Senin, 31 Agu 2026
light_mode

Menakar Alam, Merawat Tanah: Siasat Anyar Adaptasi Iklim Nusa Kecil Maluku

  • calendar_month 16 jam yang lalu
  • visibility 19
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Yayasan SAHARI mendorong nelayan dan petani pulau kecil Maluku beradaptasi dengan perubahan iklim. Sains, Nanaku dan agroekologi menjadi bagian dari siasat ketangguhan di tengah perubahan alam.

Penulis : Jaya Barends-Dekrit Maluku


Ringkasan :

  • SLCN Plus merupakan kolaborasi Yayasan SAHARI bersama BMKG Stasiun Meteorologi Kelas IV Maritim Ambon, didukung Caritas Germany dan BNPB.
  • Hasil kajian mengungkap Kepulauan Banda terdampak ancaman bencana paling besar, mencakup letusan gunung api, gempa bumi dan bencana hidrologi. Ancaman terakhir inilah yang dihadapi nelayan.
  • Selain pelatihan tersebut, Yayasan SAHARI juga menggelar sekolah lapang iklim (SLI) Pertanian.
  • Dalam praktik pertanian juga bisa menggunakan teknik tumpang sari. Sebidang lahan yang sama bisa menanam beraneka tanaman.
  • Bagi para petani, agroekologi bukan sekadar menjaga lingkungan. Tetapi juga siasat menghemat biaya dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia.

Tangan kiri Suaif menggenggam gawai dengan erat, sorot matanya tajam. Ia duduk bersandar di kursi plastik. Sementara jari telunjuk kanannya menunjukkan peta kecepatan angin pada layar.

Staf BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Ambon itu sedang menuntun nelayan memahami grafik di siang yang teduh, awal Juli 2026. Di hadapannya, lima nelayan duduk melingkar dalam kelompok kecil.

Mata mereka terpaku menatap layar ponsel pintar di tangan Suaif. Suara Suaif terdengar lugas. Jemarinya lincah menggulir layar, lalu setop pada peta gelombang Maluku dengan gradasi warna.

“Kalau warna biru menunjukkan laut dalam kondisi tenang, hijau rendah, dan kuning sedang,” urai Suaif.

“Kemudian warna oranye menandakan gelombang tinggi serta merah menerangkan gelombang sangat tinggi.” Suaif menjelaskan seraya merenggangkan ibu jari dan telunjuknya, memperbesar tampilan Kepulauan Banda.

Nelayan mengangguk khusyuk. Di sekeliling, tiga kelompok lain juga mengikuti peragaan serupa. Mereka didampingi rekan Suaif dan staf Yayasan SAHARI.

Sorot mata mereka tajam tanpa berkedip, menyimak paparan fasilitator Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) Plus di Balai Negeri Selamon, Banda Besar, Maluku Tengah, Jumat, 3 Juli 2026.

Pembagian kelompok usai Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Stasiun Meteorologi Maritim Ambon, Hasan, memperkenalkan produk instansinya tentang informasi cuaca maritim, meliputi prediksi peringatan gelombang satu hari hingga tiga hari.     

Selanjutnya prakiraan cuaca wilayah Maluku, cuaca pelabuhan, dan pengukuran skala angin berdasarkan pengaruhnya di darat maupun laut.

“Memperkirakan kecepatan angin berdasarkan efek visual yang terlihat di darat maupun permukaan air. Di laut, ditandai dengan tinggi gelombang dan banyak buih,” jelasnya.

Para nelayan juga diajak membaca data Indonesian Weather Information for Shipping (INAWIS). Kanal ini membantu nelayan menemukan daerah penangkapan (fishing ground) ikan potensial.

“INAWIS terintegrasi dengan situs cuaca dan iklim BMKG. Fiturnya membantu nelayan menemukan lokasi keberadaan ikan secara spesifik dan jenisnya,” papar Hasan.    

SLCN Plus merupakan kolaborasi Yayasan SAHARI bersama BMKG Stasiun Meteorologi Kelas IV Maritim Ambon, didukung Caritas Germany dan BNPB. Sebanyak 20 nelayan asal Negeri Selamon dan Lautang dilibatkan dalam kelas tersebut.

