Kamis, 23 Apr 2026
light_mode

Krisis Iklim dan Dampaknya Kini di Kepulauan Banda

  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 51
  • comment 0 komentar

Dampak krisis iklim di Kepulauan Banda telah menggeser pola peralihan musim. Nanaku dan aplikasi cuaca digunakan bersamaan—menerka musim hujan dan kemarau yang tidak lagi teratur.

Penulis: Jaya Barends-Dekrit Maluku

Ringkasan:

  • Pola peralihan muson yang bergeser bikin cuaca tak menentu.
  • Warga mengamati tanda alam untuk memprediksi cuaca harian
  • Melihat gugusan Pulau Seram selepas hujan pertanda laut teduh.
  • Kearifan lokal tradisional Maluku, seperti nanaku tetap bisa dipraktikkan.
  • Nanaku lahir dari pengamatan peristiwa berulang sejak dahulu kala.

 

AWAN hitam menjuntai di atas badan laut Pulau Ay, Kecamatan Banda, Maluku Tengah, suatu sore pertengahan Desember 2025. Bentuknya horizontal, serupa ombak raksasa—diiringi embusan angin muson barat dan hujan deras. Pemandangan ini, tidak lazim bagi Ayu.

Raut wajah mahasiswi Universitas Indonesia (UI) itu, tampak gusar. Ekspresinya datar kala melihat ombak silih berganti menghantam tembok talud.

Ayu pun beranjak dari halte pelabuhan rakyat setelah melihat ombak yang berkecamuk. Kemudian menuju sebuah rumah warga berjarak sepelemparan batu, menyantap bakso.

Saat itu, dia bersama Salsa, seniornya dari Departemen Geografi FMIPA UI.

Di tengah mencicipi kudapan, Ayu berharap cuaca buruk segera reda.“Tidak berombak lagi, supaya bisa segera kembali ke Naira,” ujarnya.

Salsa pun mengamini harapan Ayu itu sambil bergumam.”Karena kita harus melanjutkan perjalanan lagi ke Pulau Rhun dan pulau-pulau lain.” Keduanya rupanya tengah meniliti ritual masyarakat adat di Kepulauan Banda. Salah satu objek yang didata dan dikaji adalah buka kampung.

Awan hitam menggantung pertanda cuaca buruk segera tiba. Nelayan di Pulau Ay lantas buang sauh.(dekritmaluku/Jaya Barends)

Awan hitam menggantung pertanda cuaca buruk segera tiba. Nelayan di Pulau Ay lantas buang sauh.(dekritmaluku/Jaya Barends)

Meski begitu, Ayu dan Salsa menyadari keinginan tersebut seakan sukar terwujud saat Desember. Sebab di bulan ini pula, Kepulauan Banda dengan iklim muson tropis unimodal sedang pancaroba—muson barat ke timur—terjadi angin kencang, hujan dan gelombang tinggi.

Menukil Buku Saku Klimitologi BMKG, tipe unimodal disebut hanya memiliki satu puncak musim hujan. Desember, Januari hingga Februari masa penghujanan. Sedangkan Juni, Juli hingga Agustus kemarau.

Namun Subuh Sidek bilang cuaca buruk hanya terjadi hari ini. Besoknya, akan laut teduh.

Klaim pria 45 tahun itu setelah melihat kemunculan gugusan Pulau Seram selepas hujan. Kepercayaan mengamati tanda alam dan perilaku hewan atau nanaku telah dipraktikan turun-temurun di Negeri Administratif Pulau Ay. Hasil prakiraannya pun dianggap akurat.

“Kan, sekarang lagi musim ombak. Tetapi kalau Pulau Seram terlihat pertama kali pada Desember, laut teduh,” ungkap Subuh turut didengarkan Ayu dan Salsa, Rabu, 17 Desember 2025.

“Beda lagi kalau Pulau Seram terlihat kedua kalinya, pertanda laut akan berombak.”

Rutinitas sehari-hari Subuh pekebun plus nelayan. Sebelum melaut, dia biasanya melakukan nanaku meski ponselnya tersemat aplikasi visualisasi prakiraan cuaca.

Misalnya, mengamati perilaku makhluk hidup seperti burung darah laut. Bila burung terbang rendah, mendekati badan laut pertanda embusan angin lagi kuat.

Ada pula awan bergaris dua hitam, satunya tidak terlihat berarti alarm cuaca buruk. Nanaku lain, kalau hujan hari Jumat, pertanda hujan mengguyur sepekan.

