di ruang digital, keterbukaan tidak lagi menuntut keberanian untuk saling menatap, cukup hadir lewat layar, melalui kata-kata yang dibagikan perlahan, ada berupa luka yang diceritakan setengah sadar, dan penuh emosional yang akhirnya menemukan telinga baru, Di ruang digital, tidak mengharuskan ada sentuhan, tidak ada janji. Hanya percakapan yang terus berulang, sampai kejujuran terasa lebih nyaman diberikan di luar relasi yang seharusnya dijaga.

Perselingkuhan emosional kerap berangkat bukan dari hasrat, melainkan dari rasa dimengerti. Bukan lagi dari rencana, tetapi dari kelelahan yang diceritakan kepada orang yang salah. Dari curhat yang berpindah tangan, lalu menetap di ruang yang seharusnya bukan miliknya. Di titik inilah keterbukaan diri yang selama ini dipuja sebagai tanda kedewasaan emosional, perlahan berubah menjadi celah pengkhianatan yang nyaris tak pernah disadari sebagai pengkhianatan.

Fenomena ini sejatinya bukan semata soal moral yang runtuh atau komitmen yang melemah, melainkan persoalan komunikasi, dimana keterbukaan bekerja, ke mana sebuah percakapan diarahkan, dan bagaimana emosi perlahan berpindah tanpa pernah diumumkan. Dalam kajian komunikasi kontemporer, keterbukaan diri tidak pernah dipahami sebagai tindakan netral, namun selalu membawa konsekuensi relasional, yakni: mendekatkan, mengikat, dan dalam situasi tertentu, menggeser loyalitas emosional dari satu relasi ke relasi lain.

Dalam literatur mutakhir, self-disclosure dipahami sebagai proses ketika individu membagikan informasi personal, baik itu melalui pikiran, perasaan, hingga pengalaman emosional, hal tersebut dimaksudkan untuk membangun kedekatan dan memperoleh pemahaman dari pihak lain, keterbukaan, dengan demikian, bukan sekadar kejujuran spontan, melainkan praktik sosial yang membentuk struktur hubungan, dimana setiap cerita pribadi yang dibagikan tidak hanya membuka diri, tetapi juga sedang menanamkan posisi emosional dalam relasi tersebut (Greene & Burleson, 2023).

Penelitian terbaru dalam komunikasi interpersonal menegaskan bahwa keintiman tumbuh seiring meningkatnya kedalaman self-disclosure, terutama ketika keterbukaan menyentuh ranah emosi, luka personal, dan konflik relasional, dalam hal ini semakin personal isi keterbukaan, maka semakin kuat ikatan emosional yang terbentuk, bahkan ketika relasi itu tidak memiliki status resmi atau legitimasi sosial, daalam logika komunikasi, keintiman tidak setia pada label hubungan, melainkan pada intensitas keterbukaan (Ledbetter & Wright, 2024).

Masalah muncul ketika keterbukaan emosional yang seharusnya memperdalam relasi utama justru dialihkan ke pihak lain., paada titik ini, keintiman tidak berpindah karena niat mengganti pasangan, melainkan karena emosi mengikuti alur komunikasi yang paling sering dan paling dalam dibuka, hal demikian telah dibuktikan riset yang menunjukkan bahwa self-disclosure yang berulang kepada orang yang sama secara signifikan meningkatkan kedekatan emosional, terlepas dari apakah hubungan tersebut dimaksudkan sebagai relasi romantis atau tidak (Vaterlaus, Beckert, & Jones, 2023).

Lebih jauh, keterbukaan diri bekerja secara resiprokal, di mana self-disclosure hampir selalu mengundang balasan keterbukaan, menciptakan siklus kedekatan emosional yang semakin cepat dan semakin intens sehingga muncul rasa “saling memahami” yang kerap disalahartikan sebagai koneksi istimewa, padahal ia adalah konsekuensi alamiah dari pertukaran emosi yang terus berulang (Zhang & Dailey, 2024).

Dalam ruang digital, proses ini berlangsung jauh lebih cepat dan minim hambatan. Penelitian komunikasi digital menunjukkan bahwa interaksi berbasis pesan instan mendorong individu membuka emosi lebih dalam dibandingkan komunikasi tatap muka, karena layar memberi rasa aman, kendali, dan jarak semu, namun keintiman yang tumbuh di ruang ini sering kali tidak disertai kesadaran batas, karena komunikasi kemudian berkembang dalam percakapan privat yang nyaris tanpa saksi (Kircaburun,et,al, 2024).