Mengakrabkan Sains, Mengurangi Risiko

Di balairung, nelayan tak sekadar diperkenalkan dengan teknologi. Lebih dari itu, mereka juga diajarkan memetakan risiko keselamatan. Salah satu peserta pelatihan bernama Musliadi.

Pria berbadan gempal ini, ketika melaut mengandalkan Global Positioning System (GPS) untuk merekam fishing ground ikan tuna (Thunnus) di Laut Banda.

Meski telah mengantongi koordinat potensial tuna, ia mengeluhkan dampak perubahan iklim yang menggeser pergantian monsun, mengubah pola curah hujan dan meningkatnya cuaca ekstrem.

Keluhan Musliadi bukan tanpa alasan. Ahli Klimatologi BRIN, Erma Yulihastin (2024), menyebut perubahan iklim meningkatkan cuaca ekstrem di Benua Maritim Indonesia (BMI). Menurutnya, Laut Banda merupakan salah satu wilayah penting untuk pembentukan hujan dan siklon tropis.

Dalam buku Interaksi antara Atmosfer dan Laut Pemicu Cuaca Ekstrem untuk Meningkatkan Akurasi Prediksi Onset Hujan di Pesisir, Erma menulis, “Gelombang yang aktif dan terbentuk di atas Laut Banda-Maluku ini selanjutnya berinteraksi dengan Madden Julian Oscillation (MJO) fase 4 di kawasan timur Indonesia.”

“Interaksi antara Rossby dan MJO inilah yang berperan dalam memberikan dukungan angin timuran (baratan), sehingga vorteks yang terjadi di selatan ekuator dapat terus tumbuh, menguat, dan membesar.”

Interaksi atmosfer itu memperkuat pembentukan cuaca ekstrem di Laut Banda. Bagi nelayan, kondisi ini meningkatkan risiko keselamatan ketika angin kencang dan gelombang tinggi melanda Laut Banda.

Dalam situasi begitu, Musliadi menilai SLCN Plus memberikan kemudahan bagi nelayan untuk mengakses prediksi cuaca maritim dalam waktu nyata.

“Situs BMKG mudah diakses dan sangat membantu sekali mengetahui kondisi cuaca terkini,” ujarnya.

Noni Tuharea, Direktur Program Yayasan SAHARI, menyambut baik kelas SLCN Plus turut membantu nelayan. Ia bilang kegiatan tersebut untuk mengejawantahkan program desa tangguh bencana (Destana) di Maluku.

“Namun, karakteristik Provinsi Maluku ini kan pulau-pulau kecil dan masyarakat banyak tinggal di pesisir,” jelasnya.

“Karena itu, konsep Destana juga harus menjadi konsep membangun pulau kecil tangguh bencana. Yayasan SAHARI sebut sebagai Destana Kepulauan,” tambahnya.

Program Destana Kepulauan diadakan di Desa Soleh dan Tonu Jaya, Pulau Kelang, Seram Bagian Barat; Desa Liang, Waai dan Tial, Pulau Ambon, Maluku Tengah; serta Desa Pulau Ay, Lautang dan Selamon, Kepulauan Banda.

Di desa-desa tersebut, masyarakat lebih dulu memetakan risiko dan ancaman bencana. Staf Yayasan SAHARI selanjutnya mendampingi mereka dan memberikan asesmen.

Hasil kajian mengungkap Kepulauan Banda terdampak ancaman bencana paling besar, mencakup letusan gunung api, gempa bumi dan bencana hidrologi. Ancaman terakhir inilah yang dihadapi nelayan.

“Bencana hidrologi cukup tinggi, dampak dari perubahan iklim memicu cuaca ekstrem, suhu, arus dan pola angin yang berubah tak menentu,” bebernya.

Temuan itu kemudian menjadi dasar digelarnya SLCN Plus untuk memperkuat kapasitas nelayan menghadapi risiko di laut. Dalam kelas, mereka tidak hanya diajarkan membaca produk BMKG, seperti prediksi gelombang tinggi, arus dan lainnya.

“Namun nelayan juga dilatih dan langsung mempraktikkan keselamatan di laut (safety at sea) yang diajarkan pihak Basarnas. Tujuan utamanya, agar nelayan bisa menyelamatkan diri ketika situasi emergensi,” ujar Noni.

