Kekeringan Panjang di SBT, Kehadiran Tangki Air Senator Boy Latuconsina Jadi Penyelamat Warga
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AMBOM,-DEMAL ; Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah titik di Kepulauan Maluku telah memicu krisis kemanusiaan ganda.
Di satu sisi, ruang udara pekat oleh kabut asap beracun yang mengancam saluran pernapasan warga. Di sisi lain, fenomena iklim ekstrem memicu kekeringan parah yang memutus akses masyarakat terhadap air bersih.
Menanggapi situasi kritis ini, Anggota DPD RI daerah pemilihan (Dapil) Maluku, Bisri As Shiddiq Latuconsina, mengambil langkah taktis dengan turun langsung ke sejumlah desa terdampak untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan secara masif.
Senator yang akrab disapa Boy Latuconsina itu membagikan masker gratis dan mengerahkan armada tangki air bersih ke sejumlah wilayah-wilayah terpencil.
Aksi respons cepat ini menjadi bukti nyata komitmen politik legislatif yang membumi, mengesampingkan sekat birokrasi demi meringankan beban langsung masyarakat yang terdampak bencana ekologis.
Dalam situasi dengan kondisi geografis Maluku yang terdiri dari gugusan pulau menyajikan tantangan tersendiri dalam penanggulangan bencana.
Wilayah terpencio yang paling parah terdampak karhutla sering kali sulit diakses oleh kendaraan standar. Namun, pekatnya kabut asap tidak menyurutkan langkah Boy Latuconsina bersama tim relawannya untuk menjangkau titik-titik pemukiman terluar.
“Masyarakat di pelosok dan pedalaman adalah yang paling rentan. Ketika kebakaran hutan terjadi, mereka tidak memiliki akses instan ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan masker standar.” ujar Bisri Latuconsina di sela-sela pembagian bantuan, Sabtu,24 Oktober 2026.
Ratusan masker medis dan respirator dibagikan langsung dari rumah ke rumah serta di titik-titik kumpul warga.
Langkah preventif ini dinilai sangat krusial mengingat indeks kualitas udara di beberapa wilayah di Ambon dan Maluku pada umumnya telah mencapai level tidak sehat akibat partikel debu sisa pembakaran yang pekat.
Pengerahan Armada Tangki: Menjawab Keluhan Air Bersih
Selain ancaman ISPA, kekeringan ekstrem yang menyertai musim kemarau panjang tahun ini telah mengeringkan sumur-sumur warga dan sumber air alami di pedesaan Maluku.
Berdasarkan laporan di lapangan, warga di sejumlah desa terpencil misalnya di Kabupaten Seram Bagiab Timur terpaksa berjalan berkilo-kilometer atau merogoh kocek dalam-dalam hanya demi mendapatkan beberapa liter air untuk konsumsi harian.
Merespons situasi tersebut, Boy Latuconsina telah menginstruksikan penyediaan dan pengerahan armada tangki air bersih.
Tangki-tangki ini bergerak menyusuri jalanan terjalan untuk mengisi bak-bak penampungan umum dan jeriken milik warga.
Kehadiran pasokan air bersih ini menjadi penyelamat sementara bagi urusan domestik, sanitasi, dan kesehatan mendasar masyarakat desa yang telah berpekan-pekan mengalami krisis air.
Bagi warga setempat, bantuan ini bukan sekadar pemenuhan kebutuhan fisik, melainkan bentuk kehadiran negara di tengah masa-masa sulit.
“Kami sudah kesulitan mencari air bersih. Sumur kering, dan asap hutan membuat anak-anak batuk. Kedatangan tangki air ini sangat meringankan beban kami,” ungkap salah satu warga di Seram Bagian Timur.
Gaya Politik Membumi Sang Mantan Aktivis Pemuda
Aksi turun jalan yang dilakukan oleh Bisri As Shiddiq Latuconsina bukanlah hal baru bagi masyarakat Maluku.
Gaya politiknya yang membumi, komunikatif, dan responsif berakar kuat dari rekam jejaknya sebagai aktivis organisasi di Maluku. Sebelum menapaki karier di Senayan sebagai Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Publik (BAP) DPD RI, ia telah lama dikenal sebagai mantan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Maluku.
Pengalaman bertahun-tahun mengelola organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan membentuk karakter kepemimpinan Boy yang adaptif terhadap krisis sosial.
Baginya, fungsi pengawasan dan representasi daerah sebagai Anggota DPD RI tidak boleh hanya terbatas pada ruang sidang paripurna di Jakarta. Implementasi nyata dari mandat rakyat adalah mendengarkan, melihat, dan merasakan langsung penderitaan konstituen di daerah asal.
Krisis kebakaran hutan dan kekeringan ini menjadi ujian nyata bagaimana seorang wakil daerah mampu mengolaborasikan sumber daya yang dimiliki demi keselamatan publik.
Melalui aksi mitigasi bencana ekologis ini, Boy Latuconsina menegaskan bahwa pemulihan kondisi Maluku memerlukan sinergi kuat dari semua lini, mulai dari legislatif, eksekutif daerah, hingga kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan.
Komitmen Jangka Panjang untuk Bumi Raja-Raja
Di samping menyalurkan bantuan darurat yang bersifat jangka pendek, Senator Bisri Latuconsina juga menekankan pentingnya solusi jangka panjang terhadap mitigasi bencana ekologis di Maluku.
Bencana karhutla dan kekeringan tahunan tidak boleh dipandang sebagai siklus alam biasa, melainkan alarm keras atas perubahan iklim yang nyata terjadi dan memerlukan kebijakan tata kelola lingkungan yang lebih ketat.
Sekembalinya dari kunjungan lapangan, Boy berkomitmen untuk membawa aspirasi dan temuan terkait dampak bencana ini ke tingkat pusat.
Langkah taktis membagikan masker dan mendistribusikan air bersih di pelosok Maluku ini melambangkan esensi sejati dari pelayanan publik: cepat bertindak di kala krisis, hadir di saat masyarakat membutuhkan, dan konsisten memperjuangkan keadilan bagi daerah kepulauan demi kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.(*)
- Penulis: Editor

Saat ini belum ada komentar