Strategi Dirut Poltekpar Makassar Bawa Wisata Bahari Banda ke Panggung Internasional
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 27
- comment 0 komentar

AMBON.-DEMAL ; Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Makassar menobatkan Banda Naira sebagai ‘Kilometer Nol’ pengembangan wisata bahari Indonesia. Langkah strategis ini bertujuan menyulap gugusan pulau bersejarah di Maluku ini menjadi etalase pariwisata maritim dunia yang memadukan kekayaan ekologi dengan jejak peradaban jalur rempah.
Direktur Poltekpar Makassar Dr. Herry Rachmat Widjaja, S.Sos., MM.Par., CHE. memandang pariwisata Banda bukan hanya industri perjalanan, melainkan jalan peradaban bangsa menuju kemajuan maritim global.
Di tangannya, Poltekpar Makassar akan hadir bukan hanya untuk mencetak tenaga kerja pariwisata, tetapi melahirkan generasi pelopor yang memahami bahwa laut Indonesia adalah kitab besar kebudayaan, ekonomi, dan masa depan bangsa.
Sebab dalam pandangannya, wisata bahari Banda bukan hanya tentang panorama biru, melainkan tentang diplomasi budaya, konservasi ekologi, penguatan ekonomi masyarakat adat, serta pembangunan identitas Indonesia sebagai poros maritim dunia.
“Karena itulah, Banda Naira dipilih bukan tanpa alasan. Banda bukan sekadar titik geografis di timur Indonesia, melainkan simpul sejarah dunia yang pernah menggerakkan peradaban global melalui rempah-rempah,” kata Dr. Herry Rachmat Widjaja dalam rilis yang diterima redaksi. Senin, 11 Mei 2026.

Dr. Herry Rachmat Widjaja menggarisbawahi, kehadiran Poltekpar di Banda berdiri di atas tiga fondasi besar yang bersifat visioner dan strategis.
Pertama, Banda adalah warisan pariwisata dunia yang memiliki destinasi wisata terpadu. Laut Banda dikenal sebagai salah satu kawasan wisata bahari terluas dan terdalam di Indonesia, sebuah bentang samudra yang menyimpan kekayaan biota laut kelas dunia, taman bawah laut yang memesona, serta lanskap geopark maritim yang nyaris tak tertandingi.
“Banda bukan hanya destinasi wisata, tetapi laboratorium hidup peradaban laut Nusantara. Di sanalah terumbu karang tumbuh seperti taman surgawi, dan di sanalah dunia belajar bahwa laut Indonesia bukan sekadar ruang geografis, tetapi ruang spiritual kemaritiman,” urainya.
Kedua, Banda adalah pusat wisata sejarah proklamator. Jejak pengasingan para tokoh bangsa menjadikan Banda sebagai museum hidup perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan.
“Di tanah ini, sejarah tidak hanya dibaca di lembar buku, tetapi berdenyut di benteng tua, loronglorong kolonial, dan rumah-rumah yang menyimpan jejak pemikiran besar para pendiri bangsa. Banda menjadi ruang dialog antara sejarah dan masa depan, antara memori nasional dan kebangkitan pariwisata budaya Indonesia,” tambahnya lagi.
Ketiga, Banda merupakan destinasi jalur rempah-rempah dunia. Dari pulau kecil inilah menurut Rachmat Widjaja aroma pala dan cengkih pernah mengubah arah perdagangan internasional.
“Banda adalah titik temu bangsa-bangsa dunia, pusat geopolitik rempah yang pernah menjadikan Nusantara sebagai jantung perdagangan global. Maka, membangun Banda berarti membangkitkan kembali jalur peradaban dunia yang pernah hilang dalam kabut kolonialisme,” tegasnya.
Atas dasar itulah, Direktur Politeknik Pariwisata Makassar kemudian menempatkan Banda sebagai kilometer nol pengembangan wisata bahari terbaik di Indonesia. Sebuah titik awal untuk membangun peta baru pariwisata nasional yang berbasis laut, sejarah, budaya, dan ekologi.
“Saya bangga hadir di Banda,” demikian spirit kepemimpinannya bergema, “karena Banda bukan hanya destinasi wisata, melainkan pusat pengukuran masa depan pariwisata bahari dunia. Di sinilah kita mengukur sekaligus mengukir kembali peta destinasi wisata maritim internasional.” Pernyataan itu bukan retorika kosong.
Berdasarkan berbagai data dan kajian, Banda telah berkembang menjadi pusat riset destinasi wisata biota laut, sekaligus kawasan riset ekoteologi dunia—sebuah pendekatan yang mempertemukan ekologi, spiritualitas, dan keberlanjutan peradaban maritim.
Laut Banda tidak lagi dipandang semata-mata sebagai objek eksploitasi wisata, tetapi sebagai ruang suci yang harus dijaga keberlangsungannya demi generasi mendatang. Melalui program-program strategisnya, Politeknik Pariwisata Makassar menyentuh langsung kawasan ekonomi wisata bahari terluas dan terdalam di Indonesia.
Kehadiran mahasiswa, dosen, peneliti, dan praktisi pariwisata di Banda juga menjadi denyut baru pembangunan kawasan 3T—tertinggal, terdepan, dan terluar—yang selama ini sering dipandang dari pinggiran pembangunan nasional. Padahal sesungguhnya, dari wilayah-wilayah inilah Indonesia menemukan wajah asli kemaritiman dan kekuatan geopolitiknya.
Selain itu, Banda juga telah berkembang menjadi pusat magang MBKM yang membuka cakrawala baru bagi mahasiswa Poltekpar Makassar.
Para mahasiswa tidak hanya belajar teori pariwisata di ruang kelas, tetapi turun langsung membaca denyut masyarakat pesisir, memahami budaya maritim, meneliti ekosistem laut, serta membangun model wisata berkelanjutan berbasis komunitas.
Di Banda, pendidikan berubah menjadi pengalaman hidup; pengetahuan bertemu realitas; dan kampus menjelma menjadi jalan tol pembangunan wisata bahari tingkat internasional.
Direktur Poltekpar Makassar memahami bahwa masa depan Indonesia tidak cukup dibangun dari kota-kota besar saja. Masa depan Indonesia juga tumbuh dari pulau-pulau kecil yang menyimpan kekayaan budaya dan laut yang luar biasa.
Karena itu, Banda dijadikan pusat pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat berbasis perspektif 3T. Sebuah langkah besar untuk membuka lahan baru pembangunan pariwisata Indonesia yang lebih adil, berkelanjutan, dan berakar pada identitas maritim Nusantara. (*)

Saat ini belum ada komentar