Mendikdasmen RI Tekankan Pentingnya Konsep Well-being Sejak Dini
- calendar_month Kam, 23 Okt 2025
- visibility 185
- comment 0 komentar

Mendikdasmen RI, Abdul Mu’ti foto bersama Bupati Malra dan jajarannya.
LANGGUR.-DEMAL ; Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Mendikdasmen RI), Abdul Mu’ti, menegaskan pentingnya penerapan konsep well-being dalam sistem pendidikan nasional untuk mewujudkan kesejahteraan menyeluruh, baik secara jasmani, rohani, maupun sosial.
“Kesejahteraan spiritual harus menjadi fondasi utama agar manusia tidak kehilangan makna hidup di tengah kemajuan material,” kata Abdul Mu’ti dalam kunjungan kerjanya di Kabupaten Maluku Tenggara, Kamis 23 Oktober 2025.
Menurut Abdul Mu’ti, kesejahteraan sejati tidak dapat diukur semata dari aspek ekonomi atau material. Ia menekankan bahwa kesejahteraan spiritual harus menjadi fondasi utama dalam membentuk manusia yang utuh dan berkarakter.
Selain itu, Mendikdasmen juga menyoroti fenomena di sejumlah negara maju yang, meski mencapai kemakmuran ekonomi, justru mengalami kekosongan spiritual.
Hal ini menjadi peringatan penting bagi dunia pendidikan Indonesia agar tidak mengabaikan dimensi moral dan spiritual.
“Pendidikan Indonesia harus menanamkan nilai-nilai moral, keimanan, dan tanggung jawab sosial agar generasi muda tumbuh seimbang dan berkarakter,” jelasnya.
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa penerapan well-being tidak boleh berhenti sebagai konsep teoretis, melainkan harus diwujudkan secara nyata dalam kurikulum dan proses pembelajaran di sekolah.
“Kesejahteraan sejati adalah kebahagiaan di dunia sekaligus di akhirat, sebagaimana doa Rabbana atina fi dunya hasanah wa fil akhirati hasanah,” tuturnya.
Ia juga menyoroti tantangan serius yang dihadapi generasi muda Indonesia saat ini, khususnya terkait kesehatan mental dan spiritual. Fenomena global menunjukkan banyak anak muda yang secara fisik tampak sehat, tetapi mengalami kerentanan mental dan emosional.
“Generasi muda kita menghadapi berbagai tekanan sosial, intelektual, dan spiritual yang diperparah oleh penggunaan teknologi digital secara berlebihan,” tegasnya.
Abdul Mu’ti bahkan menyebut istilah “generasi strawberry” dan “MCS generation” (Mildly Concerned and Stressed Generation) untuk menggambarkan kelompok muda yang mudah cemas, stres, dan kurang memiliki daya tahan mental.
Ia mengutip hasil penelitian UNICEF dan WHO yang mengungkapkan dampak negatif penggunaan gawai secara berlebihan, termasuk fenomena brain rot, penurunan kemampuan konsentrasi, dan lemahnya kesiapan menghadapi tantangan hidup.
Sebagai langkah konkret, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus memperkuat sarana dan prasarana sekolah, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memperkuat pendidikan karakter agar peserta didik memiliki daya tahan spiritual dan moral yang kuat.
“Pendidikan harus membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, mandiri, dan memiliki tanggung jawab sosial,” ujarnya.
Abdul Mu’ti menegaskan kembali bahwa tujuan pendidikan nasional, sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 Pasal 31 Ayat 3, adalah membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga sehat jasmani dan rohani, demokratis, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global.
“Generasi muda yang seimbang antara jasmani, rohani, dan sosial akan menjadi pilar utama menuju Indonesia yang berkelanjutan dan berkarakter,” tutup Mendikdasmen.(*)
Editor : Abd Karim

Saat ini belum ada komentar