Rupanya uraian Subuh turut disimak Ayu secara saksama. Namun raut wajahnya, seakan ingin mengkonfirmasi keakuratan nanaku tersebut. Maklum, ini perjalanan perdananya ke Kepulaun Banda dengan durasi sebulan.

Kamis, 18 Desember 2025, Ayu dan Salsa menaiki speedboat bersama warga Pulau Ay. Transportasi reguler ini digerakan tiga mesin berkapasitas 40 tenaga kuda.

Pagi itu, angin semilir menyapa perairan Pulau Ay. Diselingi pemandangan terumbu karang asri yang tampak dari permukaan air. spitbot pun perlahan-lahan, meninggalkan perairan jernih dengan degradasi warna biru tosca.

Speedboat kemudian melesat cepat membelah laut yang teduh, tak lebih dari satu jam tiba di Naira. Ayu pun takjub dengan keakuratan kearifan lokal sebagai acuan pelayaran ternyata prediksinya tepat.

Dia mengungkap situasi berbeda dari Naira ke Pulau Ay. spitbot yang ditumpangi, dihantam ombak bertubu-tubi dari sisi kiri—kanan maupun bagian depan.

“Kalau tadi aman, lancar dan sepanjang perjalanan tidak khawatir,” ungkapnya.

Aktivitas pelabuhan rakyat di Pulau Banda Naira, Kabupaten Maluku Tengah.(dekritmaluku/Jaya Barends)

Deteksi Bencana di Tengah Anomali Cuaca

Terkait akuratnya prediksi nanaku, Mezak Wakim bilang nanaku memang berfungsi sebagai peringatan dini. Selain itu, dapat mendeteksi potensi bencana di darat maupun laut.

“Nanaku adalah alarm mitigasi awal sebuah peristiwa yang akan terjadi,” jelasnya.

Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelsetarian Budaya XX Maluku itu melanjutkan nanaku lahir dari pengamatan peristiwa berulang sejak dahulu kala. Selanjutnya, ditandai dengan mengamati tanda alam dan hewan.

Bahkan pihaknya telah merekam literatur nanaku dalam bentuk studi. Di antaranya, tradisi melaut dan menghadapi musim pancaklik.

Kearifan lokal tradisional khas dari Maluku itu, bagi Mezak tetap bisa dipraktikan di tengah krisis iklim.

Meski begitu, dia menyadari dampaknya kini telah menggeser pola peralihan muson termasuk bikin cuaca tak menentu. Kondisi demikian juga terjadi di Kepulauan Banda.

Rupanya dampak krisis iklim yang menerpa Kepulauan Banda dengan tipe iklim muson pernah diteliti S. Laimeheriwa [2014].

Pakar Agroteknologi, Universitas Pattimura Ambon ini menggunakan data curah hujan 60 tahun pengamatan medio 1954-2013. Data didapat dari Kantor BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Namlea.

Hasil analisisnya telah terjadi perubahan curah hujan dalam periode 30 tahun kalau dibandingkan dengan periode sebelumnya, 1954-1983. Curah hujan tahunan, cenderung bertambah sebesar 17,8 % atau 239 milimeter (mm).

“Naik dari 1340 mm menjadi 1579 mm,” jelasnya. Persentase perubahan terbesar juga pada musim hujan Desember-Mei, yakni sebesar 19,3% atau 180 mm. Naik dari 933 mm menjadi 1113 mm.

Sedangkan curah hujan musim kemarau Juni-November bertambah sebesar 14,5% atau 59 mm. Melonjak dari 407 mm menjadi 466 mm. Selanjutnya, peningkatan curah hujan pada Juli 10 mm, Agustus 31 mm, Oktober 18 mm dan November 6 mm.

“[Namun] curah hujan Juni mengalami penurunan sebesar 6 mm dan September tidak terjadi perubahan curah hujan,” ungkapnya.

Bahar Harun, Sekretaris Negeri Administrasi Pulau Ay tak menampik telah terjadi perubahan curah hujan tahunan. Puncaknya mulai terasa sejak 2023-2025, lebih banyak hujan sepanjang tahun di Pulau Ay. Fase kemarau akhirnya menyempit.

“Tiga tahun terakhir musim hujan lebih banyak ketimbang kemarau,” kata Bahar.

Meski begitu, Mezak bilang konsep nanaku masih tetap dapat digunakan. Sebab ada nanaku berlaku umum dan ciri khas lokal wilayah masing-masing di Maluku.

Penyebutan nanaku di tiap wilayah berbeda-beda: petua orang tatau; tandu-tandu; ramalan; nanaku dan kotika.

“Nanaku merupakan mitigasi lokal ya, dengan pengetahuan lokal masing-masing wilayah.”