Di titik inilah self-disclosure berubah dari jembatan keintiman menjadi lorong sunyi pengkhianatan, bukan karena keterbukaan itu keliru, tetapi karena komunikasi sudah ditempatkan pada ruang yang salah, sehingga menimbulkan perselingkuhan yang penuh emosional, yang ditimbulkan akibat hasil dari keterbukaan emosional yang dibiarkan mengalir tanpa kendali, hingga suatu hari, keintiman telah berpindah, sementara komitmen tak pernah diajak bicara (McDaniel & Drouin, 2023).

Dalam hubungan romantis, pasangan seharusnya menjadi ruang utama self-disclosure, ruang yang paling sah untuk bercerita tanpa takut dihakimi, emosi dibagi, konflik dibicarakan, dan kelelahan mental dipulihkan, namun pada kenyataannya, dalam hubungan dengan pasangan tidak selalu seideal teori. Dalam hal ini ada pasangan yang sibuk, ada pula yang defensive, ada yang lelah lebih dulu sebelum sempat mendengar, ada pula yang hadir secara fisik, tetapi absen secara emosional, akbibat hal tersebut, menimbulkan celah dimana keterbukaan mulai mencari jalan lain.

Ketika seseorang merasa tidak didengar, maka sesorang tersebut mulai memendekkan ceritanya. Ketika merasa tidak dipahami, maka akan berhenti menjelaskan. Dan ketika konflik yang sama terus berulang tanpa penyelesaian, curhat berubah menjadi kelelahan. Pada titik ini, seseorang tidak sedang mencari selingkuhan, melainkan berusaha mencari tempat bernapas.

Awalnya nyaris tak terasa, berawal dari keluhan ringan pada rekan kerja setelah jam kantor, berisi chat percakapan singkat dengan teman lama yang “kebetulan” menanyakan kabar. Atau obrolan daring dengan orang asing yang tidak punya sejarah konflik. Tidak ada rahasia besar, hanya cerita kecil yang dibiarkan mengalir.

Namun dari situlah arah mulai bergeser, awalnya hanya berupa pesan singkat, perlahan menjadi lebih panjang, waktu bercerita menjadi lebih larut, masalah yang seharusnya dibicarakan di rumah justru lebih dulu diketik di layar ponsel, semua menjadi bukan sekadar cerita, melainkan fungsi emosional pasangan yang telah menemukan tempat untuk didengar, dimengerti, dan merasa aman.

Sehingga pada titik inilah “curhat” berhenti menjadi “aktivitas netral”. Seseorang mulai menunggu balasan dari orang lain, bukan dari pasangannya. Mulai merasa lebih tenang setelah berbicara dengan “teman curhat”, bukan setelah berdiskusi di rumah. Bahkan mulai menyaring cerita, diman cerita ringan diberikan untuk pasangan, sedangkan yang emosional untuk orang lain. Tanpa disadari, keintiman telah berpindah tangan.

Kondisi inilah yang dalam kajian relasi disebut sebagai emotional infidelity, yaitu: keterlibatan emosional di luar hubungan utama yang melanggar eksklusivitas hubungan, meskipun tidak melibatkan sentuhan fisik, tidak memiliki tanda-tanda dramatis seperti perselingkuhan klasik, bahkan Tidak ada hotel, tidak ada janji temu, yang ada hanyalah percakapan yang intens. Justru karena itu, perselingkuhan emosional kerap dianggap “tidak apa-apa”. Tidak terlihat. Tidak disaksikan. Tidak bisa ditunjuk sebagai kesalahan yang kasat mata. Keberlangsungan yang sunyi, rapi, dan sering kali dibungkus dengan justifikasi: “sekadar curhat”, “cuma teman”, “tidak ada apa-apa”. Padahal yang sering luput disadari adalah hubungan tidak rusak karena tubuh yang berpindah, melainkan karena emosi yang lebih dulu pergi, ketika curhat telah berpindah arah, hubungan mungkin masih utuh secara status. tetapi sesungguhnya sudah retak secara keintiman.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pekerjaan Wae Bake Tuntas, Upah Tukang  Belum dibayar