“Sebab kecelakaan laut cukup tinggi. Pelatihan ini juga diharapkan dapat mengubah paradigma berpikir masyarakat, terutama nelayan, tentang pentingnya keselamatan,” lanjutnya.

Pernyataan Noni sejalan dengan data Pos SAR Banda periode 2021-2025 yang dinukil Betahita. Selama masa itu, terdapat 31 operasi SAR dengan 207 korban. 182 orang di antaranya selamat, 10 meninggal dunia, dan 13 hilang.

Kecelakaan terjadi di Perairan Pulau Pisang, Run, Laut Banda, Pulau Ai, Pulau Hatta, Pulau Suanggi, serta Pulau Gunung Api Banda.

Melihat tingginya risiko kecelakaan laut, SAHARI berharap masyarakat pulau-pulau kecil semakin tangguh menghadapi bencana. Melalui SLCN Plus, diharapkan dapat melatih kemampuan nelayan beradaptasi terhadap perubahan iklim.

SAHARI juga menfasilitas kerja sama pemerintah negeri dan pihak BMKG agar informasi cuaca dan iklim terdistribusi ke masyarakat. Ditingkat tapak, ada tim kecil yang real time bagikan informasi tersebut.

Manfaat pelatihan telah dirasakan Musliadi. Ia mengaku bahan ajar dalam SLCN Plus mudah dipahami. Sekaligus dijadikan alarm guna menentukan fishing ground potensial sebelum melaut tetapi tidak berisiko terhadap keselamatan.

“Sekarang paham bagaimana memahami prediksi informasi cuaca maritim,” kata Ketua Nelayan Negeri Administrasi Lautang itu.

Beda lagi cerita pengalaman Hamzah Laluntu, 57 tahun. Kini materi SLCN Plus telah dipraktikkan setelah sepekan berlalu. Ketika ditemui di rumahnya, ia baru pulang melaut membawa 30 anak tuna.

Ikan terjerat kail Hamzah di fishing ground yang berjarak 5 mil laut dari pesisir pantai Negeri Selamon, tempatnya bermukim.

Hari itu, Kamis, 9 Juli 2026, angin sedang berembus kencang. Ia pun mengurungkan niat memburu tuna berjarak 20 mil laut di Perairan Laut Pulau Rhun.

“Tadi subuh saya cek di situs BMKG, angin berembus kencang hingga 25 knot dan berpotensi gelombang sedang kisaran 1,25 hingga 2,5 meter,” jelasnya.

Tak kehabisan akal, Hamzah lalu memeriksa kanal INAWIS sambil memperagakan seolah sedang memegang gawai dengan jemarinya yang berkerut. Meski usianya pralansia, ia lihai memanfaatkan teknologi aplikasi cuaca demi mendukung aktivitas melaut.

“Dari hasil prediksi INAWIS bahwa Perairan Selamon lagi potensial tuna, makanya saya memilih pancing di perairan dekat kampung saja,” tambahnya.

Meski mulai mengandalkan informasi cuaca BMKG, Musliadi dan Hamzah, tidak serta-merta meninggalkan pengetahuan leluhur. Sebaliknya, pengetahuan modern menjadi pelengkap bagi Nanaku—tradisi membaca tanda alam dan perilaku hewan—yang diwariskan turun-temurun di Kepulauan Banda.

Meramu Sains dengan Ilmu Leluhur

Fuad Buang, nelayan asal Negeri Selamon, sehari-hari melaut menggunakan jukung di perairan sekitar kampungnya. Sebelum berangkat, ia biasanya memperkirakan pola angin sepekan ke depan menggunakan metode hitungan hari dalam tradisi Nanaku.

Tubuhnya kekar. Wajahnya pun tenang dengan tutur kata yang pelan. Ketika ditemui pada Kamis, 9 Juli 2026, ia mengenakan kaus berkerah, celana panjang. Rambutnya yang disisir klimis berkali-kali diterpa angin.

Ia menoleh ke arah perairan sembari mengangkat tangan kirinya, menunjukkan arus yang mengalir deras. ”Kalau arus kuat ini bertahan hingga Kamis malam, pertanda sepekan kemudian angin berembus kencang disertai arus di laut,” ujarnya.

