Peta Politik Maluku 2031: Wacana Duet Arlond Ritiauw-Thaher Hanubun Mulai Mencuat
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AMBON,-DEMAL : Suhu politik menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Maluku 2031 mulai menghangat dengan mengemukanya wacana pasangan Mayjen TNI (Purn.) Arnold Paplapna Ritiauw dan M. Thaher Hanubun.
Kombinasi figur senior eksekutif daerah dan tokoh militer-birokrasi nasional ini dinilai menjadi salah satu kekuatan potensial dalam kontestasi mendatang.
Thaher Hanubun membawa modal politik yang sangat matang berkat rekam jejak kepemimpinannya sebagai Bupati Maluku Tenggara dua periode berturut-turut, serta pengalaman legistatif sebagai mantan anggota DPRD Provinsi Maluku. Basis sosialnya yang kuat di wilayah Kepulauan Tenggara Maluku juga menjadi fondasi penting bagi pencalonan ini.
Sementara itu, Arnold Ritiauw, mantan Danrem 151/Binaiya asal Teon Nila Serua (TNS) yang kini mengemban amanat di jajaran birokrasi pusat, juga memegang basis keterikatan di Seram, MBD, hingga Kota Ambon.
Sejumlah pengamat politik lokal menilai pasangan ini memiliki nilai tawar tersendiri berkat perpaduan pengalaman kepemimpinan sipil dan disiplin ketokohan militer.
“Sinergi rekam jejak birokrasi daerah dan jejaring strategis di pusat menjadi modal kuat untuk mendorong agenda pembangunan infrastruktur serta stabilitas kawasan,” ungkap Iksan salah satu pemerhati politik daerah di Ambon, Sabtu (19/9/2026).
Iksan menambahkan perpaduan antara figur berlatar belakang militer dan birokrat atau politisi sipil dianggap menghadirkan keseimbangan strategis apalagi untuk Maluku yang memiliki karakteristik berbeda.
Sisi militer menawarkan disiplin, kepemimpinan transformasional, serta stabilitas keamanan kawasan. Sementara itu, unsur sipil melengkapi kepemimpinan melalui pendekatan tata kelola pemerintahan daerah, diplomasi politik, serta kedekatan dengan basis massa sosial-kemasyarakatan.
“Karakteristik Maluku sebagai daerah kepulauan membutuhkan figur yang tegas dalam menjaga stabilitas wilayah sekaligus cakap dalam mengelola pembangunan infrastruktur serta pelayanan publik. Kombinasi militer-sipil menghadirkan sinergi komprehensif antara keteguhan eksekusi dan keluwesan birokrasi,” ujarnya.
Meski demikian, jalan menuju Pilgub 2031 diprediksi tidak tanpa tantangan. Isu regenerasi kepemimpinan, dinamika konsolidasi partai pengusung, serta pemetaan geopolitik antarwilayah pulau di Maluku akan menjadi faktor penentu efektivitas kerja-kerja politik pasangan tersebut ke depan.(*)
- Penulis: Editor

Saat ini belum ada komentar