    Pekerjaan Wae Bake Tuntas, Upah Tukang Belum dibayar

    • calendar_month Sen, 2 Feb 2026
    • visibility 610
    • 0Komentar

    AMBON.-DEMAL: Sejumlah tukang yang mengerjakan proyek Wae Bake  Ory mengeluh, upah mereka belum dibayarkan hingga saat ini, padahal proyek itu telah tuntas dikerjakan sesuai kalender. Sesuai dengan papan proyek, proyek yang dibiayai Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Maluku Tengah tahun anggaran 2025 dimenangkan  oleh CV Sunrise Utama. Perusahaan tersebut beralamat di Desa Batu Merah, […]

  • Dua Mahasiswa KKM UGM Meninggal Dunia, Pemkab Malra Berduka 

    Dua Mahasiswa KKM UGM Meninggal Dunia, Pemkab Malra Berduka 

    • calendar_month Sel, 1 Jul 2025
    • visibility 399
    • 0Komentar

    AMBOM-DM : Dua mahasiswa asal Universitas Gadja Mada (UGM) dinyatakan meninggal dunia dalam peristiwa tenggelamnya loang boat di Maluku Tenggara. Selasa,1 Juli 2025. Bupati Kabupaten Maluku Tenggara M. Thaher Hanubun mengatakan, sesuai informasi sementara yang didapati, tenggelamnya loang boat itu diakibatkan oleh cuaca yang buruk dan gelombang tinggi.  “ Saya telah memerintahkan untuk dilakukan investigasi […]

  • 52 Mahasiswa KKN UGM Kembali Sambangi Warga Maluku Tenggara

    52 Mahasiswa KKN UGM Kembali Sambangi Warga Maluku Tenggara

    • calendar_month Rab, 24 Jun 2026
    • visibility 54
    • 0Komentar

    LANGGUR.-DEMAL ; Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) memastikan seluruh rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat berjalan aman, lancar, dan sesuai prosedur keselamatan. Penegasan tersebut disampaikan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN PPM UGM, Leni Sophia Heliani, usai penerimaan resmi mahasiswa KKN PPM UGM dan Universitas Pattimura (Unpatti) di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Provinsi Maluku, […]

  • DPRD Maluku Belum Dilibatkan, Alhidayat Angkat Isu MIP di Forum KNPI

    DPRD Maluku Belum Dilibatkan, Alhidayat Angkat Isu MIP di Forum KNPI

    • calendar_month Rab, 4 Mar 2026
    • visibility 381
    • 0Komentar

      AMBON.-DEMAL ; Ketua Komisi III DPRD Provinsi Maluku, Alhidayat Wajo, menyoroti polemik rencana Maluku Integrated Port (MIP) dalam Dialog Pemuda yang digelar DPD KNPI Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), di Media Kafe, Graha Ambon Ekspres, Ambon. Rabu 4 Maret 2026. Dialog yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama itu mengangkat tema “Katong Bicara: Evaluasi Gagalnya […]

  • Ada “Hotel Berbintang” Dengan  Tiga Helipad di Lokasi Bendungan Way Apu 

    Ada “Hotel Berbintang” Dengan  Tiga Helipad di Lokasi Bendungan Way Apu 

    • calendar_month Jum, 27 Jun 2025
    • visibility 599
    • 0Komentar

    AMBON- DM : Pembangunan mega proyek strategis nasional (PSN) Bendungan Way Apu Kabupaten Buru, sampai saat ini belum juga rampung.  Proyek ini mulai dikebut pada tahun 2017, Pekerjaan konstruksinya terbagi menjadi 2 paket yaitu paket 1 berupa konstruksi bendungan utama oleh PT PP – Adhi Karya KSO dengan biaya Rp1,11 triliun dan paket 2 berupa […]

  • Pasal Penodaan Agama Jerat AV,  Esok Saksi Pelapor diperiksa

    Pasal Penodaan Agama Jerat AV, Esok Saksi Pelapor diperiksa

    • calendar_month Rab, 13 Agu 2025
    • visibility 683
    • 0Komentar

    AMBON-DM : Ditreskrimsus Polda Maluku telah melimpahkan kasus dengan terlapor Abdullah Vanath yang dilaporkan Serikat Mahasiswa Muslim Indonesia (SEMMI) ke Direktorat Kriminal Umum (Krimum). Pelimpahan ini dilakukan, karena penyidik tak menemukan cukup bukti untuk menjerat Abdullah Vanath dengan Undang-undang tentang informasi dan transaksi elektronik. Sebagai langkah awal, tanggal 6 Agustus Polda Maluku mengeluarkan Surat Pertintah […]

expand_less