Nelayan ikan tuna di Kepulauan Banda, Maluku Tengah.(dekrit maluku/M. Jaya Barends)

Metode Nanaku itu baginya bisa dipadukan dengan pengukuran skala angin berdasarkan informasi cuaca dan iklim BMKG.

“Jadi prakiraan angin dari BMKG bisa dipadukan dengan metode perhitungan tradisi Nanaku,” lanjut Fuad.

Cerita Fuad sehaluan dengan praktik pengetahuan tradisional masyarakat Maluku yang diwariskan lintas generasi. Buku Astronomi dan Meteorologi Tradisional di Daerah Provinsi Maluku menyebut Nanaku sebagai petunjuk pergantian musim, pelayaran, hingga penentuan waktu menangkap ikan.

“Pengetahuan (Nanaku) ini, sebagaimana tercermin pada namanya, dialihkan dari generasi ke generasi secara informal, bukan melalui pendidikan formal,” tulis buku tersebut.

Penjelasan Fuad hanya secuil dari kekayaan tradisi Nanaku di negeri di ujung timur Pulau Banda Besar. Menurut penutur adat, nelayan biasanya memantau Gunung Kumber untuk mengetahui cuaca harian.

Kuncibuk, nama lain gunung tersebut jika puncaknya diselimuti kabut tebal pertanda embusan angin landai dan laut pun teduh. Namun bila tidak ada kabut, angin sedang kencang dan laut lagi berombak.

Uniknya lagi dari negeri itu, dapat memantau siklus peralihan monsun dalam setahun. Saat pancaroba monsun barat, matahari terbenam pada sisi kanan di antara Gunung Lewarani dan Tujuh.

Siklus demikian terjadi September, Oktober dan November. Secara  bersamaan juga terjadi air surut di pantai pukul 13.00-18.00 WIT.

Selanjutnya munson barat, dimulai Desember dengan matahari terbenam pada sisi kiri. Air surut otomatis berpindah pukul 05.00-08.00 WIT.

Seperti Fuad, Ketua Nelayan Negeri Administratif Lautang, Musliadi pun berinisiatif memadukan hasil prakiraan cuaca maritim dengan nanaku.

“Misalnya garis awan hitam itu pertanda laut akan berombak. Tanda-alam ini dapat dipadukan dengan peringatan gelombang,” jelasnya.

Pendapat Musliadi turu didukung Ramly Astar, Raja Negeri Administratif Lautang. Ramly mengatakan nelayan maupun petani di kampungnya masih menggunakan Nanaku untuk melaut dan bercocok tanam.

Nanaku khas negerinya berkaitan pengamatan peralihan munson.  Fase munson barat patokannya, kata dia matahari terbit sisi kiri Pulau Hatta. Semenatara munson timur, matahari terbit pada bagian kanan pulau.

Ada pula Nanaku khas lain yang dilihat untuk memantau ombak saat peralihan munson barat ke timur. Nelayan, mengamati pasir di pantai.

“Pasir akan berpindah dari kiri ke kanan akibat dipukul ombak. Selama pasir belum berpindah, tetap masih ada ombak meski sudah masuk Oktober,” ujarnya.

Hasil Nanaku kemudian dianalisis dengan aplikasi prakiraan cuaca dan informasi BMKG. Di darat, petani juga mengembangkan siasat menghadapi perubahan iklim melalui agroekologi.

Merawat Tanah dengan Agroekologi

Benito Kissya selonjoran di lantai basecamp Yayasan SAHARI, meregangkan otot-otot yang pegal. Siang itu, panas menyelimuti Negeri Administrasi Boiyauw, Kepulauan Banda, Maluku Tengah. Embusan angin sepoi dari laut hanya sedikit meredakan gerah.

Kelopak mata praktisi agroekologi itu nyaris terpejam, Sabtu, 11 Juli 2026. Lelaki berpenampilan trendi ini baru hendak memejamkan mata ketika Siska Putri Kulalean, staf Yayasan SAHARI, datang menghampirinya.

“Om Ben, tolong cek grup monitoring WhatsApp do,” celetuknya.

Siska lalu menunjukkan unggahan Mina, seorang petani perempuan asal Desa Soleh, Pulau Kelang, Seram Bagian Barat, dari gawainya. Dalam unggahan itu, terlihat perkembangan tanaman cabai seledri yang ditanam menggunakan pupuk organik tumbuh subur.

