Sosok Pitoyo Rajanya Sianida, diduga Buka Rute Baru Ke Pulau Buru
- calendar_month Kam, 26 Jun 2025
- visibility 485
- comment 0 komentar

AMBON-DM : Aktivitas penjualan sianida di Pulau Buru Kabupaten Buru untuk kepentingan pertambangan di Gunung Botak kian masif.
Sianida memang sudah banyak digunakan sejak tambang itu buka pada tahun 2011 silam. Zat kimia berbahaya ini dipakai untuk mengikat biji mas dan memisahkannya dari material tanah.
Dulunya di awal aktivitas pertambangan secara membabibuta, banyak pemodal yang terlibat mendistribusikan sianida ke Gunung Botak. Akan tetapi dengan intesifitas penegakan hukum saat itu, bisnis sianida mulai berkurang. Tak semasif sebelumnya.
Polisi terus memperketat razia dan juga pengawasan jalur pasok barang ke Pulau Buru. Akhirnya pendistrubusian sianida pun mulai terhambat. Berdampak terhadap para pemodal.
Sisanya saat ini hanya tinggal satu saja yang bertahan.
“ Yang kami dengar Pitoyo. Memang dulu banyak sekali yang bermain, tapi karena modal kecil dan beresiko pidana, akhirnya mereka gulung tikar,” ujar salah satu warga Namlea. Kamis,26 Juni 2025.
Menurutnya, nama Pitoyo sangat familar saat ini karena dia satu-satunya pemasok dan telah miliki jaringan pembeli yang stabil.
“ Kalau dibilang dia Raja Sianida, satu-satunya pemasok,” ungkapnya lagi.
Ditempat terpisah, dari informasi yang dikumpulkan, sebanyak 350 kaleng zat kimia Sianida dengan berat per kaleng 50 kg dikabarkan pada pekan ini telah lolos masuk Pulau Buru untuk diperjualberilakan kepada para pendulang emas.
Zat kimia berbahaya itu mudahnya masuk ke Pulau Buru karena distributor mengubah-ubah rute pasok ke Pulau Buru.
“ Banyak jalan menuju roma, banyak Jalan menuju Gunung Botak,” kata salah satu informan yang menjelaskan taktik distributor Sianida ke Pulau Buru.
Menurutnya, sianida yang sekarang beredar di Pulau Buru pemiliknya cuma satu, diduga seluruhnya dipasok Pitoyo.
Sosok Pitoyo sendiri sangat asing di telinga pengusaha Maluku, dari penelusuran redaksi pria yang menamatkan S1 di Amerika itu sangat sulit dijumpai.
Namanya santer dibicarakan dan menjadi pembicaraan hangat ketika Pemerintah Provinsi Maluku menerbitkan IPR untuk 10 Koperasi di Tambang Gunung Botak.
Sebab, tanpa sianida material emas tak berati apa-apa, jika kemudian IPR diterbitkan, bisnis sianida pun dikuatirkan semakin lancar tanpa hambatan berarti.
“ Jalur pasok diubah sekarang, hanya sebagian kecil saja yang menggunakan jalur Surabaya Ambon Buru, sekarang lebih banyak menggunakan Halmahera-Pulau Buru, ada pula yang masuk langsung ke Buru,” bebernya.
Itulah kenapa kata sumber anonim itu, polisi kesulitan untuk menghentikan penggunaan zat kimia di Pulau Buru.
Selain rantai pasok yang berubah-ubah, gudang penyimpanannya pun sering dimanipulatif, untuk menghindari pengejaran petugas berwajib.
Sumber yang enggan menyebutkan namanya itu juga mensinyalir ada sindikat yang membecking jalur dustrubusi sianida ke Buru.
“ Bisa oknum-oknum penegak hukum maupun dari sipip tertentu yang punya akses rute pelayaran dan navigasi, bisnisnya sudah semacam kartel,” tandasnya.
Ditambahkan lagi, jika penyuplai utama sianida ke Pulau Buru hanya satu orang, jika lebih dari itu atau ada pemasok lain maka polisi akan sangat mudah menangkap para pelaku. Mengingat hukum bisnis akan berlaku.
“ Logikanya begini, kalau ada tiga orang, dengan permintaan yang tinggi maka mereka akan bersaing merebut pasar, saling sikut. Saling mata mematai, dan berujung saling lapor,” terangnya, tapi karena distributor sianida dari luar Maluku hanya satu maka dengan mudah mengendalikan rantai pasok agar bisa sampai ke penambang.(*)

Saat ini belum ada komentar