Selasa, 28 Jul 2026
light_mode

Bahaya Membangun Peradaban Kecemasan

  • calendar_month Ming, 25 Jan 2026
  • visibility 308
  • comment 0 komentar

Jika pembangunan hanya melahirkan kecemasan, maka yang kita bangun bukan peradaban, melainkan jebakan kolektif.


Prof. Dr. Idrus Alhamid, S.Ag, M.Si

Ketua Umum IKA UIN Amsa


KITA hidup di zaman ketika manusia dipaksa menjadi “yang terbaik” setiap saat. Pendidikan, karier, bahkan relasi sosial berubah menjadi arena kompetisi tanpa jeda. Namun di balik slogan kemajuan itu, lahirlah satu penyakit peradaban yang jarang disadari: kecemasan kolektif.

Ketika hidup direduksi pada urusan sandang, pangan, dan papan, manusia modern terjebak dalam logika kapitalistik yang kejam. Modal diposisikan sebagai satu-satunya penawar rasa cemas. Siapa yang punya modal dianggap aman, siapa yang tidak—dibiarkan gelisah dan terpinggirkan. Inilah fondasi rapuh dari apa yang layak disebut Peradaban Kecemasan.

Peradaban ini ditandai oleh stres kronis, ketakutan berlebihan terhadap masa depan, dan obsesi akan keamanan ekonomi. Teknologi yang seharusnya membebaskan justru mempercepat tekanan hidup. Media sosial memamerkan kesuksesan semu, sementara realitas sosial dipenuhi ketimpangan dan ketidakpastian. Manusia dipaksa tersenyum di layar, tetapi gelisah dalam kenyataan.

Bahaya terbesar peradaban kecemasan bukan hanya pada kesehatan mental individu, melainkan pada runtuhnya solidaritas sosial. Ketika kecemasan menjadi norma, empati menjadi barang langka. Relasi manusia berubah menjadi transaksional, penuh kecurigaan, dan kehilangan kehangatan kolektif. Kita hidup berdekatan, tetapi semakin terasing satu sama lain.

Mitigasi atas krisis ini tidak cukup dengan seminar motivasi atau terapi individual. Yang dibutuhkan adalah koreksi arah peradaban. Kebersamaan antara pelaku ekonomi dan pemilik modal harus dibangun kembali dalam semangat gotong royong, bukan eksploitasi. Karya kolektif, keadilan distribusi, dan ruang partisipasi sosial adalah obat paling masuk akal untuk mereduksi kecemasan komunal.

Kita pernah merasakan kehidupan yang lebih tenang, terutama di desa-desa, ketika manusia hidup selaras dengan alam. Reboisasi dan perawatan lingkungan bukan sekadar proyek ekologis, melainkan cara menjaga kesehatan batin peradaban. Alam yang lestari menenangkan manusia; manusia yang tenang tidak rakus pada alam.

Jika pembangunan hanya melahirkan kecemasan, maka yang kita bangun bukan peradaban, melainkan jebakan kolektif. Kemajuan sejati bukan soal seberapa cepat kita berlari, melainkan seberapa manusiawi kita hidup bersama.(*)

Papua, 25 Januari 2026

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Produk Olahan Ibu Pesisir Siap Dukung Program MBG di Malra

    Produk Olahan Ibu Pesisir Siap Dukung Program MBG di Malra

    • calendar_month Sen, 20 Okt 2025
    • visibility 218
    • 0Komentar

    LANGGUR.-DEMAL; Melalui pelatihan khusus, perempuan pesisir di Kabupaten Maluku Tenggara didorong menjadi pilar penggerak ekonomi lokal melalui pengolahan hasil laut bernilai tambah. Para ibu-ibu itu dibekali kemampuan untuk mengubah hasil tangkapan menjadi produk olahan berkualitas yang memenuhi standar program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Wakil Bupati (Wabup) Maluku Tenggara, Charlos Viali Rahantoknam bahkan menegaskan komitmennya untuk […]

  • Babinsa Bawa Bukti Dugaan Perselingkuhan Hidayat Ke DPD Demokrat Maluku

    Babinsa Bawa Bukti Dugaan Perselingkuhan Hidayat Ke DPD Demokrat Maluku

    • calendar_month Sel, 10 Jun 2025
    • visibility 3.637
    • 0Komentar

    AMBON-DM : Kasus dugaan perselingkuhan Hidayat Simelahu  oknum anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Maluku Tengah dengan istri Serda QA salah satu prajurit TNI masuk babak baru. Setelah dilaporkan ke Polres Maluku Tengah, Serda QA anggota TNI yang kini bertugas sebagai Babinsa resmi melaporkan Hidayat Simalehu ke Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Demokrat Maluku. Selasa, […]

  • Pemkab Aru Komitmen Percepat Turunkan Angka Stunting

    Pemkab Aru Komitmen Percepat Turunkan Angka Stunting

    • calendar_month Sel, 3 Mar 2026
    • visibility 194
    • 0Komentar

    DOBO.-DEMAL; Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru, terus memperkuat langkah untuk percepatan penurunan stunting dengan menggandeng Badan Gizi Nasional (BGN) dan BKKBN Provinsi Maluku. Kolaborasi ini diwujudkan melalui kegiatan intervensi gizi yang berlangsung di Dusun Belakang Wamar, Desa Durjela, Kelurahan Siwalima, Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Selasa 3 Maret 2026. Kerja sama ini difokuskan pada peningkatan kualitas gizi bagi […]

  • Bertemu Walikota Ambon, HMI Serahkan Kajian Pemekaran Desa Kebun Cengkih dan Air Besar

    Bertemu Walikota Ambon, HMI Serahkan Kajian Pemekaran Desa Kebun Cengkih dan Air Besar

    • calendar_month Rab, 30 Apr 2025
    • visibility 377
    • 0Komentar

    DM-AMBON – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ambon mendorong pemerintah Kota Ambon untuk dapat memekarkan Desa Adminitratif Kebun Cengkeh dan Desa Adminitratif Air Besar.  Dokumen hasil kajian dua desa adminitratif tersebut bahkan sudah diserahkan kepada Walikota Ambon, dalam pertemuan di kantor Walikota Ambon, Senin kemarin.  “Pemekaran ini merupakan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan pelayanan publik, mengatasi […]

  • Panca Karya Bantah Terjadi Pungli di Lintasan Hunimua-Waipirit

    Panca Karya Bantah Terjadi Pungli di Lintasan Hunimua-Waipirit

    • calendar_month Rab, 17 Jun 2026
    • visibility 96
    • 0Komentar

    AMBON,-DEMAL ; Direktur PD.Panca Karya M.Rany Tualeka menegaskan jika tarif untuk tiket di tiap kelas yang dipatok PD.Panca Karya pada lintasan Hunimua-Waipirit sudah sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. “Tidak ada pungutan liar atau biaya lain-lain untuk penumpang kelas ekonomi. Harga tiket itu sudah sesuai dengan peraturan, dan tiket dibeli melalui aplikasi online,” tegas Tualeka […]

expand_less