Penjelasan Mezak ada benarnya. Di Pulau Ay, misalnya pada Desember tanaman lampion (Physalis alkekengi) berbunga di tengah anomali iklim. Isyarat sedang peralihan muson timur ke pancaroba barat disertai hujan.

Pesisir Pantai Pulau Ay, Kecamatan Banda, Maluku Tengah.(dekritmaluku/Jaya Barends)

“Tetapi kita bisa menerka musim pancaroba maupun pergantian siklus muson timur ke barat dengan melihat bunga lampion berbunga,” ungkap Bahar.

Beda lagi adaptasi warga Negeri Salamun, menghadapi kelabakan iklim. Sebagian dari mereka hingga kini masih memantau Gunung Kumber untuk mengetahui cuaca harian.

Kuncibuk nama lain gunung tersebut kalau puncaknya diselemuti kabut tebal pertanda embusan angin landai dan laut pun teduh. Namun bila tidak ada kabut, angin sedang kencang dan laut lagi berombak.

Uniknya lagi dari negeri di ujung timur Pulau Banda Besar, dapat memantau siklus peralihan muson dalam setahun.

Saat pancaroba muson barat, matahari terbenam pada sisi kanan di antara Gunung Lewarani dan Tujuh.

Siklus demikian terjadi September, Oktober dan November. Secara bersamaan juga terjadi air surut di pantai pukul 13.00-18.00 WIT.

Selanjutnya muson barat, dimulai Desember dengan matahari terbenam pada sisi kiri. Air surut otomatis berpindah pukul 05.00-80.00 WIT.

Gulhan Huisein, Sejarawan Negeri Salamun mengatakan tanda alam yang menjadi patokan untuk nanaku masih bisa dipercaya. Baginya, akurasi dapat mendekati 70 hingga 80 persen.

“Masih bisa dipercaya, jadi boleh krisis iklim tetapi kan tanda alam tidak bisa berubah,” jelasnya.

Nelayan Negeri Administrasi Lautang membaca tanda alam sebelum pergi mencari ikan.(dekritmaluku/Jaya Barends)

Klaim Gulhan turut didukung Ramly Astar, Raja Negeri Administratif Lautang. Ramly mengatakan nelayan dan petani di kampungnya kini masih menggunakan nanaku untuk melaut dan bercocok tanam.

Ramly pun menjelaskan nanaku khas negerinya berkaitan pengamatan peralihan muson. Fase muson barat patokannya, kata dia matahari terbit sisi kiri Pulau Hatta. Sedangkan muson timur, matahari terbit bagian kanan pulau.

“Nelayan biasanya pakai untuk mengamati peralihan muson sebelum pergi mencari ikan,” jelasnya. Ada pula nanaku khas lain untuk memantau ombak saat peralihan muson barat ke timur. Nelayan biasanya, mengamati pasir di pantai.

Pasir akan berpindah dari kiri ke kanan akibat dipukul ombak. Selama pasir belum berpindah, tetap masih ada ombak meski sudah masuk Oktober.”

Namun nanaku itu diamati oleh nelayan Negeri Lautang yang hendak memancing jarak jauh. Hasil nanaku lalu dianalisis dengan aplikasi prakiraan cuaca dan informasi BMKG.

Penjelasan Bahar, Harun dan Ramly potret kecil cerita penggunaan nanaku untuk mitigasi dan adaptasi di tengah kelimpungan anomali iklim.

Beda lagi cerita Juanda, nelayan asal Pulau Ay ini nyaris kecelakaan di laut akibat dampak anomali iklim.

Anomali Perubahan Pola Angin

Kala itu, Juanda tengah mencari ikan tuna saat muson timur di Perairan Pulau Manukang, pertengahan September 2025. Namun pukul 12.00 WIT, tiba-tiba, angin barat laut berembus kencang.

Setelah berhenti, diikuti semelir angin utara. Sejurus kemudian timur laut.“Tidak semestinya angin barat berembus saat muson timur,” katanya.

Kejadian di alami Juanda, merujuk situs www.un.org, terjadi perbedaan suhu antara daratan dan laut yang menjadi penggerak utama angin muson. Kondisi ini disebabkan dampak dari krisis iklim. Anomali iklim juga memengaruhi cuaca dan iklim lebih ekstrem. Sistem iklim yang dulunya stabil, kini sulit diprediksi, tulis situs www.mooc.ugm.id.

Juanda melanjutkan pola angin tidak sesuai siklus muson dialami sejak 2024 dan 2025. Perubahan drastis pada ketinggian ombak, kini mencapai 5 meter pada Oktober-November.

