Selasa, 4 Agu 2026
light_mode

Curhat Salah Orang: Ketika Self-Disclosure Membuka Jalan Perselingkuhan

  • calendar_month Jum, 9 Jan 2026
  • visibility 667
  • comment 0 komentar

Penulis: Kelly Ayu Anggraeni
Program Studi Magister Ilmu Komunikasi-Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta

 

Perselingkuhan saat ini sudah tidak lagi dimulai dari niat jahat atau sesuatu pertemuan yang direncanakan. Perselingkuhan tetap senyap, perlahan, nyaris tak terasa, mulai dari percakapan yang pada awalnya tampak biasa dan sah, dari curhat yang dibenarkan oleh kelelahan hidup. Dari pesan singkat yang dibalas karena “sekadar sopan”. Dari direct message yang berlanjut karena ada yang mau mendengar. Tidak ada “kamar hotel”, tidak ada “janji temu”. Yang ada hanya layar, kata-kata, dan rasa aman karena tak ada saksi.

Di ruang privat digital itu, batas relasi tidak runtuh sekaligus, namun perlahan bergeser, Setiap pesan malam hari terasa wajar. Setiap cerita pribadi terasa perlu. Hingga suatu hari, keintiman sudah berpindah tangan, sementara pengkhianatan belum pernah diucapkan. Perselingkuhan pun terjadi bukan sebagai pelanggaran yang disadari, melainkan sebagai kebiasaan emosional yang dibiarkan terus tumbuh,tanpa niat awal, tanpa kesadaran penuh, tanpa keberanian untuk berhenti.

Di ruang digital, keterbukaan tidak lagi menuntut keberanian untuk saling menatap, cukup hadir lewat layar, melalui kata-kata yang dibagikan perlahan, ada berupa luka yang diceritakan setengah sadar, dan penuh emosional yang akhirnya menemukan telinga baru, Di ruang digital, tidak mengharuskan ada sentuhan, tidak ada janji. Hanya percakapan yang terus berulang, sampai kejujuran terasa lebih nyaman diberikan di luar relasi yang seharusnya dijaga.

Perselingkuhan emosional kerap berangkat bukan dari hasrat, melainkan dari rasa dimengerti. Bukan lagi dari rencana, tetapi dari kelelahan yang diceritakan kepada orang yang salah. Dari curhat yang berpindah tangan, lalu menetap di ruang yang seharusnya bukan miliknya. Di titik inilah keterbukaan diri yang selama ini dipuja sebagai tanda kedewasaan emosional, perlahan berubah menjadi celah pengkhianatan yang nyaris tak pernah disadari sebagai pengkhianatan.

Fenomena ini sejatinya bukan semata soal moral yang runtuh atau komitmen yang melemah, melainkan persoalan komunikasi, dimana keterbukaan bekerja, ke mana sebuah percakapan diarahkan, dan bagaimana emosi perlahan berpindah tanpa pernah diumumkan. Dalam kajian komunikasi kontemporer, keterbukaan diri tidak pernah dipahami sebagai tindakan netral, namun selalu membawa konsekuensi relasional, yakni: mendekatkan, mengikat, dan dalam situasi tertentu, menggeser loyalitas emosional dari satu relasi ke relasi lain.

Dalam literatur mutakhir, self-disclosure dipahami sebagai proses ketika individu membagikan informasi personal, baik itu melalui pikiran, perasaan, hingga pengalaman emosional, hal tersebut dimaksudkan untuk membangun kedekatan dan memperoleh pemahaman dari pihak lain, keterbukaan, dengan demikian, bukan sekadar kejujuran spontan, melainkan praktik sosial yang membentuk struktur hubungan, dimana setiap cerita pribadi yang dibagikan tidak hanya membuka diri, tetapi juga sedang menanamkan posisi emosional dalam relasi tersebut (Greene & Burleson, 2023).

Penelitian terbaru dalam komunikasi interpersonal menegaskan bahwa keintiman tumbuh seiring meningkatnya kedalaman self-disclosure, terutama ketika keterbukaan menyentuh ranah emosi, luka personal, dan konflik relasional, dalam hal ini semakin personal isi keterbukaan, maka semakin kuat ikatan emosional yang terbentuk, bahkan ketika relasi itu tidak memiliki status resmi atau legitimasi sosial, daalam logika komunikasi, keintiman tidak setia pada label hubungan, melainkan pada intensitas keterbukaan (Ledbetter & Wright, 2024).

Masalah muncul ketika keterbukaan emosional yang seharusnya memperdalam relasi utama justru dialihkan ke pihak lain., paada titik ini, keintiman tidak berpindah karena niat mengganti pasangan, melainkan karena emosi mengikuti alur komunikasi yang paling sering dan paling dalam dibuka, hal demikian telah dibuktikan riset yang menunjukkan bahwa self-disclosure yang berulang kepada orang yang sama secara signifikan meningkatkan kedekatan emosional, terlepas dari apakah hubungan tersebut dimaksudkan sebagai relasi romantis atau tidak (Vaterlaus, Beckert, & Jones, 2023).