Benito mengangguk pelan, tanda setuju. “Iya, nanti beta (saya) cek, nona.”

Pria 45 tahun itu lalu membuka aplikasi perpesanan dan memperlihatkan foto yang dibagikan itu kepada jurnalis PotretMaluku. Terlihat cabai dan seledri setinggi dua jari kelingking di media tanam berupa karung dan kemasan air mineral.

Selain Mina, ada pula ibu-ibu lain dari Desa Sole dan Tonu Jaya yang mengunggah foto perkembangan tanaman mereka. Tumbuhan ini berjejer di pekarangan depan rumah, sisi kiri dan kanan.

Sementara itu, Benito langsung mempraktikkan cara menanam ramah lingkungan di lahan para petani pria. Mayoritas tanaman yang dibudidayakan, di antaranya kunyit dan jagung.

Pendampingan pun tidak berhenti pada praktik di lahan. “Melalui grup saya melakukan pemantauan, berdiskusi dan berbagi ilmu dengan para petani apabila terdapat kendala,” katanya.

Sebelumnya, pada 19 Juni 2026, Yayasan SAHARI menggelar pelatihan bagi petani di Desa Soleh dan Tonu Jaya. Setelah pelatihan ini, dibuat grup monitoring agar Benito mudah berinteraksi dengan para petani.

Selain pelatihan tersebut, Yayasan SAHARI juga menggelar sekolah lapang iklim (SLI) Pertanian yang bekerja sama dengan BMKG Stasiun Klimatologi Maluku.  Dalam kelas, staf BMKG mengajarkan petani pemanfaatan informasi iklim, meliputi curah hujan, pola musim, dan prakiraan cuaca untuk membantu mereka menentukan kalender tanam di tengah perubahan iklim.

Informasi mengenai iklim kemudian diteruskan ke tingkat desa. Yayasan SAHARI memfasilitasi pemerintah desa bekerja sama dengan BMKG agar informasi iklim dapat terdistribusi ke desa.

Pelatihan dan sekolah serupa juga digelar di Desa Pulau Ay dan Lautang, Kepulauan Banda serta Desa Waai dan Tial, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.

Dua hari sebelum bertemu Benito, tepatnya Kamis, 9 Juli 2026, jurnalis PotretMaluku mengikuti SLI Pertanian di Desa Lautang.

Kala itu, Astiani Syawreta, prakirawan cuaca BMKG Stasiun Klimatologi Maluku memaparkan produk dari  instansinya mengenai iklim dan cuaca di pulau kecil dan pesisir. Petani kemudian diajak membaca peta analisa sifat hujan Mei 2026 di Maluku.

Para petani tampak khusyuk mendengarkan penjelasan. Tatapan mereka fokus ke arah slide materi yang terpasang pada dinding sambil menyimak suara Astiani.

”Pada Mei 2026, umumnya Maluku mengalami sifat hujan kategori bawah hujan sampai dengan atas normal,” jelasnya. Astiani lalu mengajak petani membaca peta iklim, di antaranya membaca prediksi curah hujan bulanan Juli hingga Desember, zona musim (ZOM), analisis perkembangan musim dan prediksi puncak musim kemarau.

Dia menyebutkan materi yang diberikan ini diharapkan dapat dipakai petani untuk penentuan kalender tanam. Sebab baginya perubahan iklim mengakibatkan berubahnya kondisi lingkungan dan dampaknya terhadap kurang optimalnya pertumbuhan tanaman.

Kondisi ini berpengaruh terhadap siklus hidup OPT karena suhu tinggi mempercepat siklus hidup.

“Jadi petani bisa menentukan tanaman sesuai dengan kondisi iklim. Misalnya, tanaman apa yang tepat sesuai dengan kondisi iklim (saat musim penghujanan dan kemarau),” ujarnya lagi.

Sementara itu, Noni Tuharea, Direktur Program Yayasan SAHARI mengatakan SLI Pertanian itu dijadwalkan digelar Juni-Juli termasuk SLCN Plus. Sebab pada Agustus, para petani di lokasi program tengah  menyiapkan lahan dan bibit, lalu September melakukan penanaman.