“Ombak tinggi sekali dengan durasi yang panjang. Padahal dulunya tidak begitu bila angin timur menenggara berembus pada bulan-bulan tersebut.”

Keadaan demikian, mengakibatkan perahu sampan ditumpangi Jaunda mati mesin dan nyaris terbalik. Bahkan untuk kembali dari Pulau Manukang menuju Pulau Ay, Juanda terpaksa membentangkan layar mengikuti arah bintang barat laut.

Bintang tersebut dimanfaatkan para nelayan sebagai penanda menuju Pulau Ay. Pasalnya, posisi bintang berada di bagian barat, tepatnya di atas langit pulau.

Nelayan ikan tuna di Kepulauan Banda hendak pergi melaut mencari ikan.(dekritmaluku/Jaya Barends)

Ada pula bintang selatan, umumnya diamati nelayan di Kepulauan Banda memprediksi angin kencang dan ombak bila bintang berubah warna menjadi merah.

Prediksinya dianggap bisa hingga seminggu sekaligus penanda muson timur dan pergantian barat. Bintang menyala, mati lalu hidup kembali menandakan angin kencang sebentar lagi berembus di malam hari.

Selain bintang, ada juga awan terdiri dari warna hitam, abu-abu dan biru. Tanda ini biasanya dilihat saat pancaroba munson barat ke timur dan sebaliknya.

Kalau awan begitu terlihat, angin barat daya dan barat daya laut akan bertiup kencang. Begitu pun timur manonggara sesuai siklus muson dalam setahun.

Menanggapi praktik nanaku di Kepulauan Banda, Angtropolog, Pieter Pelupessy menyebutkan sistem nanaku adalah usaha masyarakat di Kepulauan Maluku menopang hidup secara tradisional. Namun dalam praktik, terdapat perbedaan antara masyarakat Pulau Buru, Ambon dan Lease serta Pulau Seram.

Perbedaannya pada waktu perhitungan bulan di langit. Istilah masyarakat lokal ada bulan terang dan bulan gelap. Pengamatan bulan untuk mengetahui arah angin bertiup.

“Arah angin membawa awan dan awan akan menjatuhkan hujan di wilayah mana. Pengetahuan tradisional ini dipakai untuk berlayar dan bertani,” kata dosen persiunan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pattimura Ambon itu.

“Dan perhitungan bulan adalan sistem utama dari Nanaku.” Makanya tak pelak, kedatangan puting beliung di Kepulauan Banda diamati melalui angin dan awan.

Bahar Harun, Sekreraris Negeri Administrasi Pulau Ay mengatakan tornado skala kecil awalnya muncul ditandai gumpalan awan gelap. Bentuknya kemudian menyerupai tombak.

“Pusaran angin mengikuti arah angin. Kerap terjadi di Pulau Ay pada saat angin barat, barat laut dan barat daya,” jelasnya.

Bila awan cumulonimbus pusarannya menuju Pulau Ay saat angin barat rentan terhadap permukiman. Bahar mengatakan pada 2023 dan 2024 bikin rumah rusak akibat tersapu puting beliung.

“Namun biasanya kalau sudah melihat tanda-tanda demikian, para tua adat biasanya melakukan upaya antisipasi,” jelasnya.

Tiga tahun belakangan, intensitas angin puting beliung kejadianya lebih sering saat muson barat pada Desember-Februari. Pulau Ay, Salamun dan Lautang paling rentan terhadap fenomena alam tersebut.

Di Negeri Salamun bila puting beliung muncul saat angin barat laut putarannya sampai ke permukiman warga dan mengakibatkan rumah rusak. Sementara Negeri Lautang angin puting beliung biasanya mengenai permukiman warga bila muncul saat angin barat laut.

“Kalau puting beliuang mengikuti angin barat dan barat laut daya mengenai hutan. Tepat di sisi kiri kampung yang tidak ada permukiman,” jelas Harun Astar, nelayan asal Negeri Lautang.

“Ciri khas umumnya di Lautang angin gelap disertai abu menyeruak ke udara.”

Harun mengungkap selain instensitas angin puting beliung yang sering. Dia bilang tiga tahun belakangan ini cuaca makin ekstrem dan sulit diprediksi.

Berdasarkan dokumen Kajian risiko Bencana (KRB) Nasional 2022-2026, di Provinsi Maluku, masyarakat Kabupaten Maluku Tengah menempati urutan pertama rentan terhadap cuaca ekstrem. Kategori kelas ancamannya pun berstatus sedang.