Lebih jauh, keterbukaan diri bekerja secara resiprokal, di mana self-disclosure hampir selalu mengundang balasan keterbukaan, menciptakan siklus kedekatan emosional yang semakin cepat dan semakin intens sehingga muncul rasa “saling memahami” yang kerap disalahartikan sebagai koneksi istimewa, padahal ia adalah konsekuensi alamiah dari pertukaran emosi yang terus berulang (Zhang & Dailey, 2024).

Dalam ruang digital, proses ini berlangsung jauh lebih cepat dan minim hambatan. Penelitian komunikasi digital menunjukkan bahwa interaksi berbasis pesan instan mendorong individu membuka emosi lebih dalam dibandingkan komunikasi tatap muka, karena layar memberi rasa aman, kendali, dan jarak semu, namun keintiman yang tumbuh di ruang ini sering kali tidak disertai kesadaran batas, karena komunikasi kemudian berkembang dalam percakapan privat yang nyaris tanpa saksi (Kircaburun,et,al, 2024).

Di titik inilah self-disclosure berubah dari jembatan keintiman menjadi lorong sunyi pengkhianatan, bukan karena keterbukaan itu keliru, tetapi karena komunikasi sudah ditempatkan pada ruang yang salah, sehingga menimbulkan perselingkuhan yang penuh emosional, yang ditimbulkan akibat hasil dari keterbukaan emosional yang dibiarkan mengalir tanpa kendali, hingga suatu hari, keintiman telah berpindah, sementara komitmen tak pernah diajak bicara (McDaniel & Drouin, 2023).

Dalam hubungan romantis, pasangan seharusnya menjadi ruang utama self-disclosure, ruang yang paling sah untuk bercerita tanpa takut dihakimi, emosi dibagi, konflik dibicarakan, dan kelelahan mental dipulihkan, namun pada kenyataannya, dalam hubungan dengan pasangan tidak selalu seideal teori. Dalam hal ini ada pasangan yang sibuk, ada pula yang defensive, ada yang lelah lebih dulu sebelum sempat mendengar, ada pula yang hadir secara fisik, tetapi absen secara emosional, akbibat hal tersebut, menimbulkan celah dimana keterbukaan mulai mencari jalan lain.

Ketika seseorang merasa tidak didengar, maka sesorang tersebut mulai memendekkan ceritanya. Ketika merasa tidak dipahami, maka akan berhenti menjelaskan. Dan ketika konflik yang sama terus berulang tanpa penyelesaian, curhat berubah menjadi kelelahan. Pada titik ini, seseorang tidak sedang mencari selingkuhan, melainkan berusaha mencari tempat bernapas.

Awalnya nyaris tak terasa, berawal dari keluhan ringan pada rekan kerja setelah jam kantor, berisi chat percakapan singkat dengan teman lama yang “kebetulan” menanyakan kabar. Atau obrolan daring dengan orang asing yang tidak punya sejarah konflik. Tidak ada rahasia besar, hanya cerita kecil yang dibiarkan mengalir.

Namun dari situlah arah mulai bergeser, awalnya hanya berupa pesan singkat, perlahan menjadi lebih panjang, waktu bercerita menjadi lebih larut, masalah yang seharusnya dibicarakan di rumah justru lebih dulu diketik di layar ponsel, semua menjadi bukan sekadar cerita, melainkan fungsi emosional pasangan yang telah menemukan tempat untuk didengar, dimengerti, dan merasa aman.

Sehingga pada titik inilah “curhat” berhenti menjadi “aktivitas netral”. Seseorang mulai menunggu balasan dari orang lain, bukan dari pasangannya. Mulai merasa lebih tenang setelah berbicara dengan “teman curhat”, bukan setelah berdiskusi di rumah. Bahkan mulai menyaring cerita, diman cerita ringan diberikan untuk pasangan, sedangkan yang emosional untuk orang lain. Tanpa disadari, keintiman telah berpindah tangan.

Kondisi inilah yang dalam kajian relasi disebut sebagai emotional infidelity, yaitu: keterlibatan emosional di luar hubungan utama yang melanggar eksklusivitas hubungan, meskipun tidak melibatkan sentuhan fisik, tidak memiliki tanda-tanda dramatis seperti perselingkuhan klasik, bahkan Tidak ada hotel, tidak ada janji temu, yang ada hanyalah percakapan yang intens. Justru karena itu, perselingkuhan emosional kerap dianggap “tidak apa-apa”. Tidak terlihat. Tidak disaksikan. Tidak bisa ditunjuk sebagai kesalahan yang kasat mata. Keberlangsungan yang sunyi, rapi, dan sering kali dibungkus dengan justifikasi: “sekadar curhat”, “cuma teman”, “tidak ada apa-apa”. Padahal yang sering luput disadari adalah hubungan tidak rusak karena tubuh yang berpindah, melainkan karena emosi yang lebih dulu pergi, ketika curhat telah berpindah arah, hubungan mungkin masih utuh secara status. tetapi sesungguhnya sudah retak secara keintiman.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Data Ekonomi Akurat Jadi Kunci Perencanaan Pembangunan Daerah