Namun pada 2026, di bulan-bulan itu diprediksi diterjang El Nino yang mengakibatkan musim kemarau lebih kering dan lebih panjang dari biasanya. Mengutip laman bmkg.go.id, disebut fenomena tersebut bertahan setidaknya hingga kuartal pertama 2027 dengan puncak intensitas melebihi kategori kuat.

Melalui SLI Pertanian diharapkan dapat memperkuat ketangguhan petani beradaptasi di tengah perubahan iklim. Diharapkan juga membangun kemandirian petani dalam menyediakan pangan rumah tangga.

“Mulai dari hal yang paling kecil di rumah tangga dulu. Lalu yang terakhir adalah bagaimana memastikan masyarakat di pesisir dan pulau kecil ini memiliki atau bisa akses informasi cuaca dan iklim,” harapnya.

Noni melanjutkan setelah petani memahami dan piawai membaca informasi dari BMKG itu kemudian dilanjutkan pelatihan pertanian agroekologi serta praktik di lahan.

Di perbukitan Desa Lautang, di hadapan petani, Benito berdiri menjelaskan. Sisi kiri, kanan dan depan bangunan kayu  yang dipakai dengan lebar 4 meter dan 12 meter ini, tumbuh subur sayur-mayur, umbi-umbian dan pohon pala.

Alumni OISCA Sukabumi Training Center, Cimenteng, Jawa Barat tahun 1999 itu, tampak piawai. Ilmu pupuk bokashi (pupuk organik hasil fermentasi khas Jepang) yang ia peroleh selama training 1 tahun 3 bulan semuanya diajarkan ke petani.

Namun sebelum memasuki tahapan tersebut, ia mengawali dengan metode pembukaan lahan ramah lingkungan tanpa membakar. ”Jadi semak belukar dan rumput dari pembukaan lahan jangan dibakar tetapi dibiarkan kering lalu tanah digarap untuk membuat bedengan tanaman,” jelasnya.

Bedengan pun bisa disesuaikan dengan iklim, kalau musim penghujanan sebaiknya bedengan harus tinggi. Sedangkan musim kemarau lebih rendah.

Suasana SLI Pertanian yang berlangsung di Desa Lautang, Kabupaten Maluku Tengah.(dekrit maluku/M. Jaya Barends)

Benito mengatakan bedengan yang ditanam bibit kemudian ditutup dengan mulsa organik, seperti alang-alang dan serbuk gergaji.

“Jadi bahan ini efektif untuk menjaga kelembapan tanah, menekan pertumbuhan gulma dan menjaga suhu tanah tetap stabil,” jelasnya.

Dalam praktik pertanian juga bisa menggunakan teknik tumpang sari. Sebidang lahan yang sama bisa menanam beraneka tanaman.

”Teknik ini mengurangi pembukaan hutan dan penebangan pohon untuk lahan pertanian baru, apalagi di tengah perubahan iklim saat ini.”

Benito kemudian bersama para petani mempraktikkan pembuatan pupuk NPK cair organik, pestisida dan M4 dengan bahan-bahan organik. Misalnya dari buah-buahan, air kelapa, gula, daun kelor, batang pisang, sisa sayuran dan jenis tumbuhan lainnya.

Pupuk NPK cair itu kemudian dipakai untuk menanam bawang di salah satu lahan milik petani. ”Karena kondisi lagi musim panas, makanya kita memulai dulu dengan tanam bawang,” jelasnya.

Penggunaan pupuk organik, baginya untuk menjaga unsur hara tanah tetap stabil dan menjaga kesehatan lingkungan untuk pertanian berkelanjutan.

Apa yang diajarkan Benito  bukan hanya soal cara menanam. Di baliknya ada upaya mengubah cara petani memperlakukan tanah: dari sekadar tempat tumbuh tanaman menjadi bagian penting yang harus dirawat

Bagi para petani, agroekologi bukan sekadar menjaga lingkungan. Tetapi juga siasat menghemat biaya dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar mereka.