Namun, potensi kerugian bencana cuaca ekstrem justru potensi ancaman berstatus tinggi. Kepala BPBD Maluku Tengah, Nova Annakota mengatakan sebagai upaya antisipasi dan pencegahan, pihaknya terus melakukan imbaun kepada masyarakat.

“Saat cuaca reguler yang dianggap berpotensi terjadi cuaca buruk pada bulan tertentu, baik pada musim barat dan timur selalu keluarkan imbauan dan peringatan dini,” katanya.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Istri Sekda Jabat Ketua PKK Malteng Diduga Salahi Aturan

    Istri Sekda Jabat Ketua PKK Malteng Diduga Salahi Aturan

    • calendar_month Rab, 30 Apr 2025
    • visibility 269
    • 0Komentar

    “Saya berharap PKK dan Posyandu tidak hanya menjadi pelaksana program, tetapi juga menjadi motor penggerak perubahan di masyarakat. Mari kita jaga semangat kolaborasi dan gotong royong untuk membangun Maluku Tengah yang berdaya saing, sejahtera, rukun, dan damai, sesuai dengan visi kita bersama dalam semangat Malteng Bangkit,” demikian pesan Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir dalam […]

  • Emirates Resmikan Travel Store Berkonsep Terbaru di Indonesia

    Emirates Resmikan Travel Store Berkonsep Terbaru di Indonesia

    • calendar_month Jum, 9 Mei 2025
    • visibility 272
    • 0Komentar

    JAKARTA-DM ; Emirates resmi membuka travel storepertamanya di Jakarta, Indonesia, menandai langkah strategis dalammemperkuat komitmen maskapai untuk menghadirkan pengalaman perjalanan kelas dunia bagi pelanggan di Tanah Air. Pembukaan ini menyusul kesuksesan peluncuran Emirates Travel Store di HongKong dan Manila, sebagai bagian dari ekspansi Emirates di kawasan Asia. Berlokasi di Sequis Tower, ruang ritel terbaru ini menempati […]

  • Ketika Meritokrasi Kalah Oleh Balas Budi Birokrasi

    Ketika Meritokrasi Kalah Oleh Balas Budi Birokrasi

    • calendar_month Ming, 25 Jan 2026
    • visibility 162
    • 0Komentar

      Meritokrasi hanya akan hidup jika balas budi disingkirkan dari birokrasi. Oleh: Prof. Dr.Idrus Al-Hamid, S.Ag, M.Si Ketua Umum IKA UIN Amsa

  • Dua Walikota Ambon Masuk Penjara, Bodewin Diminta Hati-hati

    Dua Walikota Ambon Masuk Penjara, Bodewin Diminta Hati-hati

    • calendar_month Rab, 13 Agu 2025
    • visibility 384
    • 0Komentar

    AMBON-DM : Mantan Wali Kota Ambon dua periode, Richard Louhenapessy, kembali dituntut hukuman penjara selama 2 tahun 8 bulan oleh Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (JPU KPK) dalam sidang perkara tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang digelar di Pengadilan Tipikor Ambon, Selasa (12/8/2025). Tuntutan tersebut dibacakan oleh JPU KPK Rikhi Benindo Maghaz, didampingi Muhammad […]

  • Mendagri Dorong Percepatan Tealisasi APBD 2025 untuk Ekonomi Daerah

    Mendagri Dorong Percepatan Tealisasi APBD 2025 untuk Ekonomi Daerah

    • calendar_month Kam, 8 Mei 2025
    • visibility 273
    • 0Komentar

    JAKARTA-DM : Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menekankan pentingnya percepatan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2025 sesuai target untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. Hal ini disampaikan Mendagri dalam Rapat Koordinasi Percepatan Realisasi APBD 2025 yang digelar secara virtual bersama seluruh kepala daerah se-Indonesia dari Kantor Pusat Kementerian Dalam […]

  • DPW dan 13 DPC se-Kalimantan Selatan Dukung Agus Suparmanto Pimpin PPP

    DPW dan 13 DPC se-Kalimantan Selatan Dukung Agus Suparmanto Pimpin PPP

    • calendar_month Sab, 20 Sep 2025
    • visibility 270
    • 0Komentar

    BANJARMASIN.-DM: DPW Partai Persatuan Pembangunan ( PPP ) Kalimantan Selatan menggelar Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) di Banjarmasin, Jumat 19 September 2025. Rakorwil yang dihadiri pengurus DPW, ketua dan sekretaris dari 13 DPC se-Kalimantan Selatan (Kalsel) juga membacakan deklarasi dukungan terhadap Calon Ketua Umum PPP Agus Suparmanto . “Hari ini kami menggelar Rakorwil DPW PPP dihadiri […]

expand_less