    Data Ekonomi Akurat Jadi Kunci Perencanaan Pembangunan Daerah

    • calendar_month Sel, 16 Jun 2026
    • visibility 95
    • 0Komentar

      LANGGUR.-DEMAL ; Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, secara resmi mencanangkan pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) 2026 di Taman Landmark Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku, pada Senin 15 Juni 2026. Hal tersebut menandai dimulainya pendataan ekonomi yang akan menjadi dasar perencanaan pembangunan dan penyusunan kebijakan di daerah. Pencanangan ditandai dengan penekanan tombol sirene oleh […]

  • Pimpinan DPRD Tual Minta Kapolres Tegas Atasi  Bom Ikan 

    Pimpinan DPRD Tual Minta Kapolres Tegas Atasi  Bom Ikan 

    • calendar_month Kam, 19 Jun 2025
    • visibility 281
    • 0Komentar

    AMBON- DM : Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tual, mendatangi Polres Tual untuk menyuarakan keluhan masyarakat tentang maraknya aktivitas penangkapan ikan menggunakan bom di beberapa wilayah. “Penangkapan ikan dengan bom adalah kejahatan lingkungan yang tidak hanya melukai laut, tetapi juga menyakiti masyarakat pesisir. DPRD mendorong agar penegakan hukum dilakukan tanpa toleransi,” pinta Ketua […]

  • Mengakhiri Kutukan Ekologi Gunung Botak: Mengapa Langkah Gubernur Hendrik Lewerissa Wajib Kita Kawal?

    Mengakhiri Kutukan Ekologi Gunung Botak: Mengapa Langkah Gubernur Hendrik Lewerissa Wajib Kita Kawal?

    • calendar_month Rab, 27 Mei 2026
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Oleh: Alimudin Kolatlena (Anggota DPR RI Frakdi Partai Gerindra Dapil Maluku)   Persoalan tambang emas di Gunung Botak, Kabupaten Buru, telah menjadi benang kusut yang menyandera Maluku selama bertahun-tahun. Di satu sisi, kita menyaksikan perputaran ekonomi yang cepat. Namun di sisi lain, ada harga mahal yang harus dibayar: kerusakan lingkungan yang masif, ancaman racun merkuri […]

  • Serah Terima Jabatan PD.Panca Karya, Gubernur HL Beri Pesan Tegas

    Serah Terima Jabatan PD.Panca Karya, Gubernur HL Beri Pesan Tegas

    • calendar_month Rab, 17 Sep 2025
    • visibility 411
    • 0Komentar

    AMBON.-DM ; Prosesi serah terima jabatan jajaran direksi Perumda Panca Karya dari yang lama ke direksi yang baru dihadiri langsung oleh Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa. Rabu,17 September 2025. Dalam sambutannya, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa memberi sejumlah pesan tegas kepada dewan direksi Perumda Panca Karya yang kini dinakodai M.Ray Tualeka. Jajaran direksi yang baru juga dituntut […]

  • BPS Sebut SE 2026 Acuan Baru Penyusunan Kebijakan Pembangunan di Maluku Tenggara

    BPS Sebut SE 2026 Acuan Baru Penyusunan Kebijakan Pembangunan di Maluku Tenggara

    • calendar_month Sel, 16 Jun 2026
    • visibility 82
    • 0Komentar

      LANGGUR.-DEMAL ; Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Maluku Tenggara menegaskan pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) 2026 menjadi langkah strategis untuk menghadirkan gambaran menyeluruh mengenai kondisi perekonomian Indonesia, termasuk di Kabupaten Maluku Tenggara. Hal tersebut disampaikan Kepala BPS Kabupaten Maluku Tenggara, Freddy Abrahams, saat pencanangan Sensus Ekonomi 2026 di Taman Landmark Kota Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara, […]

  • Perangi Penyakit Berbahaya, Pemkab Malra Luncurkan GPPP di Dian Pulau

    Perangi Penyakit Berbahaya, Pemkab Malra Luncurkan GPPP di Dian Pulau

    • calendar_month Sab, 18 Okt 2025
    • visibility 266
    • 0Komentar

    LANGGUR.-DEMAL;Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara resmi meluncurkan Gerakan Pengendalian Penyakit Prioritas Tahun 2025 di Ohoi Dian Pulau, Kecamatan Hoat Sorbay, Pada Sabtu 18 Oktober 2025. Ini sebagai langkah nyata pemerintah dalam memerangi penyakit mematikan seperti jantung, stroke, dan kanker, resmi dimulai dari pelosok negeri. Dian Pulau pun dipilih sebuah lokasi awal untuk menjangkau masyarakat di wilayah […]

expand_less