 

 

 

  • Penulis: Jaya Barens

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Disebut Cumbui Istri Anggota TNI, Hidayat : Semua Tidak Benar, Saya Hanya Berteman 

    Disebut Cumbui Istri Anggota TNI, Hidayat : Semua Tidak Benar, Saya Hanya Berteman 

    • calendar_month Kamis, 12 Jun 2025
    • visibility 995
    • 0Komentar

    AMBON-DM : Babinsa yang istrinya diduga selingkuhan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Maluku Tengah Hidayat Samalehu telah melaporkan seluruh kejadian kepada Partai Demokrat.  Dalam laporannya yang ditulis tangan, QA membeberkan beberapa peristiwa malam itu, mulai dari Cafe Sianida di Pantai Ina Marina Masohi, hingga dibuatkan laporan polisi.  Serta adanya pengakuan Hidayat. Seperti, berpegang tangan, […]

  • Itanem Ambon Sambut Hangat Kedatangan Kafilah MTQ Malra di Ambon

    Itanem Ambon Sambut Hangat Kedatangan Kafilah MTQ Malra di Ambon

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • visibility 114
    • 0Komentar

      AMBON.-DEMAL ; Kontingen Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Kabupaten Maluku Tenggara mendapat sambutan hangat dari keluarga besar Ikatan Keluarga Evav (Itanem) setibanya di Kota Ambon, Provinsi Maluku, untuk mengikuti MTQ XXXI Tingkat Provinsi Maluku Tahun 2026, Sabtu 20 Juni 2026. Penyambutan berlangsung di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon dan dipimpin langsung Ketua Pengurus Harian Itanem Ambon, […]

  • Perang Lawan Inflasi, Maluku Tabur 100 Ribu Bibit Cabai Sekaligus

    Perang Lawan Inflasi, Maluku Tabur 100 Ribu Bibit Cabai Sekaligus

    • calendar_month Kamis, 14 Agt 2025
    • visibility 388
    • 0Komentar

    AMBON-DM : Pemerintah Provinsi Maluku menggelar Gerakan Tanam Cabai Serempak bersama 11 kabupaten/kota, dengan target menanam 100 ribu anakan cabai di lahan seluas 1,5 hektare. Kegiatan ini dipusatkan di Dusun Telaga Kodok, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah, dan dipimpin langsung oleh Gubernur Hendrik Lewerissa, terhubung daring ke seluruh daerah di Maluku. Rabu,13 Agustus 2025. Langkah ini […]

  • Sinergi BUMN di Ujung Timur: BBM Lancar, UMKM Papua Berkibar

    Sinergi BUMN di Ujung Timur: BBM Lancar, UMKM Papua Berkibar

    • calendar_month Jumat, 15 Agt 2025
    • visibility 561
    • 0Komentar

    PAPUA-DM : PT Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku dan PT Bank Mandiri Wilayah Papua sepakat menjalin kerja sama strategis guna mendukung kelancaran distribusi energi sekaligus pemberdayaan UMKM di Tanah Papua. Pertemuan yang berlangsung di Kantor Region Pertamina Papua Maluku, Rabu (13/8) lalu, mempertemukan Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku, Isfahani, dan […]

  • The Policy Shift That Could Radically Change the Housing Crisis

    The Policy Shift That Could Radically Change the Housing Crisis

    • calendar_month Kamis, 9 Jan 2025
    • visibility 332
    • 0Komentar

    Maecenas dignissim, ex nec varius laoreet, mauris nibh cursus velit, vel sagittis leo velit vel quam. Quisque eu eros in felis luctus posuere nec id ipsum. Vivamus ullamcorper orci a mi pharetra finibus ac ut nunc. Morbi porta, mauris sit amet consequat mattis, nunc sapien sodales nulla, ut maximus mi mi sed magna. Ut congue […]

  • Awasi Implementasi UU ASN, Senator Bisri Datangi BKD Maluku

    Awasi Implementasi UU ASN, Senator Bisri Datangi BKD Maluku

    • calendar_month Jumat, 17 Okt 2025
    • visibility 274
    • 0Komentar

    AMBON.-DM; Pemerintah Provinsi Maluku sedang menyiapkan proses pelantikan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu yang direncakan akan berlangsung awal bulan depan. “Jumlah PPPK Paruh Waktu yang akan dilantik 2980 orang, tapi lebih banyak disektor pendidikan, kurang lebih 1400 orang merupakan guru,” demikian pernyataan Plt. Kepala BKD Provinsi Maluku Ritche Huwae kepada Anggota Komite […]

expand_less